Sabtu, 04 Februari 2017

Ngeseks Dengan Om Demi Menjadikan Namaku Terkenal

Onebetqq.com Agen Bandar Poker | Bandar Poker | Bandar Poker Online | Domino 99 | BandarQ Terpercaya
Aku, seorang model Junior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal.

Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama.

Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi2 sekali, pada hari yang telah ditentukan, om andi menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Joko, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira2 seumuran denganku. Tugas Joko adalah membantu om Andi pada sesi pemotretan.

Mempersiapkan peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Om Andi sangat profesional mengatur pemotretan, mula2 dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar.

Bajunya dengan potongan dada yang rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan2 mau meloncat keluar. Joko terlihat menelan air liurnya melihat toketku yang montok.

Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kontolnya, itu membuat aku jadi blingsatan sendiri.

Setelah itu, om Andi mengajakku melihat hasil pemotretan di laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke 2, dia minta aku mengenakan lingeri yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan2 telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis.

Jokopun kayanya gak bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kon tolnya sudah ngaceng sekeras2nya. Om Andi mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam2 gaya tersebut. Tengkurap, telentang, ngangkang dan macem2 pose yang seksi2. Kembali om Joko memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya.

Sekarang sekitar jam 12 siang, om Andi minta Joko untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Om Andi memberiku bikini yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu2 segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi pemotretan yang padat dan angin sepoi2, aku tertidur.

Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat om Andi sedang menggerayangi tubuhku.

“Nes, kamu seksi sekali, om jadi napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngentotin Ines, boleh gak Nes. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional”, katanya.
Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point.

“Ines sih mau aja om, tapi nanti Joko kalo dateng
gimana”, tanyaku.

Om Andi segera meremas2 toketku begitu mendengar bahwa aku gak keberatan dientot.
“Kamu kan udah sering dientot kan Nes, nanti kalo Joko mau kita main ber 3 aja, asik kan kamunya”, katanya sambil tersenyum.

Aku diam saja, om Andi berbaring di dipan disebelahku. Segera aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas. Tangannya tetap aktif meremas2 toketku, malah kemudian mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia semakin bernapsu meremas toketku.

“Nes, toket kamu besar dan kenceng, kamu udah napsu ya Nes. Mana pentilnya gede keras begini, pasti sering diisep ya Nes”.

Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku, sementara aku meraih kontolnya serta kukocok hingga kurasakan kontol itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-gosok nonokku dari luar.

“Eenghh.. terus om.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut om Andi yang sedang mengisap toketku.

Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di puserku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk nonokku dari samping cd bikini ku. Aku sampai meremas-remas toket dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan nonokku mengeluarkan cairan hangat.

Dengan merem melek aku menjambak rambut om Andi. Segera tangannya pun mengurai pengikat cd bikiniku sehingga aku sudah telanjang bulat terbaring dihadapannya, siap untuk digarap sepuasnya. Dia segera menyeruput nonokku sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah om Andi melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.

“Jembut kamu lebat ya Nes, pasti napsu kamu besar. Kamu gak puas kan kalo cuma dientot satu ronde”, katanya.

Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap.

Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku sampai wajahku basah oleh liurnya.
“Ines ga tahan lagi om, Ines emut kontol om ya” kataku. Om Andi langsung bangkit dan berdiri di sampingku, melepaskan semua yang nempel dibadannya dan menyodorkan kontolnya.

kontolnya sudah keras sekali, besar dan panjang. Tipe kontol yang menjadi kegemaranku. Masih dalam posisi berbaring di dipan, kugenggam kontolnya, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.

Mulutku terisi penuh oleh kontolnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala kontolnya, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga om Andi bergetar dan mendesah-desah keenakan.

Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
“Eemmpp..nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya.

Kepala kontol itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan pejunya itu, tapi karena banyaknya pejunya meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar kontolnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku.

Kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa peju yang
menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu pager terbuka dan Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil.

“Jok, mau ikutan gak”, tanya om Andi sambil tersenyum.

“Kita makan dulu ya”. Segera kita menyantap makanan yang dibawa Joko
sampai habis.

Sambil makan, kulihat jakunnya Joko turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke toketku. Aku mengelus-elus kontolnya dari luar celananya, membuatnya terangsang
Akhirnya Joko mulai berani memegang toketku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.

“Nes, toketnya gede juga ya.. enaknya diapain ya”, katanya sambil terus meremasi toketku.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka pakaiannya. Nampaklah kontolnya cukup besar, walaupun tidak sebesar kontol om Andi, tapi kelihatannya lebih panjang. Kugenggam kontolnya, kurasakan kontolnya bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan kontolnya ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga Joko mengerang keenakan.

“Enak, Jok”, tanya om Andi yang memperhatikan Joko agak grogi menikmati emutanku.
Om Andi lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kontolnya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua kontol yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian om Andi pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku.

Aku mulai merasakan kontolnya menyeruak masuk ke dalam nonokku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci kontolnya memasuki nonokku. Aku dientotnya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada toketku. Aku menggelinjang tak karuan waktu pentil kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada kontol Joko makin bersemangat.

Rupanya aku telah membuat Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang ngentot. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja dientot dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan kontol yang lain makin menghujam ke tubuhku. kontol Om Andi menyentuh bagian terdalam dari nonokku dan ketika kontol Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan toket atau meremasi pantatku.

Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh kontol Joko. Bersamaan dengan itu pula entotan Om Andi terasa makin bertenaga. Kami pun nyampe bersamaan, aku dapat merasakan pejunya yang menyembur deras di dalamku, kemudian meleleh keluar lewat selangkanganku.

Setelah nyampe, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.
“Nes, aku pengen ngen totin nonok kamu juga”, kata Joko.

Aku cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi,
“Tapi Ines istirahat aja dulu, kayanya masih cape deh”. Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, om Andi duduk di sebelah kiriku dan Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya.

“Nes, aku masukin sekarang aja ya, udah ga tahan daritadi belum rasain nonok kamu” kata Joko mengambil posisi berlutut di depanku.

Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala,dia mengarahkan kontolnya yang panjang dan keras itu ke nonokku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir nonokku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas kontol om andi yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.

“Aahh.. Jok, cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat dia mulai menekan masuk kontolnya. Kini nonokku telah terisi oleh kontolnya yang keras dan panjang itu, yang lalu digerakkan keluar masuk nonokku.

“Wah.. seret banget nonok kamu Nes”, erangnya.
Setelah 15 menit dia gen tot aku dalam posisi itu, dia melepas kontolnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke kontolnya. Dengan refleks akupun menggenggam kontol itu sambil menurunkan tubuhku hingga kontolnya amblas ke dalam nonokku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami.

Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua toketku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Joko
memperhatikan kontolnya sedang keluar masuk di nonokku.

Goyangan kami terhenti sejenak ketika om Andi tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan toketku makin tertekan ke wajah Joko. om Andi membuka pantatku dan mengarahkan kontolnya ke sana.

“Aduuh.. pelan-pelan om, sakit ” rintihku waktu dia
mendorong masuk kontolnya.

Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua kontol kontol besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika om Andi menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, om Andi malah makin buas menggentotku.

Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut. Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Joko.

Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah
lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, pentilku disedot kuat-kuat oleh Joko, dan om Andi menjambak rambutku. Aku lalu merasakan peju hangat menyembur di dalam nonok dan pantatku, di air nampak sedikit cairan peju itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan kontol masih tertancap.

Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Mereka mengikutiku dan ikut mandi bersama. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. nonok dan toketku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir
“Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami.

Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun mengemut kontol mereka secara bergantian sehingga langsung saja napsu mereka memuncak. aku segera diseret ke ranjang.

Om Andi mendapat giliran pertama, kelihatannya mereka dia main berdua aja dengan ku. Jembutku yang lebat langsung menjadi sasaran, kemudian salah satu jarinya sudah mengelus2 nonokku. Otomatis aku mengangkangkan pahaku sehingga dia mudah mengakses nonokku lebih lanjut. Segera kontolnya yang besar, panjang dan sangat keras aku genggam dan kocok2.

“Nes, diisep dong”, pintanya. Kepalanya kujilat2 sebentar kemudian kumasukkan ke mulutku. Segera kekenyot pelan2, dan kepalaku mengangguk2 memasukkan kontolnya keluar masuk mulutku, kenyotanku jalan terus.

“Ah, enak Nes, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah”, erangnya keenakan.
Tangannya terus saja mengelus2 no nokku yang sudah basah karena napsuku sudah memuncak.

“Nes, kamu udah napsu banget ya, nonok kamu udah basah begini”, katanya lagi. kontolnya makin seru kuisep2nya. Kulihat Joko sedang mengelus2 kontolnya yang sudah ngaceng berat melihat om Andi menggarap aku.

Tiba2 dia mencabut kontolnya dari mulutku dan segera menelungkup diatas badanku. kontolnya diarahkan ke nonokku, ditekannya kepalanya masuk ke nonokku. terasa banget nonokku meregang kemasukan kepala kontol yang besar, dia mulai mengenjotkan kontolnya pelan, keluar masuk nonokku. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kontolnya yang panjang ambles di nonokku.

“Enak om , kontol om bikin nonok Ines sesek, dienjot yang keras om “, rengekku keenakan.

enjotan kontolnya makin cepat dan keras, aku juga makin sering melenguh
kenikmatan, apalagi kalo dia mengenjotkan kontolnya masuk dengan keras, nikmat banget rasanya. Gak lama dientot aku udah merasa mau nyampe,
“om lebih cepet ngenjotnya dong, Ines udah mau nyampe”, rengekku.

“Cepat banget Nes, om belum apa2″ jawabnya sambil mempercepat lagi enjotan kontolnya. A
khirnya aku menjerit keenakan “Om, Ines nyampe mas , aah”, aku menggelepar kenikmatan.

Dia masih terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Tiba2 dia mencabut kontolnya dari nonokku.
“Kok dicabut om, kan belum ngecret”, protesku.

Dia diem saja tapi menyuruh aku menungging di pinggir ranjang, rupanya dia mau gaya anjing.
“Om, masukkin dinonok Ines aja ya, kalo dipantat gak asik”, pintaku.

Dia diam saja. Segera kontolnya ambles lagi di nonokku dengan gaya baru ini. Dia berdiri sambil memegang pinggulku. Karena berdiri, enjotan kontolnya keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di nonokku dan masuknya rasanya lebih dalem lagi,
“Om , nikmat”, erangku lagi.

Jarinya terasa mengelus2 pantatku, tiba2 salah satu jarinya disodokkan ke lubang pantatku, aku kaget sehingga mengejan. Rupanya nonokku ikut berkontraksi meremas kontol besar panjang yang sedang keluar masuk,
“Aah Nes, nikmat banget, empotan nonok kamu kerasa banget”, erangnya sambil terus saja mengenjot nonokku.

Sementara itu sambil mengenjot dia agak menelungkup di punggungku dan tangannya meremas2 toketku, kemudian tangannya menjalar lagi ke i tilku, sambil dientot i tilku dikilik2nya dengan tangannya. Nikmat banget dien tot dengan cara seperti itu.

“Om , nikmat banget ngentot sama om , Ines udah mau nyampe lagi. Cepetan enjotannya om ,” erangku saking nikmatnya.

Dia sepertinya juga udah mau ngecret, segera dia memegang pinggulku lagi dan mempercepat enjotan kontolnya. Tak lama kemudian,
“Om, Ines mau nyampe lagi, om , cepetan dong enjotannya, aah”, akhirnya aku mengejang lagi keenakan. Gak lama kemudian dia mengentotkan kontolnya dalem2 di nonokku dan terasa pejunya ngecret.

“Aah Nes, nikmat banget”, diapun agak menelungkup diatas punggungku.

Karena lemas, aku telungkup diranjang dan dia masih menindihku, kontolnya tercabut dari nonokku.

“Om , nikmat deh, sekali entot aja Ines bisa nyampe 2 kali. Abis ini giliran Joko ya”, kataku.

“Iya”, jawabnya sambil berbaring disebelahku.

Aku memeluknya dan dia mengusap2 rambutku. “Kamu pinter banget muasin lelaki ya Nes”, katanya lagi.
Aku hanya tersenyum, “Om, Ines mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya”, aku pun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.

Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi telanjang bulat, kulihat om Andi sudah tidak ada dikamar. Joko sudah berbaring diranjang. Aku tersenyum saja dan berbaring disebelahnya. Dia segera mencium bibirku dengan penuh napsu. kontolnya keelus2. Lidahku dan lidahnya saling membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman. Tangannya juga mengarah kepahaku.

Aku segera saja mengangkangkan pahaku, sehingga dia bisa dengan mudah mengobok2 nonokku. Sambil terus mencium bibirku, tangannya kemudian naik meremas2 toketku. Pentilku diplintir2nya,
“Jok enak, Ines udah napsu lagi nih”, erangku.

Tanganku masih mengocok kontolnya yang sudah keras banget. Kemudian ciumannya beralih ke toketku. Pentilku yang sudah mengeras segera diemutnya dengan penuh napsu,
“Jok , nikmat banget “, erangku.

Diapun menindihku sambil terus menjilati pentilku. Jilatannya turun keperutku, kepahaku dan akhirnya mendarat di nonokku.
“Aah Jok , enak banget, belum dientot aja udah nikmat banget”, erangku.

Aku menggeliat2 keenakan, tanganku meremas2 sprei ketika dia mulai menjilati nonok dan i tilku. Pahaku tanpa sengaja mengepit kepalanya dan rambutnya kujambak, aku mengejang lagi, aku nyampe sebelum dientot. Dia pinter banget merangsang napsuku. Aku telentang terengah2, sementara dia terus menjilati nonokku yang basah berlendir itu.

Dia bangun dan kembali mencium bibirku, dia menarik tanganku minta dikocok kontolnya. Dia merebahkan dirinya, aku bangkit menuju selangkangannya dan mulai mengemut kontolnya.
“Nes, kamu pinter banget sih”, dia memuji.

Cukup lama aku mengemut kon tolnya. Sambil mengeluar masukkan di mulutku,
kontolnya kuisep kuat2. Dia merem melek keenakan.

Kemudian aku ditelentangkan dan dia segera menindihku. Aku sudah mengangkangkan pahaku lebar2. Dia menggesek2kan kepala kontolnya di bibir nonokku, lalu dienjotkan masuk,
“Jok , enak”, erangku.

Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kontolnya nancep semua di nonokku.
“Nes, nonokmu sempit banget, padahal barusan kemasukan kontol berkali2ya”, katanya.
“Tapi enak kan, abis kontol kamu gede dan panjang sampe nonok Ines kerasa sempit”, jawabku terengah.
Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat, bibirku diciumnya.
“Enak Jok, aah”, erangku keenakan.

enjotannya makin cepat dan keras, pinggulku sampe bergetar karenanya. Terasa nonokku mulai berkedut2,
“Jok lebih cepet dong, enak banget, Ines udah mau nyampe”, erangku.

“Cepet banget Nes, aku belum apa2″, jawabnya.

“Abisnya kon tol kamu enak banget sih gesekannya”, jawabku lagi.

enjotannya makin keras, setiap ditekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat aku
“Terus Jok , enak”. Toketku diremas2 sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk.

“Terus Jok , lebih cepat, aah, enak Jok, jangan brenti, aakh…” akhirnya aku mengejang, aku nyampe, nikmat banget rasanya. Padahal dengan om Andi, aku udah nyampe 2 kali, nyampe kali ini masih terasa nikmat banget. Aku memeluk pinggangnya dengan kakiku, sehingga rasanya makin dalem kontolnya nancep. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya sehingga dia melenguh,
“Enak Nes, empotan nonok kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot Nes”, erangnya
sambil terus mengenjot nonokku. Akhirnya bentengnya jebol juga. Pejunya ngecret didalam nonokku, banyak banget kerasa nyemburnya
“Nes, aakh, aku ngecret Nes, nikmatnya nonok kamu”, erangnya. Dia menelungkup diatas badanku, bibirku diciumnya.

“Trima kasih ya Nes, kamu bikin aku nikmat banget”. Setelah kontolnya mengecil, dicabutnya dari nonokku dan dia berbaring disebelahku. Aku lemes banget walaupun nikmat sekali. Tanpa terasa aku tertidur disebelahnya.

Aku terbangun karena merasa ada jilatan di nonokku, ternyata om Andi yang masih pengen ngentotin aku lagi. kulihat kontolnya sudah ngaceng lagi. nonokku dijilatinya dengan penuh napsu. Pahaku diangkatnya keatas supaya nonokku makin terbuka.
“Om , nikmat banget mas jilatannya”, erangku.

Ngantukku sudah hilang karena rasa nikmat itu. Aku meremas2 toketku sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di nonokku. Pentilku kuplintir2 juga. Kemudian itilku diisep2nya sambil sesekali menjilati nonokku, menyebabkan nonokku sudah banjir lagi.

Aku menggelepar2 ketika i tilku diemutnya. Cukup lama itilku diemutnya sampai akhirnya kakiku dikangkangkan.

“Om, masukin dong om , Ines udah pengen dientot”, rengekku.

Dia langsung menindih tubuhku, kontolnya diarahkan ke nonokku. Begitu kepala kontolnya menerobos masuk,
“Yang dalem om , masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong om “, rengekku karena napsuku yang sudah muncak.

Dia langsung mengenjotkan kontolnya dengan keras sehingga sebentar saja kontolnya sudah nancap semuanya dinonokku. Kakiku segera melingkari pinggangnya sehingga kontolnya terasa masuk lebih dalem lagi.

“Ayo om , dienjot dong”, rengekku lagi.

Dia mulai mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, uuh nikmat banget rasanya. enjotannya makin cepat dan keras, ini membuat aku menggeliat2 saking nikmatnya,
“Om , enak om , terus om , Ines udah mau nyampe rasanya”, erangku. Dia tidak menjawab malah mempercepat lagi enjotan kontolnya. Toketku diremas2nya, sampe akhirnya aku mengejang lagi,
“om enak, Ines nyampe om , aah”, erangku lemes.

Kakiku yang tadinya melingkari pinggangnya aku turunkan ke ranjang. Dia tidak memperdulikan keadaanku, kontolnya terus saja dienjotkan keluar masuk dengan cepat, napasnya sudah mendengus2. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya. Dia meringis keenakan.

“Nes, terus diempot Nes, nikmat banget rasanya. Terus empotannya biar om bisa ngecret Nes”, pintanya.

Sementara itu enjotan kon tolnya masih terus gencar merojok nonokku. Toketku kembali diremas2nya, pentilnya diplintir2nya.
“Om , Ines kepengin ngerasain lagi disemprot peju om “, kataku.

Terus saja kontolnya dienjotkan keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras, sampai akhirnya,
“Nes, aku mau ngecret Nes, aah”, erangnya dan terasa semburan pejunya mengisi bagian terdalam nonokku. Nikmat banget rasanya disemprot peju anget. Dia ambruk dan memelukku erat2,

“Nes, nikmat banget deh ngen tot ama kamu”, katanya.

Setelah beristirahat sebentar, aku segera membersihkan diri dan berpakaian. Kami kembali ke Jakarta. Diperjalanan pulang aku hanya terkapar saja dikursi mobil. Lemes banget abis dien tot 2 cowok berkali2.

“Om, jangan lupa orbitin Ines ya”, kataku.

“Jangan kawatir, selama om masih bisa ngerasain empotan nonok kamu, pasti kamu melejit keatas deh. Bener gak Jok”, jawabnya.


Cerita Mesum Hilangnya Perjakaku


Terlahir dari keluarga sederhana membuatku menjadi anak yg bisa di katakan pemalu. Kejadian ini terjadi sewaktu aku masih kuliah. Karena pada dasarnya aku adalah tipe orang pemalu, maka jarang sekali mempunyai kawan perempuan, awal ceritanya begini sewaktu ujian tengah semesteran ,dosen pengampuku minta tolong untuk datang kerumahnya selesai perkuliahan karena dia akan keluar kota.


Pada hari yg sudah ditentukan, aku pun datang ke rumahnya sekitar jam 7 malam. Sewaktu itu rumahnya hanya ada pembantu (yg juga masih muda dan cantik). Suaminya ketika itu belum pulang dari rapat di puncak. Sewaktu aku membuka pintu rumahnya, aku sedikit terbelalak karena dia memakai gaun tidur yg tipis, Sehingga terlihat payudara yg menyumbul keluar. Sewaktu aku perhatikan, dia ternyata tak memakai BH. Terlihat waktu itu payudaranya yg masih tegak berdiri, tak turun. Putingnya juga terlihat besar dan kemerahan, sepertinya memiliki ukuran sekitar 36B.

Sewaktu aku sedang memperhatikan Dosen aku itu, aku kepergok oleh pembantunya yg ternyata dari tadi juga memperhatikan aku. Seketika itu juga aku menjadi gugup, namun kemudian pembantu itu malah mengedipkan matanya padaku, dan dgn segera selanjutnya ia memberikan minuman padaku. Sewaktu ia memberi minum, belahan dadanya jadi terlihat (karena pakaiannya sedikit pendek), dan sama seperti dosen aku ukurannya juga besar. Kemudian dosenku yg sudah duduk di depan aku berkata, (mungkin karena aku melihat belahan dada pembantu itu)
“Kamu pingin ya “nyusu” juga ya sama payudara yg sintal..?” Aku pun tergagap dan menjawab,
“Ah… enggak kok Bu..!” Lalu dia bilang,
“Nggak papa kok kalo kamu pingin.., Ibu juga bersedia nyusuin kamu.” Mungkin karena ia aku anggap bercanda, aku bilang saja,
“Oh.., boleh juga tuh Bu..!” Tanpa diduga, ia pun mengajak aku masuk ke ruang kerjanya. Sewaktu kami masuk, ia berkata,
“Parjono, tolong liatin ada apaan sih nih di punggung Ibu..!”
Kemudian aku menurut saja, aku lihat punggungnya. Karena tak ada apa-apa, aku bilang,
“Nggak ada apa-apa kok Bu..!” Namun tanpa disangka, ia malah membuka semua gaun tidurnya, dgn tetap membelakangiku.

Aku lihat punggungnya yg begitu mulus dan putih. Kemudian ia menarik tangan aku ke payudaranya, oh sungguh kenyal dan besar hatiku berdebar tak karuan. Kemudian aku merayapi putingnya, dan benar perkiraan aku, putingnya besar dan masih keras.
Kemudian ia membalikkan badannya, ia tersenyum sembari membuka celana dalamnya. Terlihat di sekitar kemaluannya banyak ditumbuhi bulu yg lebat. Kemudian aku berkata,
“Kenapa Ibu membuka baju..?” Ia malah berkata,
“Sudah.., tenang saja! Pokoknya puaskan aku malam ini, kalau perlu hingga pagi.”

Karena disuut rangsangan dari badan yg indah, aku ingin juga merasakan badannya, aku pun tanpa basa-basi langsung mencium dan juga meremas payudaranya. Aku hisap hingga ia merasa kegelian. Kemudian ia membuka pakaian aku, ia pun terbelalak sewaktu ia melihat gagang kejantanan aku.
“Oh, besar dan panjang..!” Dosenku pun sudah mulai terlihat atraktif, ia mengulum kemaluan aku hingga biji kemaluanku. Rasanya sungguh tak terbaygkan
“Ah.. ahh Bu… enak sekali, terus Bu, aku belum pernah diperlakukan seperti ini..!” desah aku.

Karena dipuji, ia pun terus semangat memaju-mundurkan mulutnya. Aku juga meremas-remas terus payudaranya, nikmat sekali kata dosen aku. Kemudian ia mengajak aku untuk merubah posisi dan membentuk posisi 69. Aku mencoba menjilati kemaluannya , karena menurutku rasanya aneh, aku mencoba dgn memasukkan jari aku, berharap bisa memberi yg terbaik.
“Ah.. Parjono, aku sudah nggak kuat nih..! Cepat masukkan kemaluanmu..!” katanya.
“Baik Bu..!” jawab aku sembari mencoba memasukkan gagang kemaluan aku ke liang senggamanya.
“Ah.., ternyata sempit juga..! Jarang dimasukin ya Bu..?” tanya aku.
“Iya Parjono, suami Ibu jarang bercinta dgn Ibu, karena itu Ibu belum punya anak, ia pun juga sebentar permainannya.” jawabnya. Kemudian ia terus menggelinjang-gelinjang sewaktu dimasukkannya kemaluan aku sembari berkata,
“Ohh… ohhh… besar sekali kemaluanmu, tak muat ke kemaluanku, ya Parrr..?”
“Ah nggak kok Bu..” jawab aku sembari terus berusaha memasukkan gagang keperkasaan aku.

Kemudian, untuk melonggarkan lubang kemaluannya, aku pun memutar-mutar gagang kemaluan aku dan juga mengocok-ngocoknya dgn harapan dapat melonggarkan liangnya. Dan betul, lubang senggamanya mulai membuka dan gagang kejantanan aku mulai masuk setengah.
“Ohhh… ohhh… Terus Prrr, masukkan terus, jangan ragu..!” katanya memohon.
Sesudah memutar dan mengocok gagang kejantanan aku, akhirnya masuk juga kemaluanku semua ke dalam liang keperempuanannya.
“Oohh pssfff… aha hhah.. ah…” desahnya yg diikuti dgn teriakannya,
“Oh my good..! Ohhh..!” Aku pun mulai mengocok gagang kemaluan aku keluar masuk.
Tak sampai semenit kemudian, dosenku sudah mengeluarkan cairan kemaluannya.
“Oh Parjono, Ibu keluar…” terasa hangat dan kental sekali cairan itu.
Cairan itu juga memudahkan aku untuk terus memaju-mundurkan gagang keperkasaan aku. Karena cairan yg dikeluarkan terlalu banyak, terdengar bunyi,
“Crep.. crep.. sleppp.. slepp..” sangat keras.

Karena aku melakukannya sembari menghadap ke arah pintu, sehingga terdengar sampai ke luar ruang kerjanya. Saat itu aku sempat melihat pembantunya mengintip permainan kami. Ternyata pembantu itu sedang meremas-remas payudaranya sendiri (mungkin karena bernafsu melihat permainan kami).
Oh, betapa bahagianya aku sembari terus mengocok gagang keperkasaan aku maju mundur di liang kemaluan dosen aku. Aku juga melihat tontonan gratis ulah pembantunya yg masturbasi sendiri, dan aku baru kali ini melihat perempuan masturbasi.

Sesudah 15 menit bermain dgn posisi aku berada di atasnya, kemudian aku menyuruh dosen aku pindah ke atas aku sekarang. Ia pun terlihat agresif dgn posisi seperti itu.
“Aha.. ha.. ha…” ia berkata seperti sedang bermain rodeo di atas badan aku.
15 menit kemudian ia ternyata klimaks yg kedua kalinya.
“Oh, cepat sekali dia klimaks, padahal aku belum sekalipun klimaks.” batin aku.

Kemudian sesudah klimaksnya yg kedua, kami berganti posisi kembali. Ia di atas meja, sedangkan aku berdiri di depannya. Aku terus bermain lagi sampai merasakan batas dinding rahimnya.
“Oh.. oh.. Parjono, pelan-pelan Parrr..!” katanya.
Kelihatannya ia memang belum pernah dimasukan gagang kemaluan suaminya hingga sedalam ini. 15 menit kemudian ia ternyata mengalami klimaks yg ketiga kalinya.
“Ah Parjono, aku keluar, ah… ah… ahhh… nikmat..!” desahnya sembari memuncratkan kembali cairan kemaluannya yg banyak itu.
Sesudah itu ia mengajak aku ke bath-tub di kamar mandinya. Ia berharap agar di bath-tub itu aku dapat klimaks, karena ia kelihatannya tak sanggup lagi membalas permainan yg aku berikan. Di bath-tub yg diisi setengah itu, kami mulai menggunakan sabun mandi untuk mengusap-usap badan kami. Karena dosen aku sangat senang diusap payudaranya, ia terlihat terus-terusan bergelinjang. Ia membalasnya dgn meremas-remas buah kemaluan aku menggunakan sabun (bisa pembaca rasakan nikmatnya bila buah zakar diremas-remas dgn sabun).
Sesudah 15 menit kami bermain di bath-tub, kami akhirnya berdua mencapai klimaks yg keempat bagi dosen aku dan yg pertama bagi aku.
“Oh Parjono, aku mau keluar lagi..!” katanya.

Sesudah terasa penuh di ujung kepala kemaluan aku, kemudian aku keluarkan gagang kejantanan aku dan kemudian mengeluarkan cairan lahar panas itu di atas payudaranya sembari mengusap-usap lembut.
“Oh Parjono, engkau sungguh kuat dan partner bercinta yg dahsyat, engkau tak cepat klimaks, sehingga aku dapat klimaks berkali-kali. ini pertama kalinya bagiku Parjono. Suamiku biasanya hanya dapat membuatku klimaks sekali saja, kadang-kadang tak sama sekali.” ujar dosen aku.

Kemudian karena kekelalahan, ia terkulai lemas di bath-tub tersebut, dan aku keluar ruang kerjanya masih dalam keadaan bugil mencoba mengambil pakaian aku yg berserakan di sana. Di luar ruang kerjanya, aku lihat pembantu dosen aku tergeletak di lantai depan pintu ruangan itu sembari memasukkan jari-jarinya ke dalam kemaluannya.
Karena melihat badan pembantu itu yg juga montok dan putih bersih, aku mulai membaygkan bila aku dapat bersebadan dgnnya. Yg menarik dari badannya adalah karena payudaranya yg besar, sekitar 36D. Akhirnya aku pikir, biarlah aku main lagi di ronde kedua bersama pembantunya.
Pembantu itu pun juga tampaknya bergairah sesudah melihat permainan aku dgn majikannya. Aku langsung menindih badannya yg montok itu dgn sangat bernafsu. Aku mencoba melakukan perangsangan terlebih dulu ke bagian sensitifnya.
Aku mencium dan menjilat seluruh permukaan payudaranya dan turun hingga ke bibir kemaluannya yg ditumbuhi hutan lebat itu. Tak berapa lama kemudian, kami pun sudah mulai saling memasukkan alat kelamin kami.
Kami bermain sekitar 30 menit, dan tampaknya pembantu ini lebih kuat dari majikannya. Terbukti sewaktu kami sudah 30 menit bermain, kami baru mengeluarkan cairan kemaluan kami masing-masing.
Oh, ternyata aku sudah bermain seks dgn dua perempuan bernafsu ini selama satu setengah jam. Aku pun akhirnya pulang dgn rasa lelah yg luar biasa, karena ini adalah pertama kalinya aku merasakan bercinta dgn perempuan.
Tamat.



Jumat, 03 Februari 2017

Cerita Bokep Babysitter Lugu



Malam telah larut dan jam telah menunjukan pukul 9 malam. Sedari siang tadi kakakku bersama suaminya menghadiri pertemuan sebuah Network Marketing dan diteruskan dgn pertemuan khusus para leaders.


Untuk menghilangkan suntuk, aqu connect ke internet dan berbagai macam situs aqu buka, seperti
biasa pasti terdapat banyak situs dewasa yg asal nyrobot. Biasanya aqu langsung close karena aqu
enggak enak dgn kakakku, namun malam ini mereka tak ada dirumah, hanya bersama dgn seorang
baby siters keponakanku, namanya Janah baru berumur 18 Tahun dan berasal dari Wonosobo.
Memang agak kolotan dan dusun sekali, namun kalau aqu perhatikan lagi Janah memiliki body yg
lumayan bagus dgn wajah yg tak terlalu jelek.

Kita biasa mengobrolkan acara televisi atau terkadang Im-im (panggilan Janah sehari-hari) aqu ajari
internet meskipun hasilnya sangat buruk. Entah kenapa malam ini keinginanku untuk melihat situs
dewasa sangat besar dan libidoku naik waktu aqu lihat foto-foto telanjang di internet, tanpa aqu sadari
Im-im keluar dari kamar dan berjalan ke arahku entah telah berapa lamadia berdiri disampingku
ikut memperhatikan foto-foto telanjang yg ada di monitor komputer.
“Apa enggak malu ya..?” tanya Im-im yg membuatku kaget dan segera aqu ganti situsnya dgn yg
“normal”. Dgn berusaha tenang, aqu minta Janah mengulangi pertanyaannya.
“Itu lho tadi, gambar perempuan telanjang yg Mas buat, emangnya nggak malu kalau dilihat orang?”
Memang Janah sangat lugu dan ndusun kalau soal beginian. Dgn santai aqu jawab sembari
menyuruhnya duduk disebelahku.
“Begini Im, ini foto bukan aqu yg buat, orang yg buat ini (sembari aqu perlihatkan lagi situs yg memuat
foto telanjang tadi), merekakan model yg dibayar jadi ngapain malu kalau dapat duit.”
Kemudian Im-im melihat lebih seksama satu per satu foto telanjang itu dgn posisi tubuh agak
membungkuk sesampai terlihat jelas bulatan kenyal buah dadanya, telah sejak lama aqu menikmati
pemandangan ini dan aqu sangat terobsesi untuk tidur dgn Im-im. Aqu tersentak kaget waktu Janah bertanya soal foto dimana seorang lelaki sedang menjilati kemaluan perempuan.
“Apa nggak geli perempuannya dijilati kayak gitu terus lagian mau- maunya lelaki itu jilatin punya
perempuannya padahalkan tempat pipis?”.
Dgn otak yg telah kotor aqu mulai berfikir bagaimana aqu memanfaatkan kesempatan ini dgn baik.
“Gini Im, kemaluannya perempuan kalau dijilatin oleh lelaki malah enak, memang awalnya geli tapi
lama- lama ketagihan perempuannya. Kamu belum pernah coba kan?” tanyaqu pada Im-im sembari
tanganku membuka foto-foto yg lebih hot lagi.

“Belum pernah sama sekali, tapi kalau ciuman bibir dan susuku diremes telah pernah, aqu taqut
kalau nanti bunting”. (memang Im-im sangat terbuka tentang pacarnya yg di Bogor dan pernah suatu
hari cerita kalau pacarnya ngajak tidur di hotel tapi Im-im nggak mau).
“Kalau Cuma kayak gitu nggak bakal bikin bunting, gemana kalau kamu coba, nanti kalau kamu
bunting aqu mau tanggungjawab dan nggak perlu bingung soal uang, terus kalau ternyata kamu
nggak bunting, kamu nanti aqu ajari gaya-gaya yg ada difoto ini. Gimana?”
Dan Im-im cuma diam sembari lihatin wajahku, sebenarnya aqu tahu dia naksir aqu telah lama tapi
karena posisi dia hanya babysiters yg membuatnya nggak PD.
“Benar ya.., janji lho?” pintanya dgn sedikit ragu. Dan dgn wajah penuh semangat aqu bersumpah
untuk menepati janjiku, meskipun aqu enggak ada niat untuk menepati janjiku. Aqu putuskan
sambungan internet dan mulai “melatih” Im- im dgn diawali teknik berciuman yg telah pernah dia
rasakan dgn pacarnya, sentuhan halus bibirnya yg lembut membuatku membalas dgn ganas sampai
tanpa terasa tanganku telah meremas payudara Janah yg memang masih kencang. Desahan halus
mulai muncul waktu bibirku menelusuri lehernya yg agak berbulu seolah Im-im menikmati semua
pelatihan yg aqu berikan.

Aqu merasa cumbuan ini kurang nyaman, aqu dan Janah pindah ke dalam kamar Im-im, perlahan
aqu rebahkan tubuhnya dan bibirku bergantian menjelajah bibir dan lehernya sedangkan tanganku
berusaha membuka kaos dan BH-nya dan kini separoh tubuh Janah telah bugil membuat libidoku tak
karuan. Tanpa ada keluhan apapun Janah terus mendesah nikmat dan tangannya membimbing
tangan kiriku meremas teteknya yg bulat sedangkan payudara kanannya aqu lumat dgn bibirku
sampai terdengar jeritan kecil Im-im. Entah berapa lama aqu mencumbu bagian atas tubuhnya dan
sebenarnya keinginanku untuk bercinta telah sangat besar namun aqu tahu ini bukan waktu yg
tepat.

Perlahan aqu turunkan celana pendek dan celana dalamnya bersama sampai Janah sepenuhnya
bugil dan ini yg membuat dia malu. Untuk membuat Janah tak merasa canggung aqu mencumbunya
lebih ganas lagi sesampai kini Janah mendesah lebih keras lagi dan tangan kanannya meremas
kaosku untuk menyalurkan gairahnya yg mulai memuncak. Bibirku kini mulai menjalar kebawah
menuju kemaluannya yg tertutup kumpulan bulu hitam, perlahan aqu angkat kedua pahanya sampai
posisi selakangannya terlihat jelas.

Samar-samar terlihat lipatan berwarna merah di kemaluannya dan aqu tahu baru aqu yg melihat
surga dunia milik Im-im. Kini bibirku mulai menjilati kemaluannya yg mulai banjir dgn halus agar Im-
im tak merasa geli dan ternyata rencanaqu berjalan lancar, desahan yg tadi menghiasi cumbuanku
dgn Janah kini mulai diselingi lenguhan dan jeritan kecil yg menandakan kenikmatan luar biasa yg
sedang dirasakan babysiters keponakanku. Semakin lama semakin banyak lendir yg keluar dari
kemaluannya yg membuatku lebih bergairah lagi, tiba-tiba seluruh tubuh Janah kejang dan suara
lenguhannya menjadi gagap sedangkan kedua tangannya meremas kuat kasurnya. Dgn diiringi
lenguhan panjang Janah mencapai klimak, tubuhnya bergerak tak beraturan dan aqu lihat sepasang
teteknya mengeras sesampai membuatku ingin meremasnya dgn kuat.

Setelah kenikmatannya perlahan turun seiring tenaganya yg habis terkuras membuat tubuhnya yg
bugil menjadi lunglai, dgn kepasrahannya aqu menjadi sangat ingin segera menembus kemaluannya
dgn kemaluanku yg sedari tadi telah tegang. “Janah merasa sangat aneh, bingung aqu jelasin
rasanya” katanya dgn perlahan. “Belum pernah aqu merasakan hal ini sebelumnya, aqu taqut kalau
terjadi apa-apa,” sembari memelukku erat. Sembari kukecup keningnya, aqu jawab kekhawatiranya.
“Ini yg disebut kenikmatan surga dunia dan kamu baru merasakan sebagian. Janah nggak perlu taqut
atau khawatir soal ini, kan aqu mau tanggungjawab kalau kamu bunting,” sembari kubalas
pelukannya. Sekilas aqu lupa libidoku dan berganti dgn perasaan ingin melindungi seorang
perempuan, kemudian tanpa disengaja tangan Im-im menyentuh kemaluanku sesampai membuat
kemaluanku kembali menegang.

Wajah Janah tersipu malu waktu aqu lihat wajahnya yg memerah, kucium bibirnya dan tanpa
menunggu komandoku Im-im membalasnya dgn lebih panas lagi dan kini Janah terlihat lebih PD
dalam mengimbangi cumbuanku. Teteknya aqu remas dgn keras sesampai Im-im mengerang kecil.
Kini bajuku dibuka oleh sepasang tangan yg sedari tadi hanya mampu meremas keras kasur yg kini
telah acak-acakan spreinya dan aqu imbangi dgn melepas celana pendekku dan segera terlihat
kemaluan yg telah tegang karena aqu terbiasa tak memakai CD waktu dirumah. Melihat
pemandangan itu, Janah malu dan menjadi sangat kikuk waktu tangannya aqu bimbing memegang
kemaluanku dan setelah terbiasa dgn pemandangan ini aqu membuat gaya 69 dgn Janah berada
diatas yg membuatnya lebih leluasa menelusuri kemaluanku. Setelah beberapa lama aqu bujuk
untuk mengulumnya, akhirnya Im-im mau melaqukan dan menjadi sangat menikmati, sedangkan
aqu terus menghujani kemaluannya dgn jilatan lidahku yg memburunya dgn ganas.

Karena tak kuat menahan rasa nikmat yg menyerang seluruh tubuhnya, Im-im tak mampu
meneruskan kulumannya dan lebih memilih menikmati jilatan lidahku di kemaluannya dan aqu tahu
Janah menginginkan kenikmatan yg lebih lagi sesampai tubuh bugilnya aqu rebahkan sedangkan kini
tubuhku menindihnya sembari aqu teruskan bibirku menjelajahi bibirnya yg memerah.
Perlahan tanganku menuntun tangan kanan Im-im untuk memegang kemaluanku sampai berada
tepat di depan mulut kemaluannya, aqu gosok-gosok kemaluanku di lipatan kemaluannya dan
mengakibatkan sensasi yg menyenangkan, erat sekali tangannya memelukku sembari telus
mengerang nikmat tanpa memperdulikan lagi suaranya yg mulai parau. Kemaluannya semakin basah
dan perlahan kemaluanku yg tak terlalu besar mendesak masuk ke dalam kemaluannya dan usahaqu
tak begitu berhasil karena hanya bisa memasukkan kepala kemaluanku.

Perlahan aqu mencoba lagi dan dgn inisiatif Im-im yg mengangkat kedua kakinya sampai
selakangannya lebih terbuka lebar yg membuatku lebih leluasa menerobos masuk kemaluannya dan
ternyata usahaqutak sia-sia. Dgn sedikit menjerit Janah mengeluh, “Aduh.., sakit. Pelan-pelan dong”
dgn terbata-bata dan lemah kata-kata yg keluar dari mulutnya. Waktu seluruh kemaluanku telah
masuk semua, aqu diam sejenak untuk merasakan hangatnya lubang kemaluannya. Perlahan aqu
gerakkan kemaluanku keluar-masuk liang kemaluannya sampai menjadi lebih lancar lagi, semakin
lama semakin kencang aqu gerakkan kemaluanku sampai memasuki liang paling dalam. Berbagai
rancauan yg aqu dan Janah keluarkan untuk mengekspresikan kenikmatan yg kita alami telah tak
terkendali lagi, hampir 15 menit aqu menggenjot kemaluannya yg baru pertama kali dimasuki
kemaluan sampai aqu merasa seluruh syaraf kenikmatanku tegang.

Rasa nikmat yg aqu rasakan waktu spermaqu keluar dan memasuki lubang kemaluannya membuat
seluruh tubuhku menegang, aqu lumat habis bibirnya yg memerah sampai Im-im dan kedua
tanganku meremas teteknya yg mengeras. Akhirnya aqu bisa merasakan tubuh Im-im yg lama ada
dianganku. Kita berdua tergolek lemah seolah tubuhku tak bertulang, kupeluk tubuh Janah dgn erat
agar dia tak galau dan setelah tenagaqu pulih aqu berusaha memakaikan baju padanya karena Im-im
tak mampu berdiri lagi. Waktu aqu hendak mengenakan CD aqu lihat sedikit bercak merah
dipahanya dan aqu bersihkan dgn CD ku agar Im-im tak tahu kalau perawannya telah aqu renggut
tanpa dia sadari. Kita berdua melaqukan hal itu berulangkali dan Janah semakin pintar
memuaskanku dan selama ini dia tak bunting yg membuatnya sangat PD.

Tanpa disadari 2 tahun aqu menikmati tubuhnya gratis meskipun kini Janah tak menjadi babysiters
keponakanku sebab kakakku telah pindah rumah mengikuti suaminya yg dipindah tugaskan ke
daerah lain. Sekarang Im-im menjadi penjaga rumahku dan sekaligus pemuas nafsuku waktu pacar-
pacarku tak mau aqu ajak bercinta. Waktu lebaran seperti biasa Janah pulang kampung selama 2
minggu dan yg membuatku kaget dia membawa seorang perempuan sebayadgn Janah dan bernama
Dina yg merupakan sepupunya. Memang lebih cantik dan lebih seksi dari Janah yg membuatku
berpikir kotor waktu melihat tubuh yg dimiliki Dina yg lugu seperti Janah 2 tahun lalu.

Pada malam harinya, setelah kita melepas rasa kangen dgn bercinta hampir 2 jam, Janah tiba-tiba
menjadi serius waktu dia mengutarakan maksudnya. “Mas, aqu telah 2 tahun melayani Mas untuk
membereskan urusah rumah dan juga memberikan kepuasan diranjang seperti yg aqu berikan waktu
ini,” Janah terdiam sejenak. “Aqu ingin tahu, apakah ada keinginan Mas untuk menikahiku meskipun
sampai waktu ini aqu tak bunting. Apa Mas mau menikahiku?” Aqu terhenyak dan diam waktu
disodori pertanyaan yg tak pernah terlintas sedikitpun selama 2 tahun ini. Lama aqu terdiam dan tak
tahu mau berkata apa dan akhirnya Janah meneruskan perkataannya. “Janah tahu kalau Mas nggak
ada keinginan untuk menikahiku dan aqu nggak menuntut untuk menjadi suamiku, 2 tahun ini aqu
merasa sangat bahagia dan sebelum itu aqu telah mencintai Mas dan menjadi semakin besar waktu
aqu tahu Mas sangat perhatian dgnku.”
Janah terdiam lagi dan aqu memeluknya erat penuh rasa sayg dan Janah pun membalas pelukanku.
“Tapi.., aqu ingin lebih dari ini. Aquingin bisa menikmati cinta dan kasih sayg seorang suami dan itu
yg membuatku menerima pinangan seorang pria yg rumahnya tak jauh dari desaqu.” Aqu terhenyak
dan menjadi lebih bingung lagi dan belum bisa menerima kabar yg benar-benar mengagetkanku. Kita
berdua hanya bisa diam dantanpa terasa meleleh air mataqu dan aqu baru merasa bahwa aqu
ternyata benar-benar menginginkannya, namun ternyata telah terlambat. Keesokan harinya aqu
mengantar Janah ke terminal untuk kembali pulang ke desanyadan menikah dgn seorang duda tanpa
anak, menurutnya calon suaminya akan menerimanya meskipun dia telah tak perawan. Dgn langkah
gontai aqu kembali ke mobilku dan melalui hari-hariku tanpa Janah.



Kamis, 02 Februari 2017

Cewe Keturunan Riau Sangat Ganas

Onebetqq.com Agen Bandar Poker | Bandar Poker | Bandar Poker Online | Domino 99 | BandarQ Terpercaya
Pertama kali aq mengenalnya ketika aq menunggu bus di di sebuah sudut kota Jakarta. Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Aq saat itu memang sudah siap payung lipat karena waktu berangkat dari rumah langit terlihat gelap. Kubuka payung lipatku dan kulihat ada seorang wanita, masih muda, berlari menembus hujan, kusambut aja wanita itu dengan payungku dan kami berpayungan bersama. Selama berpayungan kami saling diam saja.

Akhirnya kami berdua berteduh di emperan toko.

“Ihh, cowok kok bawa payung, tumben-tumbenya ada cowok takut sama hujan” katanya.

“Bukanya terima kasih, malah nyela. Coba kalau tadi kamu nggak aq payungi udah basah kuyup” kataku tanpa tersinggung. Terserah orang mau bilang apa tentang aku, nggak ngefek buatku. Tapi aq sendiri heran juga kok tumben memang aq mau bawa payung. Biasanya cuek aja.

“Mau kemana” tanyaku singkat.
“Pulang ke grogol” jawabnya singkat juga.

Kutanya namanya, kudengar dia jawab kalau namanya Naya. Akhirnya angkutan yang dutunggunya datang.

Aq pun pulang kerumah. 3 hari kemudian di tempat yang sama kembali aq bertemu denganya

“Hei, masih ingat aq?” tanyaku.
“Masih. Mana payung kamu, kok nggak di bawa lagi?” jawabnya.
“Ahh,, cuaca panas gini suruh bawa payung”
“Baru pulang Ya Nay?”
“Namaku Maya, bukan Naya”
“Kemarin Naya, sekarang Maya besok ganti apa lagi ya” olokku.
“Kamu aja yang bolot, dari dulu juga namaku Maya”

Dari tadi suaranya datar, ketus. Kuajak Maya untuk makan bakso di seberang jalan.

“Buru-buru nggak May? Kalau nggak makan dulu yuk!” ajakku
“Boleh, tapi kamu yang bayarin ya”
“Jangan kuatir”

Akhirnya kami berdua masuk ke warung bakso. Kupesan dua porsi tapi dia menloak

“Aq ngga usah, masih kenyang. Aq es teh aja”
“Ya udah. Pak baksonya satu es teh nya dua” pesanku pada penjual bakso

Kami dudk berhadapan dipisahkan meja untuk empat orang. Aq makan baksonya dengtan cepat dan kemudian mulai minum es teh. Karena mejanya kecil lutut kami bisa saling beradu. Tiba-tiba Maya menggoyangkan lututnya agak keras.

“Ada apa May?”
“Orang dibelakangmu dari tadi ngeliatin aq terus”
“Biarin aja kenapa, mata mata dia sendiri”

Lalu kedua kakinya menjepit kencang salah satu kakiku. Aq agak kaget juga

“Duhhh, pijitin dong” kataku
“Mau di pijit? jangan di sini” katanya sambil mengedikan matanya.

Alamaakkk, apa lagi yang terjadi setelah ini?
“Terus di mana?” pancingku lagi.
“Di hotel aja” sahutnya pelan

Kutatap wajahnya, seolah-olah tak percaya dia ngajak chek-in.

Aq pun segera menghabiskan baksoku, bayar dan keluar dari warung bakso. Cowok yang dibilangnya tadi ngeliatin terus masih curi-curi pandang ke Maya. Kami melangkah menuju hotel yang tidak jauh dari tempat kami makan tadi. Sambil melangkah kubisikkan di telinganya,
“Pakai kondom nggak?”
“Terserah kamu aja”

Aq jarang pakai kondom, apa lagi nawarin teman kencanku untuk pakai kondom dalam bercinta. Entah kenapa, atau munngkin kasihan aja sama Maya makanya aq menawarkan pakai kondom. Sambil melangkah kucoba cari-cari apotik atau toko obat, tapi nggak ada sampai kami tiba di hotel

Begitu masuk kamar hotel, aq ke kamar mandi dan membersihkan kemaluanku. Maya berbaring di tempat tidur. Aq keluar dari kamar mandi dan Maya menatapku. Maya bangkit dan segera melucuti pakaianya sampai bugil. Aq pun begitu melucuti semua pakianku dan berbaring di sampingnya.

“Mas ini asli mana sih, kok bulunya banyak sekali?” tanya Maya.
“Jawa asli” kataku.
“Ada turunan arab kali ya?” selidik Maya lagi seperti tak percaya dengan jawabanku.
“Kamu kerja di mana sih?
“Di pasar minggu” – cerita hot –
“Kok mau ke grogol lewatnya sini?”
“Iya, sekalian mamu mampir tempat ayahku kerja”

Setelah ngobrol banyak denganya aq tau ternyata di asal Riau, usianya sedikit di bawahku. Pada saat ini aq dapat mengamatinya dengan lebih detail. Tinggi badan 150 cm, kulitnya kuning kecoklatan, agak kurus. Rambutnya hitam lurus sebahu dan dadanya cukup besar untuk ukuranya.

“Oh iya, katanya tadi mau mijitin aq,” kataku menggodanya sambil membalikkan tubuhku posisi tengkurap.
Maya merapatkan tubuhnya ke tubuhku dan tangan Maya mulai memijit tubuhku. Nikmat juga pijitannya. Dia mulai memijit dari kaki, lalu paha, tangan, kepala dan punggungku.

“Udahan, sekarang mana lagi yang mau dipijit?” tanya Maya menantang.
“Bagian ini kan belum dipijit” kataku sambil tanganku menunjuk ke bibirku
Aq membalikkan tubuh dan Maya segera menerkamku dengan ciuman liarnya. Aq membalas dengan tak kalah liar. ‘Kecil-kecil nafsufnya gede juga nih anak’ kataku dalam hati. Bibir Maya turun ke bawah dan Maya mencium dan menjilati leherku. Aq menngelinjang nikmat.

Nafas kami berdua mulai tak beraturan. Sambil menciumi dan mengcup dadaku, Maya memeluk tubuhku erat.

Kulihat toketnya padat dan kenyal dihiasi puting kecil berwarna merah muda menantangku untuk segera memainkanya. Toket sebelah kanan kuhisap, sementara sebelah kirinya kuremas-remas dengan tangan kananku.

Tangan kiriku mengelus-elus pipinya dengan halus. Maya mendesah dan mengerang ketika puting susunya kujilati dan sesekali kugigit kecil.

“Aaaggghhhhh… eenngghhhhhh… oggghhh… Mas Joe”

Toketnya kuhisap habis sampai semuanya masuk ke mulutku. Maya menjilati telingaku. Aq pun sangat terangsang. Penisku sudah mulai tegang siap untuk maju dalam pertampuran yang super dahsyat.

Maya melepaskan pelukannya dan kini dia menciumi dan menjilati tubuhku. Dari leher bibirnya turun ke dada, dan..

“Oogghhh, Maya… yaaahhhh…” aq mengerang ketika mulutnya menjilati puting susuku.

Kudorong tubuhnya karena tak tahan dengan rangsangan yang diberikan pada puting susuku dan kemudian kugilngkan ke samping.

Kusambar bibirnya. Kudorong lidahku menggelitik mulutnya. Lidahku kemudian dihisapnya. Tanganya merayapi selangkanganku dan kemudian mengocok-ngocok penisku. Penisku semakin tegang mengeras.

“Bikin aq puas mass.. bawa aq terbang ke langit tuju…” pekiknya.

Tak lama kemudian tanganya memegang erat penisku dan kurasakan pantat dan pinggul Maya bergerak menggesek-gesek penisku. Kepala penisku kemudian masuk ke dalam lubang memeknya. Terasa sempit dan basah.

“Oogghhh… Aagghhhh” Maya mendongakan kepalanya dan memberikan kesempatan kepadaku untuk menjilati leher mulusnya yang tepat di depanku. Maya menggoyangkan pantatnya dan dengan sodokkan keras semua batang penisku terbenam dalam lubang memeknya.

Pinggulku kugoyang maju mundur menimba kenikmatan. Kadang goyanganku ku ubah menjadi kekanan ke kiri atau berputar dengan arah putaran pantatnya. Sesekali goyanganku agak pelan dan kuganting selangkanganku.
Pantatnya naik agak tinggi sehiingga kepala penisku berada di bibir memeknya dan kemudian dengan cepat kuturunkan pantatku hingga seluruh batang penisku terbenam ke lubang memeknya.

Punggungnya naik dengan bertumpu pada sikunya. Kuhisap puting susunya yang sudah tegang. Gerakanku semakin tak beraturan. Tanganya kini memeluk punggungku dan dadanya merapat ke dadaku. Tanganya meremas-remas rambutku, mulutnya mendesah dan mengerang hebat.

“Joee.. ogghh Joee, aq maauu kkeluaaarrrrr”
“Ssshhhhh… oohhhhhh”
“Joee sekarraannggg Aaagghhhhhh… sekaranggg” ia mengerang hebat. Tubuh Maya bergetar hebat diatasku dan kakinya membelit kakiku. Bibirnyanya mencari-cari bibirku dan kusambar agar agar dia tidak mengerang terlalu keras lagi. Memeknya berdnyut kencang sekali. Aqpun merasakan akan meraih kenikmatan dan ketekan kuat pantatku ke bawah dengan keras hingga penisku mentok.

Aaaggggghhhh Mayaa… terimalah semburankuuu” kesemburkan pejuhku ke dalam memeknya. Terasa banyak sekali dan meleleh keluar menetes di sprei

Tubuhku lunglai di atas tubuh Maya. Tubuh kami penuh peluh. Penisku yang masig tegang kubiarkan tetap menancap di dalam memeknya sampai akhirnya mengerut dan terlepas sendiri dari lubang memek.

Akhirnya kami bangkit setelah nafas kami berdua mulai teratur. Lalu kami ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kami pulang menuju rumah masing-masing. Karena sudah agak malam dan angkutan sudah jarang, maka kuberikan ongkos taxi untuk Maya. Kami janjian untuk ketemu 1 minggu lagi.

1 minggu kemudian kami berdua sudah berada di dalam kamar hotel. Kini aq sudah menyiapkan kondom sebelumnya. Begitu masuk kedalam kamar hotel, maya langsung memelukku dan mencumbuiku denga liarnya.
Tanganya dengan cepat melucuti pakaianku. Setelah itu kemudian ia melucuti pakaianya sendiri dengan cepat.
Tanganya sudah meraih penisku, meremas dan mengocoknya. Perlahan tapi pasti penisku semakin tegang mengeras. Kami masih berciuman dan memagut leher.

Kami berdua mulai terangsang hebat dan tubuh kami mulai panas. Detak jantung mulai kencang dan nafas sudah tak beraturan. Kududukkan dia di atas meja. Kini kami lebih leluasa mengeksplorasi tubuh kami. Tanganya masih memiankan penisku. Tanganku meremas-remas toketnya, memilin-milin puting susunya. Kutarik pantatnya sedikit ke depan sehingga posisinya berada dipinggir meja. Dengan bantuan tanganya kucoba menusukkan batang penisku ke lubang memeknya dalam pisisi aq berdiri. Ia menggerakkan pantatnya untuk membantu usahaku. Digesek-gesekkan ujung penisku ke bibir memeknya.

Setelah cukup pelumasanya ia berbisik,
“Ayo mass dorongg”

Kudorong pelan penisku dan akhirnya batang penisku bisa masuk dengan lancar ke lubang memeknya. Dalam beberapa menit kami masih bertahan pada posisi berdiri. Kakiku sudah mulai lemas menahan tubuhku. Kuangkat tubuhnya kemudian kubopong melangkah ke arah tempat tidur.
“Upss.. penisku lepas sayang”

Kudorong dia sambil tetap berpelukan dan berciuman ke kamar mandi. Sampai dalam kamar mandi kulepaskan pelukanku dan kami membersihkan milik kami masing-masing terlebih dulu untuk melanjutkan pertempuran berikutnya yang lebih hot.

Kubopong tubuh mungilnya dan kurebahkan ke tempat tidur. Tak lama kemudian kami kembali bergumul. Maya diatas tubuhku. Kepala Yuni ke bawah, ke perut dan terus ke bawah. Digigitnya pelan batang penisku.

Maya menatapku dan aq menarik biji pelerku sehingga batang kontolku juga tertarik dan berdiri tegak menantang. Aq memberi isyarat ketika kepalanya ada di atas selangkanganku. Kepalanya kemudian bergerak ke bawah. Ia menjilati dan menghisap ujung penisku.

Tiba-tiba tubuhku terasa seperti di setrum ketika lidah Maya menjilati lubang penisku. Kulihat Maya dengan asyiknya menjilat, mengulum dan menghisap ujung penisku. Ia tidak memasukkan seleuruh batang kontolku ke dalam mulutnya, melainkan hanya ujung kontolku saja yang menjadi area kerjanya.

Kutarik tubuh Maya dan kini kutindih tubuhnya. Maya memeluku dan menjilati daun telingkau. Aq merinding. Dadanya yang kencang menekan dadaku. Kucium bibirnya dan kuremas-remas toketnya.
“Ogghh ayo mass.. aq… masukkan maassss… ayoo cepet masukkan…”

Aq menggerakkan pantatku dan segera batang kontolku masuk semua di dalam lubang memeknya.
“Mas joeee… nikmat sekali mas joeee,,, aq ooogghhhh” Ia memekik pelan, lalu kutekan batang penisku sampai amblas.

Tanganya mencengkram kuat punggungku. Tak terdengar suara apapun dalam kamar selain desahan dan erangan kami.

Kutarik keluar batang penisku, kutahan dan kekencangkan ototnya. Perlahan-lahan kumasukkan kepala penisnya saja ke bibir memek yang merah dan basah.

Maya terpejam menikmati permainanku pada bibir memeknya
“Ehgggkk..” dia menjerit tertahan ketika tiba-tiba kutusukkan batang penisku sampai mentok ke dalam rahimnya.

Kukocok pelan setengah batang penis sampai enam kali lalu kusodokkan dengan kencang sampai semua batang penisku amblas di dalam memeknya. Maya menggoyangkan pinggulnya naik turun dan memutar sehingga kenikmatan yang luar biasa sama-sama kami rasakan. Batang penisku seperti di remas-remas rasanya. Kuhisap toketnya dan kumainkan puting susunya dengan lidahku.

Maya seperti orang yang mau berteriak menahan sesuatu menikmati pergumulan ini. Ia meukul-mukul dadaku dengan histeris.

“Ooouugghhhh… terussss… teruskaannn masssss.. benar-benar nikmattt… oogghhhh”

Kini kedua kakiku menjepit kakinya. Ternyata memeknya benar-benar nikmat luar biasa, meskipun agak becek namun goyanganya seperti menydot-nyedot batang penisku.

Aq mulai mengocok lagi. Maya sungguh binal liar sekali. Tubuh kami dibanjiri peluh. Kupacu Maya mendaki puncak kenikmatan. Kami saling meremas, memagut dan mencium.

Kubuka lagi kedua kakinya, kini betisnya melilit betisku. Matanya merem melek. Aq siap untuk menyemburkan pejuhku.

“Maya, aq mau sampai… bentar lagi Mayy.. aq mauuu…”
“Kita barengan masss… oooggghhhh….” Maya melenguh panjang.

Tak lama kemudian…,
“Sekarangg Mayy. Ayo sekaranggg…. aaaggghhhhh” aq mengerang hebat ketika menyemburkan pejuhku

“Mass Joeee… Ooogghhh” kedua kakinya menjepit kuat dan menarik kakiku sehingga penisku tertarik mau keluar.

Aq menahan agar posisi penisku tetap di dalam lubang memeknya. Matanya terbelalak, tanganya mencengkram kuat punggungku, ,ulutnya menggigit dadaku sampai merah. Kemaluan kami saling membalas berdnyut sampai beberapa detik. Setelah beberapa saat kemudian keadaanh menjadi hening dan tenang. KAmi berdua memberisihkan diri dan chek out dari hotel.

Aq meniduri Maya samap 7 kali dan setelah itu tak pernah bertemu lagi. Dulu aq pernah minta nomor telpon kantornya tapi dia tak mau menebrikannya. Entah apa alasanya. Sampai sekarang aq tak pernah bertemu lagi denganya. Meskipun kadang-kadang aq masih nongkrong di tempat kami bertemu.



Kisah Seks Istri Juragan Beras



Aku (Hanif) lelaki berusia 39 tahun. Akhir2 ini, tiba-tiba
aku teringat ketika baru saja selesai menamatkan pendidikanku di SMA tahun 1984.
Sebut saja Kecamatan XXX pada salah satu Kabupaten di Sulsel. Ketika itu aku
menghadapi permasalahan yang hampir sama dengan permasalahanku saat ini yakni
bentrok dengan keluarga. Hanya saja ketika itu, aku bentrok dengan orang tuaku,
sedang saat ini aku bentrok dengan istri.


Ceritanya, hanya persoalan sepele yaitu orang tuaku
menghendaki agar aku tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tapi aku
tetap ngotot untuk mendaftar pada salah satu perguruan tinggi di Makassar.

Karena tidak didukung orang tua, aku terpaksa meminjam uang dari tetangga
sebesar Rp.10.000, buat ongkos mobil ke Makassar dan sisanya buat jajan. Karena
aku tidak punya kenalan di Kota Makassar, maka aku terpaksa bermalam di
terminal bus sambil mencari kenalan agar aku bisa mendapatkan kerja secepatnya.
Kerja apa saja asal halal.

Setelah dua hari aku bergaul dengan orang-orang terminal,
akhirnya ketemu dengan seorang tukang batu yang waktu itu sedang merenovasi
tembok dan ruang tunggu para penumpang. Aku menawarkan diri menjadi buruh pada
tukang tersebut, dan setelah kuceritakan masalahku yang sebenarnya, akhirnya ia
menerima tawaranku itu. Aku ditawarkan gaji Rp.2.000/hari tanpa ditanggung
makan dan penginapan. Aku langsung setuju saja, sebab jika tidak, aku akan mati
kelaparan mengingat uang jajanku telah habis. Namun aku minta agar gajiku dapat
kuterima setiap hari dan tukang itupun setuju.

Setelah lima hari aku bekerja dengan tekun dan bermalam
bersama dengan sopir-sopir bus malam di terminal, aku dikenalkan dengan seorang
pengusaha beras yang kaya oleh salah seorang sopir bus kenalanku di terminal
itu. Malam itu aku diantar ke salah satu rumah besar yang beralamat di Jl. SA.
Aku gemetaran dan nampak kampungan ketika memasuki rumah yang serba mewah itu.
Kalau tidak salah, ada 7 buah mobil truk dan dua mobil sedang serta 3 mobil
kijang pick up di parkir di depannya. Seorang pembantu laki-laki setengah baya
mempersilakanku masuk duduk di ruang tamu. Tidak lama kemudian seorang kimcil
entah pembantu atau keluarga si pengusaha itu sedang membawa 3 cangkir kopi
beserta kue kering. Kue seperti itu rasanya seringkali aku makan di kampungku.
Setelah kami duduk kurang lebih 2 menit di ruang tamu,
tiba-tiba: “Iyana eddi muaseng elo makkulliah na de’ gaga ongkosona? (Ini
orangnya yang kamu maksud mau kuliah tapi tidak punya biaya?)” tanya seseorang yang
baru saja keluar dari kamarnya dengan perawakan tinggi besar, perut gendut
dengan warna kulit agak hitam. Ia gunakan bahasa Bugis mirip bahasa yang
sehari-hari kugunakan di kampungku. “Iye’ puang. Iyana eddi utihirakki (Yah
betul. Inilah orangnya yang saya antar)” jawab si sopir yang mengantarku itu.
Selama di rumah itu, kami bercakap dengan memakai bahasa
daerah Bugis. Namun, untuk memudahkan dan memperjelas kisahku ini, sebaiknya
kugunakan bahasa Indonesia saja tanpa mengurangi makna percakapan kami, apalagi
bahasa percakapan kami adalah campuran bahasa Indonesia dan Bugis.
“Oh yah, masuk saja dulu makan nak, siapa tahu temanmu itu
belum makan malam” katanya pada si sopir itu sambil mempersilakan kami masuk ke
ruang dapur.

Ayo Nif, kita sama-sama makan dulu baru ngobrol lagi”
ajakan si sopir itu seolah ia sudah terbiasa di rumah itu.
“Yah.. Terima kasih Pak. Rasanya aku masih kenyang” kataku
pura-pura kenyang meskipun sebenarnya aku sangat lapar karena belum makan
malam.
“Ayo.. Masuklah.. Jangan malu-malu. Tidak ada siapa-siapa di
rumah ini. Biar sedikit saja di makan” kata sopir bersama dengan si pemilik
rumah itu sambil ia berdiri menuntunku masuk ke ruang makan. Ternyata di atas
meja telah tersedia makanan lengkap seolah meja itu tidak pernah kosong dari
makanan.

Setelah kami duduk di depan meja makan, aku menoleh kiri
kanan dalam ruangan itu dan sempat kulihat 3 orang perempuan di rumah itu.
Seorang di antaranya sedang cuci piring. Ia sudah cukup tua, yang jika ditaksir
usianya sekitar 50 tahun ke atas. Sedang yang satunya lagi sedang berbaring di
atas salah satu tempat tidur sambil membaca koran. Bila ditaksir usianya antara
30 sampai 40 tahun. Namun seorang wanita lagi sedang asyik nonton TV sambil
bersandar pada rosban tempat wanita berbaring sambil baca koran tadi. Ia nampak
masih muda. Jika ditaksir usianya sekitar 17 sampai 25 tahun. Nampaknya ia
masih kimcil. Selama kami menyantap makanan di atas meja itu, kami tidak pernah
bicara sama sekali. Namun aku merasa diperhatikan sejak tadi oleh wanita
setenga baya yang sedang baca koran itu. Ia sesekali mengintip aku sambil
memegang korannya. Lebih aneh lagi, setiap kami beradu pandangan, wanita itu
melempar senyum manis.
Aku sama sekali tidak mengerti maksudnya, tapi aku tetap
membalas dengan senyuman tanpa diperhatikan oleh si sopir teman makanku itu.
Kalau bukan karena si sopir itu berhenti duluan makan, aku tidak bakal berhenti
makan dan aku semakin betah duduk berlama-lama di kursi makan itu berkat
lemparan senyum si wanita setengah baya itu.
Setelah kami duduk kembali bersama dengan si sopir itu di
ruang tamu, laki-laki berperawakan besar tadi kembali duduk di depanku dan
berkata,
“Kamu dari daerah mana dan dimana orang tuamu nak?” tanya
laki-laki itu.
“Dari Bone Pak. Orang tuaku tinggal di kampung” jawabku.
“Kamu tinggal di Kota Bone atau desanya?” tanyanya lagi
serius.
“Di kampung jauh dari kota Pak” jawabku lagi.
“Saya sudah dengar permasalahanmu dari sopir ini. Kalau kamu
mau tinggal sama kami, aku siap membiayai kuliahmu jika kamu lulus nanti”
“Terima kasih banyak Pak atas budi baik bapak. Aku bersyukur
sekali bisa bertemu dengan bapak” kataku dengan penuh kesopanan.
“Kebetulan sekali kami juga asli Bugis tapi Bugis Sinjai.
Bahkan istri pertamaku tinggal di Kota Sinjai” lanjutnya terus terang.
“Yah kalau begitu, aku sangat beruntung pergi ke Makassar
ini,” kataku.

Setelah kurang lebih 3 jam kami ngobrol, laki-laki itu
menyuruh kami masuk ke salah satu kamar depan untuk istirahat. Tapi si Sopir
temanku itu malah minta pamit dengan alasan pagi-pagi mau cari penumpang. Aku
mengerti dan laki-laki tadi yang belakangan kuketahui kalau ia adalah majikanku
dan kepala rumah tangga dalam keluarga itu, mengizinkan si sopir tadi pulang ke
terminal. Sebelum majikanku itu berangkat untuk mengurus usahanya pada esok
harinya, sambil menyantap hidangan pagi bersama istrinya yang kemarin kulihat
baca koran dan anak satu-satunya di rumah itu yang kemarin nonton TV di ruang
makan, ia memperkenalkan seluruh anggota keluarga dan pembantunya di rumah itu,
termasuk sopirnya.
Setelah itu ia tunjukkan kamar tidurku dan jelaskan kerjaku
sehari-hari di rumah itu. Aku diminta menjaga rumah dan membantu istri keduanya
ketika ia sedang pergi ke luar kota mengurus perusahaannya. Aku senang sekali
mendengar pekerjaan yang dibebankan padaku, apalagi membantu istrinya yang
kuyakini cukup ramah dan bijaksana. Sejak hari pertama aku sudah cukup akrab
dengan anggota keluarga di rumah itu dan aku mengerjakan seluruh pekerjaan di
rumah itu, termasuk mencuci, memasak dan menyapu sebagaimana layaknya keluarga
atau pembantu umum di rumah itu.

Sikap kami berjalan biasa-biasa saja tanpa ada
keanehan hingga hari kedua belas. Namun pada hari ketiga belas, pikiranku mulai
terganggu ketika majikan laki-lakiku menyampaikan bahwa ia akan pergi ke Sinjai
untuk membeli gabah dan beras untuk beberapa hari. Aku yakin kalau pergaulanku
dengan istri keduanya itu bisa tambah dekat, sebab akhir-akhir ini istrinya itu
sering minta aku membersihkan tempat tidurnya dan berpakaian yang sedikit
kurang sopan di depanku saat suaminya keluar rumah. Aku justru sangat gembira
mendengarnya.
Setelah majikan laki-lakiku itu berangkat bersama sopir
pribadinya sekitar pukul 9.00 pagi, aku kembali melaksanakan tugas hari-hariku
seperti hari-hari sebelumnya yakni mencuci pakaian, piring dan menyapu tempat
tidur majikanku. Pembantu rumah itu sedang menyapu di halaman belakang,
sementara anak kimcil satu-satunya itu sedang ke sekolah.
“Nif, bisa nggak kamu membantu aku seperti suamiku
membantuku setiap malam?” tanya istri keduanya itu ketika aku sedang
membersihkan tempat tidurnya. Aku sangat kaget dan bingung atas permintaannya
itu. Aku tidak segera menjawab karena aku tidak tahu maksudnya dengan jelas.
“Membantu bagaimana yang ibu maksud?” tanyaku penuh ketakutan.
“Memijit kepala dan punggungku sebelum aku tidur, karena
mataku tak bisa tertidur sebelum dipijit” katanya sambil sedikit senyum.
“Kalau soal pijit memijit, kurasa sangat mudah Bu’. Aku
bisa, tapi.. Tapii aapa bapak tidak marah nanti kalai ia tahu Bu?” tanyaku terbata-bata
kalau-kalau ia hanya memancingku.
“Nggak bakal marah kok. Kan kamu sudah jadi kepercayaannya.

Lagi pula kamu diberi tugas menjaga aku selama ia belum pulang” katanya lagi.
Setelah kusetujui permintaannya, ia lalu keluar dan duduk baca koran di ruang
tamu, sedang aku ke halan depan untuk menyapu, lalu istirahat di kamar tidurku.
Setelah makan malam, aku bersama pembantu nonton TV di ruang
makan, sedang ibu majikanku dan anak gadisnya nonton TV di kamarnya
masing-masing. Setelah siaran berita yang kami tonton habis, pembantu itu pergi
tidur di kamarnya yang berdekatan dengan ruang dapur. Sedangkan anak kimcil
majikanku masih terlihat belajar di kamarnya dengan pintu kamar yang terbuka
lebar. Aku kembali teringat dengan perintah ibu majikanku tadi pagi. Aku
bertanya-tanya dalam hati kapan perintah itu harus kulaksanakan, karena ibu
tidak menjelaskan jam berapa dan di mana. Di ruang makan, atau ruang tamu atau
di kamar tidurnya. Aku tunggu saja perintahnya lebih lanjut.

Setelah terdengar pintu kamar anak kimcil majikanku itu
tertutup dan terkunci rapat sebagai tanda ia sudah mau tidur, maka terdengar
pula pintu kamar majikanku terbuka pertanda ia mau keluar dari kamarnya. Aku
pura-pura tidak memperhatikannya. Namun tiba-tiba ibu majikanku itu duduk tidak
jauh di sampingku sambil nonton TV bersamaku.
“Nif, sudah lupa yach permintaanku tadi pagi?” tanyanya
setengah berbisik yang membuat aku kaget dan gemetar.
“Ti.. Tiidak Bu’. Mmaaf Bu’, aku hampir lupa” jawabku
ketakutan.
“Kalau begitu ayolah. Tunggu apa lagi. Khan sudah larut
malam” ajaknya.
“Ta.. Tapi di mana Bu’?” tanyaku singkat.
“Tentu di kamarku donk. Tidak mungkin di sini atau di
kamarmu” jawabnya. Aku sebenarnya sangat takut kalau ada orang lain yang
mencurigai aku. Tapi karena ini adalah perintah majikan, lagi pula semua orang
di rumah itu pada tidur, maka apapun resikonya aku harus jalankan. Ibu
majikanku berjalan dengan pelan seolah takut pula diketahui orang lain dan ia
menuju kamar tidurnya, sementara aku ikut di belakangnya dengan pelan dan
hati-hati pula.
Setelah masuk kamar, ia lalu menutup dan mengunci pintunya
dengan rapat. Lalu ia membuka daster yang dipakainya dan terus telungkup tanpa
memakai baju, melainkan hanya BH dan celana tipis yang agak pendek di badannya.
“Ayo Nif, silakan dipijit kepala dan leherku bagian belakang
lalu punggungku” pintanya seolah tak sabar menunggu lagi. Aku segera duduk di
pinggir tempat tidurnya, lalu secara pelan dan hati-hati menyentuh kepalanya
bagian belakang, terus turun ke leher belakangnya.
Setelah aku mencoba menekan dan mengeraskan sedikit
pijitanku, ibu majikanku itu tiba-tiba bersuara dengan nada sedikit agak
tinggi.
“Wah.. Kenapa tidak pakai minyak gosok Nif. Ambil di kolom
rosban?”
“Yah.. Yah.. Maaf Bu’. Aku tidak melihatnya tadi” kataku
dengan suara agak tinggi pula.
“Jangan terlalu besar suaranya Nif, nanti kedengaran orang”
kata ibu. Setelah ibu majikanku melarangku bersuara agak keras, ia lalu
berbisik.
“Punggungku juga Nif, biar aku bisa tidur nyenyak”.
Menyentuh kepala dan rambut serta lehernya saja, aku sudah cukup terangsang
dibuatnya. Apalagi memijit kulit punggugnya yang setengah telanjang itu. Tapi
karena itu adalah perintah majikan, maka aku segera laksanakanKetika aku
menurunkan kedua tanganku dan menggosok-gosok punggungnya, terasa hangat
sekali. Kulit tubuhnya sangat putih dan halus. Sesekali aku meletakkan tanganku
di bawah ketiaknya dan di pinggir BH warna abu-abu yang dikenakannya.
Kedua tanganku semakin lengket dan lambat gerakannya ketika
ujung jariku sedikit menyelusup di balik pengikat BH dan pinggir atas
celananya. Bahkan sempat tanganku tidak bergerak sejenak ketika konsentrasiku
mulai mengarah ke balik pakaiannya itu.
“Nif, kenapa diam. Ada apa, sehingga kami tidak menggerakkan
tanganmu itu?” tanyanya sambil bergerak dan sedikit berbalik, sehingga aku
sempat melihat sebagian daging empuk yang ada di balik BH-nya itu.
“Ti.. Tidak apa-apa Bu’. Hanya takut?” jawabku dengan nafas
terputus.
“Takut sama siapa? Khan tidak ada orang lain di sini. Capek
yaah?” Setelah berkata begitu, ibu majikanku tiba-tiba berbalik arah sehingga
ia telentang di depanku. Terpaksa kedua tanganku menyentuh tonjolan BH-nya
tanpa sengaja. Ia hanya sedikit tersenyum dan berkata,
“Tidak keberatan khan jika kamu juga mengurut perutku, biar
tubuhku lebih segar lagi. Ayolah Nif..” katanya sambil meraih kedua tanganku
dan meletakkannya di atas pusarnya. Jantungku terasa hampir copot ketika ibu
majikanku itu mengangkat BH-nya sehingga bukit kembarnya nampak jelas menantang
di bawah kedua batang hidungku. Aku tak mampu bersuara dan mengatur nafas,
bahkan aku sedikit malu menatapnya, tapi,
 “Jangan takut dan
malu Nif. Ini adalah rezkimu, kesempatanmu dan kamu pasti menginginkannya”
katanya ketika aku mulai agak menghindar.
“Bba.. Bagaimana ini Bu’. Kek.. Kenapa bisa bbeggini?”
tanyaku penuh ketakutan dan nafasku sulit lagi kuatur. Sebagai laki-laki normal
yang hanya pernah mendengar dalam cerita, tentu aku tidak mampu menolak dan
menyia-nyiakan kesempatan ini. Kenyataan inilah yang harus kualami, apalagi ini
adalah perintah majikan.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menjatuhkan kedua
tanganku di atas bukit kembar itu. Mula-mula hanya kusentuh, kuraba dan
kuelus-elus saja, tapi lama kelamaan aku mencoba memberanikan diri untuk
memegang dan menekan-nekannya. Ternyata nikmat juga rasanya menyentuh benda
kenyal dan hangat, apalagi milik majikanku. Ibu majikanku kelihatan juga
menikmatinya, terlihat dari nafasnya yang mulai pula tidak teratur. Desiran
mulutnya mulai kedengaran seolah tak mampu menyembunyikannya di depanku.
“Auhh.. Terus Nif, nikmat sayang. Tekan, ayo.. Teruuss..
Aakhh.. Isap Nif.. Jilat donk..” itulah erangan ibu majikanku sambil meraih
kepalaku dan membawanya ke payudaranya yang kenyal, empuk dan tidak terlalu
besar itu. Aku tentu saja tidak menolaknya, bahkan sangat berkeinginan
menikmati pengalaman pertama dalam hidupku ini. Aku segera menjilat-jilat
putingnya, mengisap dan kadang sedikit menggigit sambil tetap memegangnya
dengan kedua tanganku. Aku tidak tahu kapan ia membuka celananya, tapi yang jelas
ketika aku sedikit melepas putingnya dari mulutku dan mengangkat kepala,
tiba-tiba kulihat seluruh tubuhnya telanjang bulat tanpa sehelai benangpun di
badannya.


Ayo Nif, kamu tentu tahu apa yang harus kamu perbuat
setelah aku bugil begini. Yah khan?” pintanya sambil meraih kedua tanganku dan
membawanya ke selangkangannya. Lagi-lagi aku tentu mengikuti kemauannya. Aku
mengelus-elus bulu-bulu yang tumbuh agak tipis di atas kedua bibir lubang
kemaluannya yang sedikit mulai basah itu. Aku rasanya tak ingin memindahkan
mulutku dari bukit kenyalnya itu, tapi karena ia menarik kepalaku turun ke
selangkangannya di mana tanganku bermain-main itu, maka aku dengan senang hati
menurutinya.

“Cium donk. Jilat sayang. Kamu nggak jijik khan?” tanyanya.
“Nggak Bu’” jawabku singkat, meskipun sebenarnya aku merasa
sedikit jijik karena belum pernah melakukan hal seperti itu, tapi aku pernah
dengar cerita dari temanku sewaktu di kampung bahwa orang Barat kesukaannya
menjilat dan mengisap cairan kemaluan wanita, sehingga akupun ingin mencobanya.
Ternyata benar, kemaluan wanita itu harum dan semakin lama
semakin merangsang. Entah perasaan itu juga bisa di temukan pada wanita lain
atau hanya pada ibu majikanku karena ia merawat dan menyemprot farfum pada
vaginanya. Pinggul ibu majikanku semakin lama kujilat, semakin cepat
goyangannya, bahkan nafasnya semakin cepat keluarnya seolah ia dikejar hantu.
Kali ini aku beriNifiatif sendiri menguak dengan lebar kedua pahanya, lalu
menatap sejenak bentuk kemaluannya yang mengkilap dan warnanya agak kecoklatan
yang di tengahnya tertancap segumpal kecil daging. Indah dan mungil sekali. Aku
coba memasukkan lidahku lebih dalam dan menggerak-gerakkannya ke kiri dan ke
kanan, lalu ke atas dan ke bawah. Pinggul ibu majikanku itu semakin tinggi terangkat
dan gerakannya semakin cepat. Aku tidak mampu lagi mengendalikan gejolak
nafsuku. Ingin rasanya aku segera menancapkan penisku yang mulai basah ke
lubangnya yang sejak tadi basah pula. Tapi ia belum memberi aba-aba sehingga
aku terpaksa menahan sampai ada sinyal dari dia.
“Berhenti sebentar Nif, akan kutunjukkan sesuatu”
perintahnya sambil mendorong kepalaku. Lalu ia tiba-tiba bangkit dari tidurnya
sambil berpegangan pada leher bajuku. Kami duduk berhadapan, lalu ia segera
membuka kancing bajuku satu persatu hingga ia lepaskan dari tubuhku. Ibu
majikanku itu segera merangkul punggungku dan menjilati seluruh tubuhku yang
telanjang. Dari dahi, pipi, hidung, mulut, leher dan perutku sampi ke pusarku,

ia menyerangnya dengan mulutnya secara bertubi-tubi sehingga membuatku merasa
geli dan semakin terangsang.
“Nif, aku sekalian buka semuanya yach,” pintanya sambil
melepaskan sarung dan celana dalamku. Aku hanya mengangguk dan mebiarkannya
menjamah seluruh tubuhku sesuai keinginannya.
Setelah aku bugil seperti dirinya, ia lalu meraih tongkatku
yang sejak tadi berdiri dengan kerasnya di depannya, lalu dengan cepat
memasukkan ke mulutnya. Sikap dan tindakan ibu majikanku itu membuat aku
melupakan segalanya, baik masalah keluargaku, penderitaanku, tujuan utamaku
maupun status dan hubunganku dengan majikannya. Yang terpikir hanyalah
bagaimana menikmati seluruh tubuh ibu majikanku, termasuk menusuk lubang
kemaluannya dengan tongkatku yang sangat tegang itu.

“Bagaimana Nif,? Enak yach?” tanyanya ketika ia berhenti sejenak
menjilat dan memompa tongkatku dengan mulutnya. Lagi-lagi aku hanya mampu
mengangguk untuk mengiyakan pertanyaannya. Ia mengisap dan menggelomoh penisku
dengan lahapnya bagaikan anjing makan tulang.
“Aduhh.. Akhh.. Uuhh..” suara itulah yang mampu kukeluarkan
dari mulutku sambil menjambak rambut kepalanya.
“Ayo Nif, cepat masukkan inimu ke lubangku, aku sudah tak
mampu menahan nafsuku lagi sayang,” pintanya sambil menghempaskan tubuhnya ke
kasur dan tidur telentang sambil membuka lebar-lebar kedua pahanya untuk
memudahkan penisku masuk ke kemaluannya. Aku tak berpikir apa-apa lagi dan tak
mengambil tindakan lain kecuali segera mengangkangi pinggulnya, lalu secara
perlahan menusukkan ujung kemaluanku ke lubang vaginya yang menganga lagi basah
kuyup itu. Senti demi senti tanpa sedikitpun kesulitan, penisku menyerobot
masuk hingga amblas seluruhnya ke lubang kenikmatan ibu majikanku itu.
Mula-mula aku gocok, tarik dan dorong keluar masuk secara pelan, namun semakin
lama semakin kupercepat gerakannya, sehingga menimbulkan suara aneh seiring
dengan gerakan pinggul kami yang seolah bergerak/bergoyang seirama. Plag..
Pligg.. Plogg, decak.. decikk.. decukk. Bunyi itulah yang terdengar dari
peraduan antara penisku dan lubang vagina ibu majikanku yang diiringi dengan
nafas kami yang terputus-putus, tidak teratur dan seolah saling kejar di
keheningan malam itu.

Aku yakin tak seorangpun mendengarnya karena semua orang di
rumah itu pada tidur nyenyak, apalagi kamar tempat kami bergulat sedikit
berjauhan dengan kamar lainnya, bahkan peristiwa itu terjadi sekitar pukul
11.00-12.00 malam.
“Bu’, Bu’, aku ma, mau.. Kk” belum aku selesai berbisik di
telinganya, ibu majikanku tiba-tiba tersentak sambil mendorongku, lalu berkata,
“Tunggu dulu. Tahan sebentar sayang” katanya sambil memutar
tubuhku sehingga aku terpaksa berada di bawahnya. Ternyata ia mau mengubah
posisi dan mau mengangkangiku. Setelah ia masukkan kembali penisku ke
lubangnya, ia lalu lompat-lompat di atasku sambil sesekali memutar gerakan
pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Akibatnya suara aneh itu kembali mewarnai
gerakan kami malam itu. Decik.. Decakk.. Decukk. Setelah beberapa menit
kemudian ibu majikanku berada di atasku seperti orang yang naik kuda, ia
nampaknya kecapean sehingga seluruh badannya menindih badanku dengan
menjulurkan lidahnya masuk ke mulutku. Aku kembali merasakan desakan cairan
hangat dari batang kemaluanku seolah mau keluar. Aku merangkul punggung ibu
majikanku dengan erat sekali.
“Akk.. aakuu tak mampu menahan lagi Bu’. Aku keluarkan saja
Bu’ yah” pintaku ketika cairan hangat itu terasa sudah diujung penisku dan
tiba-tiba ibu majikanku kembali tersentak dan segera menjatuhkan badannya di
sampingku sambil telentang, lalu meraih kemaluanku dan menggocoknya dengan
keras serta mengarahkannya ke atas payudaranya. Cairan hangat yang sejak tadi
mendesakku tiba-tiba muncrat ke atas dada dan payudara ibu majikanku. Iapun
seolah sangat menikmatinya. Tarikan nafasnya terdengar panjang sekali dan ia
seolah sangat lega.
Tindakan ibu majikanku tadi sungguh sangat terkontrol dan
terencana. Ia mampu menguasai nafsunya. Maklum ia sangat berpengalaman dalam
masalah sex. Terbukti ketika spermaku sudah sampai di ujung penisku, ia seolah
tahu dan langsung dicabutnya kemudian ditumpahkan pada tubuhnya. Entah apa maksudnya,
tapi kelihatannya ia cukup menikmati.
“Nif, anggaplah ini hadiah penyambutan dariku. Aku yakin
kamu belum pernah menerima hadiah seperti ini sebelumnya. Yah khan?” katanya
seolah sangat puas dan bahagia ketika kami saling berdamping dalam posisi tidur
telentang. Setelah berkata demikian, ia lalu memelukku dan mengisap-isap
bibirku, lalu berkata,
“Terima kasih yah Nif atas bantuanmu mau memijit tubuhku.
Mulai malam ini, Kamu kujadikan suami keduaku, tapi tugasmu hanya menyenangkan
aku ketika suamiku tidak ada di rumah. Mau khan?” katanya berbisik.
“Yah, Bu’. Malah aku senang dan berterima kasih pada ibu
atas budi baiknya mau menolongku. Terima kasih banyak juga Bu’” jawabku penuh
bahagia, bahkan rasanya aku mulai sedikit terangsang dibuatnya, tapi aku malu
mengatakannya pada ibu majikanku, kecuali jika ia memintanya.
Sejak saat itu, setiap majikan laki-lakiku bermalam di luar
kota, aku dan ibu majikanku seperti layaknya suami istri, meskipun hanya
berlaku antara jam 21.00 sampai 5.00 subuh saja. Sedang di luar waktu itu, kami
seolah mempunyai hubungan antara majikan dan buruh di rumah itu. Aku sangat
disayangi oleh seluruh anggota keluarga majikanku karena aku rajin dan patuh
terhadap segala perintah majikan, sehingga selain aku diperlakukan layaknya anak
atau keluarga dekat di rumah itu, juga aku dibiayai dalam mengikuti pendidikan
pada salah satu perguruan tinggi swasta di kota Makassar, bahkan aku diberikan
sebuah kendaraan roda dua untuk urusan sehari-hariku.
Sayang aku dikeluarkan dari perguruan tinggi itu pada
semester 3 disebabkan aku tidak lulus pada beberapa mata kuliah akibat
kemalasanku belajar dan masuk kuliah. Karena aku sangat malu dan berat pada
majikan laki-lakiku atas segala pengorbanan yang diberikan padaku selama ini,
terpaksa aku meninggalkan rumah itu tanpa seizin mereka dan aku kembali ke kota
Bone untuk melanjutkan pendidikanku pada salah satu perguruan tinggi yang ada
di kotaku tersebut. Untung aku punya sedikit tabungan, karena selama kurang
lebih 2 tahun tinggal bersama majikanku, aku rajin menabung setiap diberikan
uang oleh majikanku. Selama 4 tahun mengikuti kuliah di kotaku ini, akhirnya
aku lulus dengan predikat baik berkat ketekunan dan kerajinanku belajar.
Sejak aku selesaikan pendidikan tahun 1991 hingga tahun
1994, aku belum pernah kembali ke kampung asliku dan berkumpul bersama keluarga
karena malu dan takut pada orangtua. Namun pada Sepetember 1995, pikiranku
mulai terpengaruh kembali oleh wanita, bahkan beberapa kali aku ingin menikmati
apa yang pernah kunikmati bersama dengan ibu majikanku dulu, tapi aku takut
resiko dan dosa. Karena aku merasa sudah punya biaya dan matang untuk berumah
tangga, akhirnya kuputuskan untuk kembali kampung membicarakan dengan orang
tuaku.

Orangtuaku sangat bangga dan bersyukur serta berterima kasih
atas keberhasilanku memperoleh sarjana sekaligus merestui niatku untuk berumah
tangga, bahkan menyerahkan penuh padaku untuk memilih pasangan sendiri. Tahun
itupula aku kawin dengan pilihanku sendiri, biaya dan urusannya tidak
kubebankan orangtuaku. Sejak tahun itu sampai tahun ini, hubunganku dengan
istri berjalan harmonis, bahkan kami telah dikaruniai 2 orang putra dan seorang
putri. Tapi gara-gara kehilangan pekerjaan, kami seringkali cekcok dan bentrok
dengan istri. Akhirnya kuputuskan meninggalkan rumah dan pergi ke salah satu
kota di Sulsel untuk mencari pekerjaan. Tiba-tiba aku ketemu dengan teman
kuliah yang sudah menjadi pengusaha besar dan lagi-lagi pengusaha beras.
Anehnya lagi, temanku itu tinggal bersama istri keduanya, sebab istri pertamanya
tinggal di kota Bone. Tawaran temanku itu hampir sama dengan tawaran majikanku
dulu yakni menjaga keluarganya dan membantu mengurus usahanya ketika ia ke luar
kota. Pikiranku mulai aneh-aneh dan ingin kembali mengulang sejarah masa lalu,
apalagi istri temanku itu belum dikarunia seorang anak dan ia cantik lagi ramah
padaku.


Rabu, 01 Februari 2017

Cerita Mesum Terhangat Kamar Rahasia



Kulit Murti putih, halus dan lembut: layaknya gadis keturunan pada umumnya. Wajahnya tidak seberapa cantik. polos dan berkacamata


Murti yang saat ini sedang menempuh kuliah di salah satu universitas swasta di kota S tinggal bersama ci Debora yang menyewakan salah satu dari 2 kamarnya yang kosong kepada Murti. Penampilan ci Debora berbeda sekali dengan Murti: di usianya yang hampir 30, ci Debora boleh dibilang sangat pandai merawat tubuhnya — kulit putih halus dengan ukuran toket sedang: 34. Parasnya cantik, rambut panjang bergelombang.

Rupanya, ci Debora yang sudah lama tidak merasakan belaian pria — menyimpan; lebih tepatnya menimbun gairah yang secara perlahan-lahan telah menggerogoti moralnya (walaupun belum sampai mengenai akal sehatnya). Selama ditinggalkan kekasihnya sejak 7 tahun yang lalu, ia sering merasa kesepian — tak jarang ia berusaha memuaskan dirinya sendiri dengan berbagai peralatan dan VCD yang disewanya/dibeli melalui pembantunya, karena ia sendiri sebenarnya malu kalau harus terang-terangan membeli atau menyewa benda-benda seperti itu.

Demikian pula untuk bermain dengan pria yang tidak dikenal, ci Debora menganggap mereka tidak bersih sehingga ia takut untuk berhubungan badan dengan mereka. Namun demikian, ini tidak mengurangi fantasi ci Debora dalam membayangkan bentuk seks yang diinginkannya. Bahkan sejak 2 tahun yang lalu, ia juga mulai tertarik untuk melakukan hubungan seks dengan sesamanya. Ini dapat dilihat dari reaksinya terhadap Murti sehari-hari, tak jarang ia menelan air ludah dan menjilati kedua bibirnya apabila melihat Murti mengenakan kaos ketat apabila ia ke kampus. Padahal, bentuk tubuh Murti begitu biasa — apalagi apabila dibandingkan dengan dirinya sendiri yg jauh lebih seksi.

Apa yang dilihat pada diri Murti adalah dirinya sendiri 10 tahun silam; ketika ia masih berada di awal-awal usia 20 tahun: alim dan rajin — namun begitu naif. Ci Debora sendiri bertekad untuk memberinya ‘pelajaran’ suatu saat. Namun — sesudah agak lama tinggal bersama Murti, barulah Ci Debora mengetahui bahwa ia sudah tidak perawan lagi: ketika ia masih SMP dulu — pacarnya sendiri memperkosanya dan sejak saat itu, Murti begitu minder dan seringkali menhindar dari pergaulan sekitarnya, hingga saat ia kuliah. Ci Debora mengetahui hal ini dari Murti sendiri yang memandang Ci Debora sebagai wanita yang sabar, bijaksana dan dewasa.
Pucuk dicinta ulam tiba, seminggu yang lalu — adik ci Debora yang laki-laki tiba dan hendak menginap untuk satu bulan karena suatu urusan. ‘Sekali tepuk 2 lalat’ — inilah yang ada dalam pikiran ci Debora melihat adiknya sendiri dan Murti.

Suatu sore sejak 3 hari kedatangan adiknya — Ci Debora sudah mempersiapkan rencana yang baik: pertama adiknya, kemudian Murti. Biasanya, Murti tiba di kos pukul 19:00 dan ia hendak memulai rencananya itu pukul 18:30 dengan melakukan ‘pemanasan’ terhadap adiknya. Pukul 18:30, Debora memanggil adiknya untuk masuk ke kamarnya. Tanpa berprasangka apa-apa, adiknya masuk ke kamarnya. Dilihatnya Ci Debora yang mengenakan celana pendek jins ketat dan kaos tanpa lengan yang ketat pula — ia sedang menghadap ke cermin dan mengikat rambutnya yang bergelombang halus itu.

Melihat bayangan adiknya di cermin, Ci Debora tersenyum dan berkata:
“Masuk saja, cici cuman sebentar koq.” Diam-2, adiknya memperhatikan cicinya dan berpikir:
“Cantik juga, walaupun sudah kepala tiga. Badannya juga begitu padat dan seksi..” Ci Debora yang mengerti bahwa dirinya sedang diperhatikan adiknya sendiri hanya tersenyum simpul — tiba-tiba ia berdiri, mendekati adiknya dan menggandeng tangannya. Adiknya kaget sekali namun ia tidak berkata apa2. Ci Debora membimbing adiknya menuju sebuah pintu sambil sesekali melirik ke belakang dan tersenyum simpul ke arah adiknya.
Ci Debora membuka pintu kamar tersebut dan menyalakan lampunya. Ternyata, apa yang dilihat adiknya adalah sesuatu yang menakjubkan namun juga membuatnya sedikit shock: sebuah kamar yang cukup luas — dengan seluruh dinding ditutupi bahan kedap suara berwarna pink. Ranjang yang terletak di tengah ruangan, sebuah TV lengkap dengan stereo-setnya yang mewah: juga 3 teve hitam-putih kecil yang menampakkan situasi di ruang tamu, kamar Murti dan kamarnya sendiri.
Namun yang membuatnya begitu kaget dan sedikit takut adalah koleksi VCD, video dan DVD dewasa yang berserakan di lantai. Berbagai alat bantu seksual, dan sebuah manekin lengkap dengan kemaluan palsunya segala. Tahulah ia apa yang diinginkan dari cicinya — tanpa disadarinya, Ci Debora sudah mengunci pintu kamar dan mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Namun ia berhenti sampai pakaian dalam saja. Jadilah Ci Debora hanya mengenakan bra dan celana-dalam warna hitam, ia berdiri begitu seksi dan menggoda dengan rambutnya terikat (untuk memudahkannya saat permainan nanti, begitulah yang ada di pikiran Ci Debora).

“Sudahlah, kamu menurut saja — toh kamu disini hanya sebulan. Masa kamu tidak kasihan sama cici yg sudah lama tidak merasakan hangatnya tubuh pria?”

Adiknya masih ragu. Ci Debora tahu ini — dan tanpa membuang banyak waktu, ia segera maju ke depan membuka celana pendek adiknya dengan mudah (entah bagaimana, adiknya tidak mampu melawan cicinya sendiri). Mulailah ia mengoral batang kemaluan adiknya itu. Ci Debora mempercepat gerakan mengocoknya dengan tangan kanan, dia menengadah dan menatap wajah adiknya dengan tatapan tajam penuh birahi — ia mendesis sambil berkata:

Sss.. awas kalau kamu berani keluar sebelum aku. Lebih baik kamu cari kos lain saja, meskipun kamu adikku!”
Sesudah berkata demikian, ci Debora memasukkan seluruh batang kemaluan adiknya ke dalam mulutnya. Ia menggerakkan kepalanya maju mundur — membuat batang kemaluan adiknya keluar-masuk dengan sangat cepat. Adik ci Debora hanya dapat mengerang nikmat mendapat perlakuan seperti itu dari cicinya yang ternyata sangat berpengalaman dalam hal memuaskan pasangan mainnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan cicinya. Di tengah-tengah permainan, Ci Debora melepaskan branya dengan tangan kirinya yang masih bebas. Diliriknya teve hitam putih yg secara rahasia memonitor kamar Murti. Ternyata ia baru saja datang, dan waktu menunjukan pukul 18:55. Tepatlah perhitungannya: adiknya yang gairahnya sedang menanjak pasti akan mau diajaknya berkompromi.
Ci Debora menghentikan oralnya, dan tahulah ia bahwa adiknya agak kecewa.
“Tunggu sebentar — aku ada tugas buat kamu: bawalah Murti ke kamar ini.” Adiknya mengerti apa yang diinginkan ci Debora. Sementara adiknya pergi memanggil Murti — ia segera mematikan monitor2-nya, melepas celana dalamnya yang sedikit basah dan bersembunyi di sebelah pintu. Begitu adiknya masuk bersama Murti — ia segera mengunci kamarnya lagi dan mendorong Murti hingga jatuh ke ranjang. Murti yang bertubuh kurus dan lelah sehabis kuliah tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti terhadap perlakuan Ci Debora yang begitu tiba-tiba tersebut. Ci Debora melucuti kaos ketat yang dikenakan Murti dengan buas.

“Kyaa..!!” Murti menjerit, namun percuma karena ruangan tersebut kedap suara. Adik Ci Debora hanya diam saja karena shock melihat keganasan cicinya — apalagi dengan sesama jenis! Ci Debora telah sampai pada branya. Dengan kasar, ia merenggut bra Murti dan melemparkannya ke lantai. Ci Debora melihat sepasang toket Murti yang kecil.

“Seharusnya kamu tidak usah pakai bra sama sekali. Toh tidak memberi perbedaan yang berarti..” Ci Debora melanjutkan dengan melepas kancing celana jins Murti dan membuka ritsluitngnya dan melepaskannya.

“Pahamu putih dan mulus juga yah..” Terakhir, Ci Debora menurunkan celana dalam Murti. Murti tak dapat berbuat apa-apa terhadap Ci Debora yang terus menggerayangi tubuhnya dan sesekali menciuminya. Tiba-tiba Ci Debora berdiri dan berjalan menuju lemari. Diambilnya sebuah kemaluan palsu (dildo) dan semacam lotion. Ia mengolesi dildonya dengan lotion tersebut dan memberikannya kepada adiknya,

“Kamu pakai juga. Aku tidak mau dia berteriak-teriak kesakitan.” Adik Ci Debora menurut — ia melepas seluruh pakaiannya dan mulai mengolesi batang kemaluannya dengan lotion yang diberikan cicinya.
“Jangan ci.. saya takut.” Murti yang sudah lemas berkata dengan penuh kekuatiran, melihat ci Debora mengenakan kemaluan palsu (dildo) bergerigi dengan ukuran yang cukup mengerikan seperti mengenakan celana dalam. Ci Debora dengan cepat bergerak ke arah Murti.
“Diam. Mana lotionnya.” Sesudah mendapatkan lotion, ia mulai mengolesi dinding kemaluan Murti sambil berkata: “Kamu jangan takut, percaya sama cici saja. Sesudah itu, ia membalikkan tubuh Murti dan melumasi lubang pantatnya pula.

“Ayo — kamu lubang yang satunya!!” ci Debora memerintahkan adiknya untuk menyetubuhi Murti yang malang di lubang duburnya. Adiknya menurut, ia berpindah — duduk di atas ranjang. Ci Debora memapah tubuh Murti dengan lembut dan menempatkannya di atas adiknya. Murti yang tidak berdaya hanya dapat memandang sorot mata penuh gairah ci Debora yang sedari tadi sibuk mengatur posisi dan membantu adiknya memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang dubur Murti. Bles! Batang kemaluan adik ci Debora akhirnya berhasil masuk ke dalam dubur Murti yang sudah tidak keruan bentuknya karena sedari tadi diobok-obok oleh ci Debora.
Rasa sakit bercampur nikmat membuat Murti membelalakkan matanya, ia membuka mulutnya dan merintih
“Aaa..” Ci Debora membaringkan Murti dari posisi terduduk menjadi terlentang dengan adiknya di bawahnya (dan batang kemaluannya yang sudah menancap ke dalam lubang dubur Murti).
“Murti, aku yakin kamu akan menyukai ini dan pasti ketagihan sesudah ini.” Ci Debora memasukkan dildo-nya ke dalam lubang kemaluan Murti.

Murti yang berada di tengah dengan keadaan tak berdaya, berusaha menahan nikmat bercampur nyeri di lubang kemaluan yang sudah dihujami dildo dari ci Debora — serta batang kemaluan adik ci Debora yang menancap di lubang duburnya. Mulailah ranjang bergoyang.. mulanya perlahan, namun semakin lama semakin cepat.. demikian pula dengan rintihan-rintihan Murti..
“Aaa.. aa..” Murti masih mengenakan kaca mata minusnya ketika permainan ini dimulai.

Ci Debora tertawa melihat Murti berusaha bertahan:
“Jangan ditahan dan jangan dilawan Murti — nikmati saja, sayang!!” Perlahan-lahan rintihan Murti mulai berubah menjadi jeritan nikmat penuh birahi..
“Ah.. ah.. yess.. mmhh.. MM.. AAHH..” Kenikmatan disetubuhi di kedua lubangnya secara bersamaan membuat Murti kehilangan kendali. Murti yang sopan dan alim perlahan larut.. perlahan berubah menjadi Murti yang liar, sifat liar yang seakan ditularkan dari ci Debora — meracuni pikiran Murti yang semula begitu bersih dan polos.
“Yah.. teruskan!! LEBIH CEPAT LAGI CI DEBORA..!! AA.. AA.. MMHH.. MM..”

Murti menggenggam seprei ranjang dengan sangat kuat, keringat meluncur deras dari sekujur tubuhnya — membuat kulitnya tampak mengkilat di bawah cahaya lampu. Hal ini membuat Ci Debora semakin bergairah mempercepat gerakan pinggulnya. Murti semakin menikmatinya — ia memejamkan matanya sambil memegang rambut ci Debora.



“AGH.. Enak sekali.. Ci.. aa.. aku.. belum pernah.. uuh.. senikmat ini..” Adik Ci Debora menganal lubang pantat Murti sambil meremas-remas kedua toket Murti dari belakang, walaupun ukuran toket Murti relatif kecil — namun ini tidak mengurangi rangsangan demi rangsangan yg diterimanya.

Auuh.. ah..” mulut Murti menganga dan mengeluarkan teriakan-teriakan yg semakin tidak jelas. Tubuhnya pun mulai menegang; tahulah Ci Debora bahwa “anak didiknya” saat ini hampir mencapai puncak kenikmatan.
Ci Debora mengurangi kecepatan bermainnya dan mengubah gerakan maju-mundurnya menjadi gerakan mengaduk dengan menggoyangkan pinggulnya. Murti secara alami mengikuti gerakan Ci Debora dengan menyesuaikan gerakan pinggulnya. Hal ini justru menambah kenikmatan bagi Murti. Sampai akhirnya — tubuh Murti benar-benar menegang dan Murti melepaskan teriakan yang cukup panjang dan memenuhi seluruh ruangan kedap suara tersebut. Sesudah itu, teriakan berhenti dan seluruh ruangan menjadi sepi. Ci Debora mencabut dildo dari lubang kemaluan Murti, ternyata dildo tersebut sudah ditutupi cairan kental dan bahkan saat Ci Debora menariknya keluar — ada sebagian dari cairan tersebut menetes dan adapula yang masih merekat antara dinding kemaluan Murti dengan dildo Ci Debora.

Adik Ci Debora juga mencabut dildonya dari lubang dubur Murti dan merebahkan Murti yang sudah lemas di ranjang. Murti masih memejamkan kedua matanya — Ci Debora melepas kacamata Murti yang masih dikenakannya dan meletakkannya di meja yg terletak di tepi ranjang.
“Lain kali, kalau mau main — jangan lupa lepas dulu kacamatanya..” Ci Debora tersenyum dan mencium Murti, kemudian ia melepaskan dildonya dan menggelatakannya begitu saja di lantai. Ia memandang adiknya dan berkata:
“Kamu jangan bengong saja, kamu masih punya tugas satu lagi.” Sesudah berkata demikian, ia duduk di lantai — melebarkan kedua pahanya: mengarahkan lubang kemaluannya yang sudah basah ke arah adiknya.
Kemudian ia menunjuk ke arah kemaluannya:
“Ayo: gunakan lidahmu.” Adiknya mengerti apa yg harus dilakukan. Ia menjilat-jilat lubang kemaluan ci Debora dengan hati-hati. Keenakan, c ci Debora memejamkan matanya — nafasnya tak beraturan: desahan- desahan nikmat meluncur keluar tak terkontrol dari mulutnya. Ia menjambak rambut adiknya dan menekan-nekan wajah adiknya itu ke lubang kemaluannya:
“Errghh.. aaghh.. niikkmmaatt sekkaallii.. ss..!!” Ci Debora benar-benar menikmati setiap hisapan dan jilatan yang diberikan adiknya ke liang kewanitaannya, namun di tengah ambang sadar dan tidak — Debora ingat bahwa ia tidak ingin mencapai orgasme dengan cara seperti ini.
“Aah.. tunggu say — bee.. berhentii duluu.. mmh.. sekarang giliran.. cici ngerjain punya kamuu..”

Adik Ci Debora menurut dan berhenti. Ci Debora bergerak kemudian berjongkok membelakangi adiknya, sekarang ia dalam keadaan berjongkok menghadap pantat adiknya. Adiknya agak kebingungan dengan tingkah laku cicinya. Namun Debora cuek saja: tangan kirinya ia lewatkan di antara kaki adiknya, dan dengan tangannya itu ia mencengkeram buah pelir adiknya dengan halus dan mulai memijat- mijatnya.
“Tenang saja, sayang — kujamin kamu akan suka sekali..” Ci Debora tersenyum penuh gairah, dan dengan tangan kiri masih memegang buah pelir adiknya — ia mengangkat telapak tangannya, menghadapkannya ke arah wajahnya — dan meludahi tangannya sendiri kemudian mengerut-ngerutkan tangannya.
Kemudian ia melingkarkan tangan kanannya dari pinggang sebelah kanan adiknya — langsung menuju ke arah kemaluan adiknya. Dan mulailah ia mengocok-ngocoknya batang kemaluan adiknya itu dengan tangan kanannya yang sudah dilumasi air ludahnya sendiri.
“Aaaghh.. duh, enak sekali ci..” Ci Debora meneruskan gerakan tangannya sampai ia merasa batang kemaluan adiknya sudah cukup keras. Sesudah itu, ia membalikan badannya dan mengambil posisi nungging di lantai. Tahulah adik ci Debora apa yang diinginkan cicinya ini. Ia juga mengatur posisi di belakang cicinya:
“Awas ya — pokoknya aku nggak mau anal. Maenin lubangku yang biasa aja.” Adiknya menurut, dan permainan dimulai.
Adik ci Debora memulai gerakannya dengan perlahan,
“Mmm.. masih kurang, lagi dong!” Gerakan dipercepat, Ci Debora memejamkan matanya keenakan. Ia menambah kenikmatan dengan menggesek-gesek klit-nya sendiri, dengan sebelumnya membasahi jari-jarinya dengan cara mengulumnya sendiri.
“Uuuaah.. enaakk sayaang.. Mmmh..” Permainan ini berlangsung agak lama sampai ci Debora minta ganti posisi lagi. Kali ini ia ingin disetubuhi dengan posisi tubuh menyamping. Ci Debora menyampingkan tubuhnya yang seksi dan sudah mandi keringat tadi ke arah kanan, sementara adik Ci Debora mengangkat paha mulus cicinya sebelah kanan dan menyandarkannya ke bahu sebelah kirinya.
Dengan demikian, ia dengan leluasa dapat memasukkan batang kemaluannya ke lubang ci Debora. Ia mulai bergerak maju mundur,
“Aaahh.. mm..” Untuk sekedar menambah kenikmatan, ia mengarahkan tangan kanannya ke arah pantatnya sendiri dan menggerakan jari tengahnya keluar- masuk lubang pantatnya.
“Kyyaahh.. uuhh..” Tubuh ci Debora terus bergoyang-goyang — toketnya pun bergerak naik turun tak beraturan mengkuti irama tubuhnya. Adik ci Debora yg sedari tadi bergitu terangsang dengan gerakan toket cicinya sendiri itu sudah tak tahan lagi, ia memajukan tangan kanannya guna meremas toket kanan cicinya itu.
“Oh — susumu begitu empuk ci..” Ci Debora hanya tersenyum, ia mencabut tangannya dari lubang pantatnya — dan ikut meremas toketnya bersama-sama dengan tangan adiknya itu. Permainan terus berlangsung, Ci Debora merasakan tubuhnya sendiri mulai menegang — ia sendiri sudah tidak mampu berpikir jernih lagi.
Hanya kenikmatan yang dirasakan sekujur tubuhnya sekarang.
“AAHH.. AAKKUU.. MMH..” Keluarlah Ci Debora, mencapai orgasme yang diidam-idamkannya dalam posisi menyamping. Tercapailah segala keinginannya selama ini.
Demikian pula adik ci Debora, ia segera berdiri karena sudah tidak tahan lagi, dan ci Debora mengetahui hal ini — karena ia sudah berhasil meraih orgasme, maka ia berniat membantu adiknya untuk mengeluarkan seluruh peju yang sangat ia inginkan itu. Ci Debora berjongkok, tersenyum menggoda ke arah adiknya dan mulai mengocok batang kemaluan adiknya.

“Nah, sekarang cici ingin merasakan nikmatnya cairan kejantananmu. Ayo sayang.. keluarkan — jangan ragu.. ayo!” Ci Debora memainkan batang kemaluan adiknya naik turun dengan gerakan memutar sambil sesekali menjilat pangkal kemaluan adiknya.
“Aih.. masih belum keluar juga.. sebentar..” Sambil mengocok batang kemaluan adiknya dengan menggunakan tangan kanannya, ci Debora memijat buah pelir adiknya.
“Ah.. ci.. aku mau keluar nih..!!” Ci Debora langsung mengarahkan ujung batang kemaluan adiknya ke arah mulutnya, menyambut cairan peju yang segera muncrat masuk ke dalam mulutnya.
Murti yang sedari tadi tergeletak lemas berusaha bangkit dan merangkak menuju ci Debora dan adiknya.
“Ci Debora.. saya juga mau..”, kata Murti sambil menunjuk ke arah mulutnya sendiri. Tetes peju terakhir sudah habis meluncur turun ke dalam mulut ci Debora yang seksi. Ci Debora menelan sedikit peju adiknya dan menahan sisanya di dalam mulutnya. Ia tersenyum dengan mulut belepotan peju adiknya, membelai Murti, kemudian membaringkannya, dan meletakkan kepala Murti di pangkuannya. Murti yang sudah lemas hanya menurut seperti anak kecil. Dengan gerakan yang lembut, ci Debora menyentuh bibir Murti dan menggerakannya ke bawah dengan jari telunjuknya.
Murti mengerti apa yang dimaksud ci Debora, ia membuka mulutnya. Bibirnya bergetar. Ci Debora kembali tersenyum — ia mengarahkan mulutnya tepat di atas bibir Murti yang sudah merekah, kemudian membuka dan memuntahkan peju lengket yang sudah bercampur dengan air liur ci Debora, turun memasuki mulut Murti.
Peju dalam mulut ci Debora sudah habis dipindahkan ke dalam mulut Murti. Ci Debora tersenyum lebar dengan sedikit sisa peju bercampur liur pekat yang menetes dari ujung bibirnya.
Kembali, dengan gerakan lembut — ci Debora memberi isyarat kepada Murti untuk menutup mulutnya. Murti menuruti dan tersenyum bersamaan dengan ci Debora.
“Nah, aku tidak pernah pelit kepada gadis manis seperti kamu. Ambillah bagianmu dan nikmatilah.” Murti menelan peju yang sudah diberikan ci Debora kepadanya.

“Terima kasih ci..” Kemudian ia bangkit dan duduk — Murti menyentuh wajah ci Debora dengan lembut. Murti kembali membuka mulutnya, bergerak maju ke arah bibir ci Debora sambil menjulurkan lidahnya. Ci Debora yang mengerti maksud Murti segera menyambut ciuman Murti dengan menjulurkan lidahnya pula. Mereka berciuman sampai lama — dan saling menjilati sisa-sisa peju hingga bersih.
Sejak saat itu, kehidupan ci Debora dan Murti selalui dipenuhi dengan petualangan: hampir setiap bulan Murti ‘menjebak’ teman kuliahnya — entah itu pria atau wanita. Mungkin dalam kesempatan lain, Murti dapat membagi kisah petualangannya disini.