Sabtu, 04 Maret 2017

Cerita Sex Om Pemuas Nafsu

Om Ical, 47 tahun juga cukup dikenal akrab oleh Dita karena
dia sering bertandang di rumah sahabatnya ini. Pada penampilan luarnya Om Ical
bertampang simpatik dan malah kelihatan sebagai orang alim, tapi kenapa sampai
bisa berhubungan dengan Dita ini awalnya cukup konyol.
Secara kebetulan keduanya saling kepergok di sebuah hotel ketika masing-masing akan melakukan
perbuatan iseng. Om Ical saat itu sedang menggandeng seorang pelacur langganan
tetapnya dan Dita saat itu sedang digandeng dr.Hadi.

Keduanya jelas-jelas bertemu di sini sama-sama tidak bisa
mengelak. Tentu saja sama-sama kaget tapi masing-masing cepat bisa bersandiwara
pura-pura saling tak kenal.

Kelanjutan dari itu masing-masing sepakat bertemu di kesempatan
tersendiri untuk saling menjelaskan dan membela diri. Bahwa kalau Dita mengaku
hubungannya dengan dr.Hadi karena kena bujuk rayu diajak beriseng dan cuma
dengan laki-laki itu saja, sedang Om Ical mengaku bahwa dia terpaksa mencari
pelarian karena Tante Vera, istrinya, katanya sudah kurang bergairah
menjalankan kewajibannya sebagai istri di ranjang. Masuk akal bagi Dita karena
dilihatnya Tante Vera yang gemuk itu memang lebih sibuk di luar rumah mengurus
bisnis berliannya ketimbang mengurus suami dan keluarganya. Itu sebabnya Mifta,
salah satu anaknya juga jadi bebas dan liar di luaran.

Dari pertemuan itu masing-masing nampak sama ketakutan kalau
rahasianya terbongkar di luaran. Dita takut hubungannya dengan dr.Hadi didengar
orang tuanya sedang Om Ical juga lebih takut lagi nama baiknya jadi rusak.
Berikutnya karena terlanjur sudah saling terbuka kartu masing-masing, keduanya
yang berusaha agar saling menutup mulut jangan membuka rahasia ini justru
menemukan cara tersendiri yaitu dengan membuat hubungan gelap satu sama lain.
Ide ini terlontar oleh Om Ical yang coba merayu Dita ternyata diterima baik
oleh Dita.

Singkat cerita kesepakatan pun tercapai, cuma ketika
menjelang janji bertemu di suatu tempat di mana Om Ical akan menjemput dan
membawa Dita ke sini, Dita meskipun melihat tidak ada salahnya mencoba iseng
dengan Om Ical tidak urung berdebar juga jantungnya. Tegang karena partner kali
ini hubungannya terkait dekat. Sekali meleset dan terbongkar bisa fatal urusan
malunya. Begitu juga waktu sudah semobil di sebelah Om Ical, sempat kikuk malu
dia dengan laki-laki yang ayah sahabatnya ini.
Pasalnya Om Ical yang sebenarnya juga sama tegang karena
kali ini yang dibawa adalah teman dekat anak gadisnya, dia hampir tidak ada
suaranya dan pura-pura sibuk menyetir mobilnya sehingga Dita didiamkan begini
jadi salah tingkah menghadapinya.beritaseks.com Tapi waktu sudah masuk kamar sini
dan mengawali dengan duduk ngobrol dulu merapat di sofa, di situ mulai ke luar
keluwesan Om Ical dalam bercumbu. Dita pun mulai lincah seperti biasa pembawaannya
kalau sedang menghadapi dr.Hadi. Genit manja jinak-jinak merpati membuat si Om
tambah penasaran terangsang kepadanya. Waktu itu dengan mesra Om Ical
menawarkan makan pada Dita tapi ditolak karena masih merasa kenyang.
“Aku minta rokoknya Om.. Dita pengen ngerokok.” pinta Dita
sebagai alternatif tawaran Om Ical.
“Oh ngerokok juga? Iya ada, mari Om yang pasangin. Om nggak
tau kalo Dita juga ngerokok.”
“Cuma sekali-sekali aja, abis deg-degan pergi sama Om ke Sini.”
jelas Dita menunjukan kepolosannya.
“Kok sama, Om juga sempat tegang waktu bawa Dita di mobil
tadi, takut kalo ada yang ngeliat.”
Masing-masing sama mengakui apa yang dirasakan selama dalam
perjalanan. Dita mulai menggoda Om Ical.
“Masa udah tegang duluan, kan belum apa-apa Om?” godanya
dengan genit.
“Oo yang itu memang belum, tapi jantungnya yang tegang.”
jawab Om Ical setelah membakar sebatang rokok buat Dita yang sudah langsung
menjulurkan tangannya, tapi masih belum diberikan oleh Om Ical.
“Mana, katanya mau pasangin buat Dita?”
“Sebentar, sebelum ngerokok bibirnya Om musti cium dulu..”
Menutup kalimatnya Om Ical langsung menyerobot bibir Dita
memberinya satu ciuman bernafsu, dibiarkan saja oleh Dita hanya setelah itu dia
menggigit bibir malu-malu manja menyandarkan kepalanya di dada Om Ical sambil
menyelingi dengan merokok yang sudah diterimanya dari Om Ical. Melihat ini Om Ical
semakin berlanjut.
“Bajunya basah keringetan nih, Om bukain ya biar nggak
kusut?” katanya menawarkan tapi sambil tangannya yang memeluk dari belakang
mulai mencoba melepas kancing baju Dita.
Lagi-lagi Dita tidak menolak. Dengan gaya acuh tak acuh
sibuk mengisap rokoknya, dia membiarkan Om Ical bekerja sendiri malah dibantu
menegakkan duduknya agar kemejanya dapat diloloskan dari lengannya membuat dia
tinggal mengenakan kutang saja. Dita memang sudah terbiasa bertelanjang di
depan lelaki, jadi santai saja sikapnya. Tetapi ketika tangan Om Ical
menyambung membuka reitsleting belakang rok jeans-nya dan dari situ akan
meloloskan rok berikut celana dalamnya, baru sampai di pinggul Dita
menggelinjang manja.
“Ngg.. masak aku ditelanjangin sendiri, Om juga buka dulu
bajunya?”
“Iya, iya, Om juga buka baju Om..”
Segera Om Ical melucuti bajunya satu persatu sementara Dita
bergeser duduknya ke sebelah. Berhenti dengan hanya menyisakan celana dalamnya,
dia pun beralih untuk meneruskan usahanya melepas rok Dita. Sekarang baru
dituruti tapi juga sama menyisakan celana dalamnya. Tentu saja Om Ical mengerti
bahwa Dita masih malu-malu, dia tidak memaksa dan kembali menarik Dita
bersandar dalam pelukan di dadanya. Di situ dia mulai dengan mengecup pipi Dita
sambil mengusap-usap pinggang bergerak meremas lembut masing-masing pangkal
bawah susu si gadis yang masih tertutup kutangnya.
“Dita kurus ya Om?” tanya Dita sekedar menghilangkan salah
tingkah karena susunya mulai digerayangi Om Ical.
“Ah nggak, malah bodimu bagus sekali Ta.” jawab Om Ical
memuji Dita apa adanya karena memang tubuh gadis ini betul-betul berlekuk indah
menggiurkan.
“Tapi Om kan senengnya sama yang mantep, yang hari itu Dita
liat ceweknya montok banget..”
“Iya tapi orangnya jelek, udah tua. Abisnya nggak ada lagi
sih? Maunya nyari yang cakep kayak Dita gini. Kalo ini baru asyik..” rayu Om Ical
sambil kali ini mencoba untuk membuka pengait bra Dita yang kebetulan terletak
di bagian depan.
“Om sih ngerayu. Buktinya belon apa-apa udah bilang asyik
duluan?”
“Justru karena yakin maka Om berani bilang gitu. Coba aja
pikir, ngapain Om sampe berani ngajak Dita padahal jelas-jelas udah tau temen
baiknya Mifta, ya nggak? Kalo bukan lantaran tau kapan lagi dapet asyik
ditemenin cewek secakep Dita, tentu Om nggak akan nekat gini. Udah lama Om
seneng ngeliat kamu Di.”
Dita kena dipuji rayuan yang memang masuk akal ini kontan
berDiar-Diar bangga di wajahnya. Perempuan kalau terbidik kelemahannya langsung
jadi murah hati, segera mandah saja dia membiarkan kutangnya dilepas sekaligus
memberikan kedua susu telanjangnya yang berukuran sedang membulat kenyal mulai
diremas tangan Om Ical.
“Emangnya, Om seneng sama Dita sejak kapan? Kayaknya sih Dita
liat biasa-biasa aja?”
“Dari Dita mulai dateng-dateng ke rumah Om udah ketarik sama
cantiknya, cuma masak musti pamer terang-terangan?
Tiap kali ngeliat rasanya gemeesss sama kamu..” bIcalanya
menyebut begitu sambil secara tidak sengaja memilin puting susu di tangannya
membuat si gadis lagi-lagi menggelinjang manja.
“Aaa.. gemes mau diapain Om?!”
“Gemes mau dipeluk-pelukin gini, dicium-ciumin gini, atau
juga diremes-remesin gini.. sshmmm..” jawab Om Ical dengan memperlihatkan
contoh cara dia mendekap erat, mengecup pipi dan meremas susu Dita.
“Terusnya apalagi?”
“Terusnya yang terakhir ininya.. Apa sih namaya ini?” tanya
canda Om Ical yang sebelah tangannya sudah diturunkan ke selangkangan
Dita, langsung meremas bukit vagina yang menggembung dan
merangsang itu.
“Itu bilangnya.. memek.” jawab Dita dengan menoleh ke
belakang sambil menggigit kecil bibir Om Ical. Bahasanya vulgar tapi Om Ical
malah senang mendengarnya.
“Iya, kalau memek Dita ini dimasukin Om punya, boleh kan?”
“Dimasukin apa Om..?”
“Ini, apa ya bilangnya?” tanya lagi Om Ical dengan mengambil
sebelah tangan Dita meletakkan di jendulan penisnya.
“Aaa.. ini kan bilangnya ******.. Dimasukin ini bahaya, kalo
hamil malah ketauan orang-orang Om?” Dita bergaya pura-pura takut tapi tangannya
malah meremas-remas jendulan penis itu.
“Jangan ambil bahayanya, ambil enaknya aja. Nanti Om beliin
pil pencegah hamilnya.”
“Tapinya sakit nggak?” tanya Dita sambil mematikan rokoknya
ke asbak.
“Kalo udah dicoba malah enak. Yuk kita pindah ke tempat tidur?”
Om Ical mengajak tapi sambil membopong Dita pindah ke tempat tidur untuk masuk
di babak permainan cinta.
Di Sini Dita mulai memasrahkan diri ketika tubuhnya mulai
digeluti kecup cium dan raba gemas yang menaikan birahi nafsunya. Dita sudah
pernah begini dengan dr.Hadi, caranya hampir sama dan dia senang digeluti
laki-laki yang sudah berumur seperti ini. Karena mereka bukan hanya lebih
pengalaman tapi juga lebih teliti jika mengecapi tubuh perempuan, apalagi gadis
remaja seperti dia. Asyik rasanya menggeliat-geliat, merengek-rengek manja
diserbu rangsangan bernafsu yang bertubi-tubi di sekujur tubuhnya.
“Ahahhggg.. gellii Omm.. Sshh.. iihh.. Om sakit gitu..
sssh.. hnggg..”
Mengerang antara geli dan perih tapi dengan tertawa-tawa
senang, yang begini justru memancing si Om makin menjadi-jadi. Om Ical yang
nampaknya baru kali ini bergelut dengan seorang gadis remaja cantik tentu saja
terangsang hebat, hanya saja dia sayang untuk terburu-buru dan masih senang
untuk mengecapi sepuas-puasnya tubuh mulus indah yang dagingnya masih padat
kencang ini. Dari semula saja dia sudah nekat melupakan bagaimana status
hubungannya dengan Dita apalagi setelah dilanda nafsu tinggi seperti ini. Anak
gadis teman baiknya dan sekaligus sahabat anaknya ini begitu merangsang
gairahnya membuat dia jadi terlupa segala-galanya.
Dita yang sudah memberi celana dalamnya diloloskan jadi
telanjang bulat sudah rata seputar tubuhnya dijilati dengan rakus. Diberi
bagian susunya dihisap saja sudah membuat Om Ical buntu dalam asyik. Sibuk
mulutnya menyedot berpindah-pindah diantara kedua puncak bukit yang membulat
kenyal lagi pas besarnya itu, lebih-lebih waktu Dita di bagian terakhir
memberikan vaginanya dikecapi mulutnya. Jangan bilang lagi, seperti ******
kelaparan dia menyosor menjilat dan menyedot celah merangsang itu sampai tidak
peduli tingkatan kesopanan lagi.
Sahabat anak gadisnya yang biasanya hormat sopan kalau
datang ke rumahnya, sekarang santai saja menjambak rambutnya atau mendekap
kepalanya mempermainkan seperti bola kalau sosoran mulut rakusnya membuat geli
yang terlalu menyengat.
“Ssshh.. aahnggg.. geliii.. Omm..” Om Ical seru memuasi rasa
mulutnya yang tentu saja membuat Dita terangsang tinggi dalam tuntutan
birahinya, tapi begitu pun jalan pelepasan yang diberikan si Om betul-betul
memuaskan sekali. Pada gilirannya Om Ical merasa cukup dan menyambung untuk
mengecap nikmatnya jepitan ketat vagina muda si gadis, di ranjanglah baru
terasa asyiknya penis ayah sahabatnya.
Sewaktu partama dimasuki, Dita masih memejamkan mata, dia
baru tersadar ketika batang itu sudah setengah terendam di vaginanya. Agak
ketat sedikit rasanya. Membuka mata melirik ke bawah, dia langsung bisa
mengira-ngira seberapa besar batang itu. “Aahshh..” dia mengerang dengan
gemetar kerinduan nafsunya hanya saja tangannya mengerem pinggul Om Ical agar
tidak sekaligus tancap masuk. Meskipun tidak diutarakan Dita lewat kata-kata
tapi Om Ical mengerti maksudnya. Dia meredam sedikit emosinya dan menusuk
sambil membor penisnya lebih kalem.
Di situ batang penis ditahan terendam sebentar untuk membawa
dulu tubuhnya turun menghimpit Dita lalu dari situ dia berlanjut membor sambil
mulai memompa pelan naik turun pantatnya. Untuk beberapa saat masuknya batang
diterima Dita masih agak tegang, tapi ketika terasa mulai licin dan sudah mulai
bisa menyesuaikan dengan ukuran Om Ical. Dia pun mulai meresapi nikmatnya
batang Om Ical.
“Wihhh.. ennaak sekalii!” begitu ketat dan begitu mantap
gesekannya membuat Dita langsung terbuai dengan nikmat sanggama yang baru
dibukanya dengan batang kenikmatan Om Ical. Saking asyiknya kedua tangan dan
kakinya naik mencapit tubuh Om Ical seolah-olah menjaga agar kenikmatan ini
tidak dicabut lepas sementara dia sendiri mulai ikut aktif mengimbangi kocokan
penis dengan putaran vaginanya yang mengocok.
Disambut kehangatan begini Om Ical tambah bersemangat
memompa, semakin lebih terangsang dia karena Dita meskipun tidak bersuara tapi
gayanya hangat meliuk-liuk setengah histeris. Bergerak terus dengan tangan
menggaruk kepala Om Ical, kakinya yang membelit tidak ubahnya bagai akan
memanjat tubuh si Om.beritaseks.com Kelihatan repot sekali gerak sanggamanya
yang seperti tidak bisa diam itu, apalagi ketika menjelang sampai ke puncak
permainan, tambah tidak beraturan Dita menggeliat-geliat. Sementara itu si Om
yang sudah serius tegang juga hampir mencapai ejakulaDiya.
Beberapa saat kemudian keduanya tiba dalam orgasme secara
bersamaan. Dita yang mulai duluan dengan memperketat belitannya.
“Aduuhh.. ayyuhh.. Omm.. shh.. ahgh.. iyya.. duhh.. aahhh..
hgh.. aaahh.. aeh.. ahduhh.. sshhh Om.. hheehh.. mmhg.. ayoh.. Di..” saling
bertimpa kedua suara masing-masing mengajak untuk melepas seluruh kepuasan
dengan sentakan-sentakan erotis. Sama-sama mendapatkan kenikmatan dan kepuasan
dalam jumpa pertama ini, sehingga ketika mereda keduanya pun menutup dengan
saling mengecup mesra, gemas-gemas sayang tanda senangnya.
Begitu nafas mulai tenang, Dita memberi isyarat menolak
tubuh Om Ical meminta lepas, tapi sementara si Om berguling terlentang di
sebelah, dia sudah mengejar, memeluk dengan memegang batangnya dan merebahkan
kepalanya di dada Om Ical. Meremas-remas gemas sambil memandangi batang yang
masih mengkilap lengket itu.
“Bandel nihh.. maen nyodok aja?” komentar Dita sambil
menarik penis Om Ical.
“Abis kamunya juga bikin penasaran aja sih?” balas Om Ical
dengan tangannya merangkul leher bermain lagi di susu Dita.
“Om seneng ya sama aku?”
“Oo.. jelas suka sekali Sayaang.. Abis, kamu memang cantik,
memeknya juga enak sekali..” kali ini dagu Dita diangkat, bibirnya digigit
gemas oleh Om Ical.
Dita langsung berDiar bangga dengan pujian itu. Itu
pembukaan hubungan gelap mereka yang sejak itu berlangsung secara
sembunyi-sembunyi dengan jadwal rutin karena masing-masing seperti merasa
ketagihan satu sama lain. Om Ical jelas senang dengan teman kencan yang cantik
menggiurkan ini. Permainan selalu memilih tempat di sini di luar kota tapi
sekali pernah Dita mendapat pengalaman yang unik serta konyol di rumah Om Ical
sendiri.
Suatu hari Tante Vera sedang berbisnis ke luar kota ketika Dita
datang bertandang siang itu untuk menemui Mifta.beritaseks.com Kedua gadis itu
memang membuat janji akan jalan-jalan ke mall sore nanti tapi karena waktunya
masih jauh, Mifta mempergunakannya untuk keluar rumah sebentar. Om Ical yang
membuka pintu dan dia sendiri ketika melihat ada peluang yang baik langsung
memanfaatkannya, karena begitu Dita masuk sudah disambut dengan telunjuk di
bibir memaksudkan agar Dita tidak bersuara. Dita sempat heran tapi ketika
digandeng ke kamar Om Ical dia kaget juga, segera mengerti tujuannya.
“Iddihh Om nekat.. nanti ketauan Om.. Mifta memangnya ke
mana?” katanya tapi dengan nada berbisik panik.
“Sst tenang aja.. Kita aman, Mifta lagi pergi sebentar,
Tante lagi keluar kota sedang Hari lagi tidur..” jelas Om Ical. Hari adalah
adik laki-laki Mifta yang duduk di kelas III SMP. Masih ada seorang lagi adik Mifta
bernama Hendi yang duduk di kelas I SMA tapi dia tinggal dengan neneknya di
Malang.
“Iya tapi gimana kalo Mifta dateng Om?”
“Kan nggak ada yang tau kalau Dita udah di sini. Mereka
nggak bakalan berani masuk kamar Om. Acaramu kan Om denger masih nanti malem,
kita bikin sebentar di sini yaa?”
“Tapi Om.?”
“Udahlah di sini aja dulu, Om mau ke luar sebentar. Tuch
denger, kayaknya Hari udah bangun. Nih, Om tebus waktumu untuk jajan-jajan sama
Mifta nanti,” kata Om Ical langsung memotong protes Dita dengan mengulurkan
sejumlah uang yang cepat diambilnya dari dompetnya untuk membujuk Dita.
Setelah itu segera dia keluar kamar meninggalkan Dita yang
karena merasa sudah terjebak terpaksa tidak berani keluar takut kepergok Hari.
Melirik uang yang digenggamnya sepeninggal Om Ical, hati Dita menjadi lunak
lagi karena si Om memang pintar mengambil hati dan selalu royal memberi jumlah
yang cukup menghibur. Meskipun begitu dia menguping dari balik pintu
mendengarkan situasi di luar dengan hati berdebar tegang.
“Pak, barusan kayaknya ada yang dateng kedengeran pintu
kebuka?” terdengar suara Hari menanyai ayahnya.
“Ah nggak ada siapa-siapa kok, barusan memang Bapak yang
buka pintu.”
Baru saja sampai percakapan ini, tiba-tiba terdengar suara
motor Mifta memasuki pekarangan. Tidak lama kemudian dia masuk ke rumah dan
terdengar menanyai adiknya.
“Har, barusan Mbak Dita Singgah ke sini nggak?”
“Nggak tau, aku juga baru bangun..”
“Oh ya? Padahal Mbak Mifta Singgah barusan ke rumahnya,
Mamahnya bilangnya ke sini?”
“Ya mungkin aja Dita tadi ke sini tapi ngira kamu nggak ada,
jadi pergi ke tempat lain dulu.” kali ini Om Ical ikut menimbrung pembIcalaan.
“Iya tapi aku ada janji sama dia nanti sore-sorean. ”
“Oo.. kalo gitu paling-paling sebentar juga ke Sini.” putus Om
Ical menghibur anaknya.
Hening sebentar dan tidak lama kemudian terdengar suara Om Ical
memesan kedua anaknya agar jangan ada tamu atau telepon yang mengganggunya
karena dia beralasan agak tidak enak badan dan akan tidur siang. Sesaat setelah
itu dia pun masuk disambut Dita yang bersembunyi di balik pintu langsung
mencubit gemas lengannya tapi tidak bersuara, geli dengan sandiwara yang
barusan didengarnya.

Om Ical tersenyum dan menggayut pinggang Dita,
menggandengnya ke tempat tidur. Dita menurut karena tahu kalau menolak maka Om Ical
akan membujuknya terus, daripada berlama-lama lebih baik memberi saja agar
waktunya lebih cepat selesai. Langsung diikutinya ajakan Om Ical untuk membuka baju,
hanya saja masih bingung jika permainan telah usai.
“Tapi nanti aku ke luar dari Sininya gimana Om..?” tanyanya
sambil menyampirkan celana dalamnya sebagai kain penutup terakhirnya yang
dilepas.
“Gampang, Om pura-pura aja nyuruh mereka berdua keluar beli
makanan, di situ Dita bisa aman keluar dari Sini.”
“Ngg.. Om bisa aja akalnya..” Dita sedikit lega.
“Om kalo mikirin yang itu sih gampang. Sekarang yang Om
pikirin justru ngeluarin isinya barang ini yang enak gimana caranya.” timpal Om
Ical seraya mendekatkan tubuhnya yang sudah sama bertelanjang bulat dan
mengambil tangan Dita untuk diletakkan di batang penisnya yang masih
menggantung lemas.
Dita malu-malu manja tapi tangannya langsung menangkap
batang itu, menarik-narik, melocoknya dengan genggaman kedua tangannya sambil
memandangi benda itu.
“Yang enak tuh kayak apa sih?” godanya mulai bersikap
manja-manja genit.
“Yang enaknya.. ya jelas pake ini Di.” jawab Om Ical balas
menjulurkan tangannya meremas selangkangan Dita.
“Iddihh si OOm.. pengennya yang itu aja?” Dita pura-pura
jual mahal.
“Abisnya barang enak, jelas kepengen Di..” kata Om Ical
sambil mulai mengajak Dita berciuman.
Dita memang memberi bibirnya tapi dia masih kelihatan
setengah hati untuk balas melumat hangat, terlebih ketika akan diajak naik
tempat tidur dia seperti merasa berat.
“Nggak enak ah Om, sungkan aku itu tempat tidurnya Tante..”
katanya mengutarakan perasaannya yang tidak enak untuk bermain cinta di tempat
tidur keluarga itu. Om Ical rupanya bisa mengerti perasaan Dita, dia tidak
memaksa tapi menoleh sekeliling sebentar dan cepat saja menemukan cara yang
lain.
“Ya udah kalo gitu kita bikin sambil berdiri aja. Sini Om
yang atur, ya?” katanya sambil membawa Dita ke arah kaki tempat tidur dan
menyandarkan tubuh Dita di palang-palang besi tempat tidur itu.
Om Ical memakai tempat tidur mahal tapi model kuno yang
terbuat dari besi lengkap dengan tiang-tiang penyangga kelambunya. Di situ
pantat Dita disandarkan di pagar bawah tempat tidur yang tingginya pas
menyangga pantatnya, sedang kedua tangannya diatur Om Ical melingkar di
sepanjang besi melintang di antara dua tiang kelambu bagian kaki tempat tidur
yang tingginya setinggi punggung, sedemikian rupa sehingga tubuhnya tersandar
menggelantung di besi melintang itu hampir pada masing-masing ketiak Dita.
Suatu posisi yang unik untuk bersanggama dalam gaya berdiri karena setelah itu Om
Ical mengambil dua ikat pinggang terbuat dari kain, lalu mengikat masing-masing
lengan Dita pada besi melintang itu.
Dita menurut saja memandangi geli sambil menunggu apa yang
selanjutnya akan dilakukan Om Ical. Berikutnya barulah Om Ical mulai merangsang
dengan menciumi dan menggerayangi sekujur tubuh Dita dari mulai atas hingga ke
bawah. Berawal mengerjai kedua susu Dita dengan remasan dan kecap mulutnya dan
kemudian berakhir mengkonsentrasikan permainan mulut itu di selangkangannya,
membuat Dita yang semula setengah hati mulai naik terangsang. Malah terasa
cepat karena posisi kedua tangannya tidak bisa ikut membalas ini menimbulkan
daya rangsang yang luar biasa. Apalagi ketika mulut Om Ical mulai memberi rasa
geli-geli enak di vagina yang tidak bisa ditolak kepalanya kalau geli terlalu
menyengat.
Begitu tengah sedang asyik-asyiknya permainan pembukaan ini,
di teras depan Mifta terdengar mengalunkan suaranya berduet mengiringi Hari
dalam permainan gitarnya. Konyol memang buat Mifta, sahabat yang sedang
ditunggu-tunggu untuk janji pergi bersama, ternyata sudah sejak tadi ada di
dalam kamar rumahnya sendiri, sedang meliuk-liuk keenakan saat vaginanya
dikerjai mulut ayahnya, malah sudah tidak tahan rangsangan gelinya yang
menuntut untuk lebih terpuaskan lewat garukan mantap penis ayah Mifta sendiri.
“Ayyohh Om.. janggan lama-lama.. masukkin dulu Om punnyaa..”
bahkan rintih Dita sudah meminta Om Ical segera mulai bersenggama. Om Ical
tidak menunggu lebih lama. Dia segera bangun dan membawa penisnya yang setengah
menegang menempel di celah vagina Dita.
Membasahi dulu dengan ludahnya, menggosok-gosokan ujung
kepala bulatnya di klitoris Dita agar menjadi lebih kencang lagi,beritaseks.com
baru setelah itu mulai diusahakan masuk ke dalam lubang vagina di depannya. Dita
menyambut seolah tidak sabaran, menjinjitkan kakinya untuk mengangkangkan
pahanya selebar yang bisa dilakukannya tanpa bisa membantu dengan tangannya.
Dia terpaksa menunggu Om Ical bekerja sendiri menguakkan
bibir vagina dengan jari-jarinya agar bisa menyesapkan kepala penisnya terjepit
lebih dahulu, baru kemudian ditekan membor masuk. Meningkat kemudian lagu-lagu
cinta Mifta yang berduet dengan Hari mengalun romantis, ini senada dengan Dita
yang saat itu juga sedang merintih lirih, mengalunkan tembang nikmat ketika
vaginanya mulai disodok dan digesek ke luar masuk penis tegang Om Ical.
“Ngghh.. OOmm.. Sssh.. hhshh.. ngghdduuh.. sshsmm.. hdduhh Omm..
ennakk.. sshhh.. mmmh.. heehhs.. adduhh..” mengaduh-aduh rintih suaranya tapi
bukan kesakitan melainkan sedang larut dalam nikmat.
Kalau tadi Dita masih setengah hati untuk melayani nafsu Om Ical,
sekarang dia juga ikut merasa keenakan, karena bermain dalam variasi posisi
berdiri ini terasa santai dan mengasyikan sekali baginya. Tidak repot menahan
tubuhnya tetap berdiri karena bisa menggelantung dengan kedua lengannya, sambil
menerima tambahan enak tangan Om Ical yang meremas-remas kedua susunya,
memilin-milin geli putingnya, dia juga bisa ikut mengimbangi sodokan penis ini
dengan kocokan vaginanya.

Malah tidak berlama-lama lagi, ketika Om Ical sudah serius
tegang akan tiba dipuncaknya Dita pun mengisyaratkan tiba secara bersamaan.
“Aduuhh.. Omm.. ayoo.. sshh.. duh Dita mau keluarr.. sssh.. hhgh.. OOmm..”
desah Dita tertahan. “Aduhhssh.. Iya ayoo Di.. Om juga sama-samaa.. aahghh..”
segera mengejang Dita menyentak-nyentak ketika orgasme sinikuti Om Ical tiba di
ejakulasinya. Cerita Dewasa ini pun usai dengan kepuasan sebagaimana biasa yang
didapati keduanya setiap mengakhiri jumpa cinta mereka.



Sumber http://www.beritaseks.com/2016/02/cerita-sex-om-pemuas-nafsu.html

Jumat, 03 Maret 2017

Pacaran Dengan Cewek Montok

Domino 99 BandarQ Domino QQ Poker Online Teraman dan Terpercaya
Kenalin dulu..nama gw Hadyan gw emang tipe idaman para wanita…jujur aj..gw ganteng, tinggi, kaya, badan gw atletis secara gw anak basket n jalan tol gw gede.hehe.. Trus di skolah gw ada adek kelas yg paling bikin gw ngaceng.namanya Adinda Reviana..begh ni cewek putih, semampai, cewek montok punya pantat & toket gede n yg terpenting…dia cantik skale!

Ok kita langsung to the point aj..Waktu itu gw ad sparing basket d skolah gw sm angkatan di bawah gw..selesai yang cowo2 maen giliran yg cewe…waktu itu gw sengaja ngeliat yg cewe2 maen karena dinda juga jd tim basket sekolah gw padahal temen2 gw yg laaen uda pada balik..

pas dinda maen waah toketnya gundal-gandul gak keruan pas dia lari apalagi..bikin gw ngaceng baru ngeliat gitu doang..soalnya dari semua adek kelas gw yg keliatan paling “mateng” cuma dinda seorang…selesai maen gw basa-basi dikit laah..waktu itu gw ngincer bgt buat jd cowonya..

2 minggu berlalu..abis lama PDKT gw jadian sama dia..YES!dlm hati gw udah mikirin mau gw apain nih cewe…sabtu pertama jalan sama dia gw bikin target:cipokan (ciuman bibir). oke tnpa basa-basi pagi2 dia gw telpon “yang,ntar jalan yuk!..tapi berdua aj yah” “boleh..tapi kmana?” katanya pake suara bikin ngaceng “kita nonton aj mau ga?”

“waah mau bgt aku uda lama ga nonton” “yaudah ntar jam 5an kta jalan ya..” “sip de..aku tunggu lhoo..bye honey..love you.” “love you too” bales gw.. jam stngah 5 dia gw jemput.. hari itu dia keluar cuma pake baju t shirt superman sama celana pendek ketat yg nampol bgt

jam 7 kita masuk bioskop..gw sengaja pilih film anak2 yg ga mutu supaya makin asik gw ciuman di dalem..hehehe..baru sekitar 15 menit filmnya mulai gw udah bisik2 ke dia”beib…aku sayaaang bgt sama kamu” “aku juga kok”katanya..setelah itu gw pegang mukanya n gw arahin k muka gw.mukanya dr deket cantiik bgt..muka putih mulus tanpa jerawat n tai lalat…langsung aj gw deketin bibir gw k bibirnya..

ternyata dia juga terbawa suasana n ikutan ngedeketin bibir gw..ga lama bibir kita beradu dan saling bertukar liur..gw terus cium bibirnya pake kombinasi lidah supaya dia lebih terangsang..gw jilat langit2 tenggorokannya gw gigit kecil bibirnya sambil tangan gw ngeraba toket 32Bnya..

keliatan bgt kalo dia keenakan gw plintir2 pentilnya sambil bibir gw ga lepas dari bibir merah nan manis punyanya.gw terus nyium dia sampe bibir gw sama bibirnya basah gara2 liur gw jilat2 bibirnya dia bales jilat lidah gw.sekitar 10 menitan gw cipokan sampe ada suara “EHM!! nak kalo mau mesum jgn disini!! ini tempat umum” kata bapak2 yg bawa anaknya yg duduknya d sebelah gw pas.

Akhirnya gw keluar bioskop trus dinda merayu pake suara centil gitu “yaaang..lanjutin yuk di mobil kamu..kamu uda ngaceng kan?”kata dia sambil ngliatin titit gw yg emang udah ngaceng berat..tanpa pikir panjang langsung gw iyain aj ajakannya….

sampe d mobil kita duduk d jok blakang dan mulai “bermain”..gw ngelanjutin cipokan yg d bioskop versi lebih buasnya..hahaha..kedua tgn gw uda megang kendali di toketnya..gw remes2 pelan sambil gw puter ke kanan-kiri..bibir dia juga ga lepas dari bibir gw dia masukin liurnya ke mulut gw pake lidahnya..

gw kulum bibir merahnya dalem2 di bibir gw trus gw gigit bibir bawahnya sampe turun ke lehernya trus gw cupang sampe lehernya merah…ga kerasa tangan gw uda masuk k dalam BHnya dan ternyata tgn dinda juga sibuk ngelepas celana pendek gw..tangan gw ngeraba toketnya secara langsung..kulitnya mulus banget..ga lama celana beserta boxernya uda copot..

dinda langsung megang tangan gw dari toketnya dan bilang “gantian kali saay..” bibirnya pun terlepas dari kuasa bibir gw dan dinda langsung menunduk ke arah titit gw yang uda mengeras “anjrit gede banget!!” katanya “rasain dong..jgn ngemeng mulu” bujuk gw.. dia ngliat gw pake tatapan nakal ala miyabi..

dan gak pake babibu langsung di liurin titit gw pake liurnya supaya licin trus diemut dlm2 titit gw sama dinda sambil dikocok2 pelan penis gw trus dikulum naik turun sama dinda n kepala titit gw dijilatin..aagh rasanya maknyus bgt..

diulang lagi gerakan meengulum titit khas dinda trus diakhiri pake ciuman di kepala titit..di dalem titit gw rasain ada yg mau keluar..”yaang mau keluar nihh..kamu keluarin dong”gw bilang..”ahaha..kamu mau ya?mau aku jilat apa cokilin aj?”tnya dinda si cewek montok.

“dua2nya aj”kata gw lg..lngsung aj dikulum lagi titit gw sambil dikocok kenceng2 sama dinda..ga lama kmudian..croot crooot..sperma gw membasahi mukanya yg lucu..abis itu dia bersihin sperma2 yg nempel di kepala titit gw pake mulutnya…ahhh enaknya malam ini

3 hari setelah kejadian di atas..gw berencana ML sama dia..di rumah gw bokap lg bisnis k beijing n nyokap lg pergi sama adek n tante gw ke singapore..d rumah cuman ada pak supir,satpam n pembokat yg gw pikir ga bakal jd masalah..pulang sekolah dinda nyamperin gw “gimana?jadi ga k rumah kamu?” tanyanya dengan centil..”jadi doong..pas bgt lagi sepi..”kata gw..langsung aja gw ke mobil n langsung on the way ke rumah gw..di tngah jalan dinda bilang “yakin nih gapapa ga pake kondom say?”

“enakan alami lagi” kata gw yang disambut dgn tawa sama dinda “ahahaha..oke deh..cepetan dong makanya..aku uda ga sabar niih..”katanya sambil agak2 mendesah..smpe rumah gw langsung ngasi duit 500rb ke pembokat gw..gw suru dia shopping sampe jam 7 malem kalo balik sebelum jam 7 ntar gw ancem pecat..hahaha..hal yg sama berlaku buat satpam n supir gw..dua2nya gw kasi 500rb juga..

Akhirnya d rumah ini tinggal gw sama dinda berdua..langsung aja di ruang tamu gw cium dgn penuh nafsu..gw buka roknya dia buka celana gw..gw buka kemejanya dia buka kemeja gw gw cabut BH nya n gw liat secara jelas toket n pentilnya yg agak2 berwarna merah muda..kita trus saling membuka2 sambil cipokan penuh cinta n nafsu..

gw gendong dia ke kamar gw yg di atas..di kamar gw..gw langsung gigit kecil pentilnya sambil tangan gw berusaha melepas celana dalem berwarna krem punya dinda..abis celana dlmnya lepas gw liat vagina merahnya yg sdikit diselimuti bulu2 halus..langsung gw jilat2 vaginanya ”oooohhh…ennak saayyy..

“teriak dinda..setelah itu kedua tangan gw nyoba ngeraba toketnya..gw plintir2 lg pentilnya..trus gw gigit klitorisnya “emmmm…aaaakkhh..parraah..ennak..emmm”katany a keenakan..gw gigit agak kencang klitorisnya sampe dia mengerang kesakitan…stelah itu gw berdiri n menurunkan celana dlm gw pas d dpan mukanya..titit gw langsung berontak keluar celana dlm n begitu keluar langsung disambut pake mulutnya dinda..ga kerasa kita berdua udah telanjang full..

dinda mengulum titit gw dlm2 smbil dikocok2 kecil..abis itu gw cabut mulutnya dr titit gw dia gw suruh tiduran trus gw masukin titit gw k vaginanya “eemm..AAAAAAKKKHHHH” jeritnya waktu titit gw menerobos masuk seliput daranya..bless..setelah itu titit gw masuk penuh ke vaginanya diiringi pake darah yg keluar dr vaginanya..dinda si cewek montok menatapku dan bilang

“i love you beib” “i love you too” kata gw.. abis itu gw cipokan lg sama dinda..gw jilat2 bibirnya kita juga beradu lidah..tangan gw masih nempel d toketnya..abis itu dia gw suruh nungging buat bergaya doggy..ku keluar masukkan titit ku di vaginanya.. lalu ganti gaya lagi..dinda berada di atas dan menindih gw..badanya naik turun ngikutin irama

“aahhh..bangsaaatt..uuuuuuuukhh..”katanya keenakan..lalu dia gw dorong sampe dia berada di bawah gw dan gantian gw yg diatasnya…sambil gw ciumin toketnya..penis gw juga bekerja…gak lama rasanya d titit gw ada bsah2..taunya dinda si cewek montok udah lebih dulu orgasme..gak lama sperma gw juga membanjiri liang surganya..

“oooohhh..”kata dinda si cewek montok keenakan..di berdiri dan langsung mencium gw berulang2…”makasi ya dear” katanya..”aku juga makasi..”kata gw..waktu itu kita uda mau selesai sampe birahi gw naik lagi waktu ngeliat dinda nungging mau ngambil celana dalemnya…gw pegang pinggunlnya n gw masukin penis gw k vaginanya “ooh..mauuu lg yaaa?”katanya..gw g jwab..gw terus konsentrasi maju mundurin penis gw sendiri,,makin lama makin kenceng gw dorong titit gw k dlm vaginanya..

“AAAKKKHH..EMMMKH..OOOOKKHHH…aaakh..a aakh..ookh” desahnya waktu sperma gw ngebanjirin vaginanya lg…”kamu emang d best yaang”pujinya.



Sang Model Binal Tempoe Doelo



Viola, seorang model dan artis papan bawah, yaitoe yg biasa kebagian hanya sebagai peran pendoekoeng, tetapi di oemoernya yg masih moeda, 25 tahoen, dia telah menempati seboeah roemah yg terbilang mewah di seboeah kompleks elite dan seboeah mobil BMW telah dimilikinya. Kalo hanya mengandalkan gajinya saja belom tentoe dia memiliki semoea itoe, tak lain dia dgn menjadi ‘peliharaan’ seorang pejabat pemerintahan yg kaya dan berkoeasa yg oemoernya lebih pantas menjadi ayahnya.

 Dgn ketjantikannya, ramboet panjang sedada, badan jangkoeng (172tjm) dgn koelit poetih moeloes, dan wajah Indonya yg mempesona dia menoendoekkan Pak Badhroen, 54 tahoen, dalam seboeah jamoean makan malam. Pak Badhroen meski telah berkeloearga hoeboengannya dgn isterinya hanyalah sebagai formalitas, sama seperti dirinya, isterinya poen soeka selingkoeh sana-sini sebagai dampak dari kehampaan hidoep di tengah gelimang kemewahan, anak toenggal mereka yg sekolah di loear negeri joega terkenal akan keplayboyannya. Tiga boelan setelah pertemoean mereka, Pak Badhroen resmi mengangkat Viola sebagai simpanannya. 

Sebagai perempoean simpanan, toegas Viola sebagian besar adalah memenoehi keboetoehan biologis Pak Badhroen yg hobbynya melalap gadis-gadis moeda seoemoernya. Pak Badhroen memang nafsoe seksnya menggeboe-geboe, tetapi staminanya yg telah dimakan oemoer tak mengimbanginya, seringkali Viola merasa koerang poeas, tapi dia tak enak mengatakannya teroes terang. Gairahnya yg tjoekoep tinggi yg belom sepenoehnya terpoeaskan oleh Pak Dahlan melibatkannya dalam beberapa affair dgn oknoem-oknoem tertentoe dalam lingkoengan kerjanya seperti soetradara, fotografer, dan prodoeser. Soeatoe hari Pak Badhroen sedang pergi ke loear negeri oentoek oeroesan dinas sehingga meninggalkan Viola selama doea minggoean. Di saat yg sama Viola menerima pinjaman seboeah DVD dewasa dari salah seorang temannya. Alih-alih sedang sepi sedang tak ada job dan Pak Badhroen sedang tak ada, Viola menyetel DVD itoe di kamarnya. Di film itoe dia melihat seorang perempoean Asia yg tjantik dan berwajah innotjent sedang digaoeli tiga orang lelaki negro bertampang sangar. Perempoean itoe moela-moela menolak tapi lama-lama dia terlihat semakin menikmati digangbang tiga ‘gorila’ itoe. Dgn agresifnya dia melayani ketiga kemaloean hitam, panjang, dan beroerat itoe. Hingga akhirnya air mani ketiga lelaki itoe moentjrat membasahinya loear dan dalam, perempoean itoe bahkan menelan air mani para lelaki itoe dan menjilati yg tertjetjer di badannya.

Tontonan itoe memboeat jantoengnya berdebar-debar, dia sampai orgasme sekali karena mengeloes-eloes kemaloeannya. Dia moelai membaygkan bagaimana rasanya bersebadan dgn orang-orang kasar dan lower tjlass. Sepertinya ada sensasi lain yg timboel dari hoeboengan seperti itoe karena dia merasa jenoeh dgn kehidoepan seks yg begitoe-begitoe saja. Pemikiran seperti itoelah yg mengoebah perilakoe seksoealnya, dia membaygkan seboeah kemaloean hitam panjang menyebadaninya dan tangan-tangan kasar menggeraygi badannya. Dia menoejoe ke jendela, dan melihat ke bawah dari kamarnya di lantai doea, diperhatikannya Pak Soesno, toekang keboennya yg beroemoer 43 tahoen sedang membersihkan mobil di halaman depan. Lelaki itoe mengelapi mobil dgn tangannya yg kokoh beroerat, keringatnya terlihat membasahi dahinya, sesekali dia menyeka keringat itoe dgn tangannya. Soenggoeh obsesi itoe makin menggodanya memboeat jantoengnya berdetak makin tjepat. Di roemah itoe, selain Pak Soesno, masih ada joega Mbak Joem, pembantoe roemah tangganya. Dia masih mempertimbangkan kalo-kalo perempoean setengah baya itoe mengetahoei kalo dia memboeat skandal. Sembari merenoenginya, Viola tidoeran telentang di ranjang spring-bednya, tangannya mengeloes-eloes kemaloeannya sembari teroes membaygkan hasrat liarnya, sampai akhirnya dia tertidoer tanpa memakai tjelana.

Bangoen-bangoen langit telah mengoening dan jam telah menoenjoekkan poekoel 5.15 sore. Fantasi liar itoe masih saja membayginya. Dia memikirkan beberapa saat tentang niatnya itoe, akhirnya dia memboelatkan tekad oentoek menjalankan fantasinya itoe. Violapoen melepas seloeroeh pakaiannya laloe melilitkan handoek koening ke badannya. Dipanggilnya Pak Soesno melaloei intertjom yg mengarah ke roeang belakang yg ditempati pembantoe.
“Pak Soesno, tolong kesini sebentar, kran air disini matjet nih keliatannya !”
Sebentar kemoedian telah terdengar ketoekan di pintoe, dgn dada makin berdebar-debar, Viola memboekakan pintoe kamarnya. Moeka Pak Soesno langsoeng memerah bertjampoer grogi melihat penampilan seksi majikannya itoe, paha jenjang yg poetih moeloes itoe soenggoeh memboeatnya menelan lioer, belom lagi tonjolan dadanya yg memboesoeng itoe.
“Ayo Pak, sini, tolong diliat krannya ada yg ga beres !” sahoetnya seraya menarik lengan Pak Soesno yg berotot itoe dan mengajaknya ke kamar mandi.
Viola sebisa moengkin bersikap normal meski gairahnya meningkat, agar tak memberi kesan moerahan pada toekang keboennya itoe. Sementara Pak Soesno terlihat salah tingkah dan matanya sesekali mentjoeri pandang badan Viola yg indah itoe, ingin sekali dia melihat di balik handoek itoe, gagang kemaloeannya menggeliat karenanya.
Di kamar mandi mewah yg ada TV-nya itoe, Viola doedoek di moeloet bathtoeb dan menyilangkan kakinya sehingga paha moeloesnya semakin menampakkan keindahannya pada lelaki berkoemis itoe.

“Ini Pak, kran boeat bathtoebnya ga jalan, ga taoe kenapa nih !” katanya
“Bisa kok Boe, ga ada yg matjet !” kata lelaki itoe setelah memoetar kran dan airnya mengalir
“Ooohh…ya oedah, soalnya tadi saya poeter-poeter berapa kali airnya ga keloear meloeloe sih, makasih ya Pak !” katanya seraya bangkit berdiri maoe mengantarkan Pak Soesno ke pintoe.
Viola yg berjalan doeloean ke arah pintoe dikejoetkan oleh tarikan dari belakang yg menyebabkan handoek yg melilit badannya terlepas. Dia terkejoet dan setjara refleks menoetoepi bagian dada dan selangkannya dgn kedoea tangan.
“Aww…koerang ajar, apa-apaan nih !” jeritnya poera-poera marah pada Pak Soesno
Tetapi Pak Soesno dgn tjekatan segera menangkap kedoea lengan Viola laloe diangkat ke atas dan dikoentji pergelangannya dgn telapak tangannya yg besar dan kokoh, selain itoe lelaki itoe joega memepet Viola hingga poenggoengnya menempel ke tembok dekat pintoe kamar mandi. Nafsoe Pak Soesno yg telah lama tak bertemoe dgn isterinya di kampoeng mendorongnya oentoek bertindak lebih doeloe sebelom Viola memoelai.
“Aahh, Iboe ini maloe-maloe, saya taoe kok Iboe sengaja ngegodain saya, lagian emang daridoeloe saya oedah kepengen nyitjipin Iboe kok, hehehe !” Pak Soesno ketawa dekat wajah Viola.
Mata lelaki itoe seperti maoe tjopot memperhatikan badan telanjang Viola yg sempoerna, poetih moeloes tak bertjatjat, boeah dadanya kentjang dan montok dgn peroet rata, pada pangkal pahanya nampak ramboet-ramboet hitam yg lebat menoetoepi daerah itoe. Viola sendiri moelai merasa seksi dan terangsang memamerkan badan telanjangnya di depan toekang keboennya itoe.
“Pak…enngghh !” desahnya ketika Pak Soesno meremas buah dada kanannya

“Gini kan yg Iboe maoe, moempoeng Bapak nggak ada !” katanya dekat telinga Viola sehingga dengoes nafasnya menioep telinga dan tengoeknya dan menaikkan gairah Viola.
“Lepaskan, Pak…eemm !” kata-kata Viola tak sempat terselesaikan karena Pak Soesno keboeroe meloemat bibir tipisnya dgn bibirnya yg tebal.
Rontaan Viola, yg pada dasarnya hanya poera-poera itoe melemah karena birahinya yg makin meninggi. Ketika Pak Soesno melepas koentjian pada kedoea pergelangannya, dia serta merta melingkarkan lengannya ke leher lelaki itoe sembari membalas tjioemannya dgn panas, lidah mereka beradoe, saling belit dan saling jilat.
Tangan Pak Soesno bergerak ke belakang mengeloes poenggoeng, teroes toeroen meremas bongkahan pantatnya. Sementara nafas mereka telah memboeroe dan terasa hemboesannya pada wajah masing-masing. Poeting Viola yg berwarna kemerahan mengeras akibat gesekan-gesekan jari Pak Soesno. Dia semakin terangsang, tanpa menghiraoekan baoe keringat dan moeloet Pak Soesno dia mentjoemboe lelaki itoe dgn penoeh gairah. Moeloet Pak Soesno kini moelai toeroen ke dagoenya, laloe menoeroen lagi hingga badannya memboengkoek dan berhenti di buah dada kirinya. Poeting itoe dikenyotnya dgn gemas, dihisap dan sesekali digigit-gigit ketjil sehingga Viola makin mendesah.
“Sshhh…ahh…jangan Pak !” desahnya.
Penolakan yg tak soenggoe-soenggoeh itoe malah memitjoe Pak Soesno oentoek mempergentjar serangan-serangan erotisnya.
“Ohhh…eengghh !” lengoeh Viola panjang dgn badan bergetar saat dirasakannya telapak tangan kasar itoe menyentoeh daerah keperempoeanannya.
Pak Soesno memainkan jari-jarinya pada bibir kemaloean majikannya itoe memboeat daerah itoe basah. Viola tersentak, badannya serasa kesetroem ketika jari toekang keboennya telah masoek lebih dalam dan menyentoeh klitorisnya. Badannya seolah kehilangan tenaga, hanya bisa bersandar ke dinding dan pasrah atas perlakoean Pak Soesno.

TJioeman Pak Soesno kini merambat toeroen hingga dia berjongkok dan wajahnya tepat di depan kemaloean Viola. Dia diam mematoeng dan pasrah saja saat moeloet toekang keboennya menyentoeh kemaloeannya yg berboeloe lebat. Lidah Pak Soesno menyentoeh bibir kemaloeannya, sehingga badannya bergetar, tanpa sadar Viola joega menempelkan kemaloeannya itoe makin dekat ke moeloet Pak Soesno. Pak Soesno menyedot-nyedot kemaloean Viola dgn nikmatnya, lidahnya menyoesoep masoek mengais-ngais bagian dalam kemaloeannya, sementara tangannya siboek mengeloesi paha moeloes dan pantatnya yg boelat. Viola menahan nikmat sembari menggigit bibir dan meremasi ramboet Pak Soesno. Lidah hangat itoe memain-mainkan klitorisnya sehingga rangsangan dari sana merambat ke seloeroeh badan Viola memboeat badannya bergetar. Terbesit perasaan maloe mengingat perbedaan statoes mereka yg demikian kontras, tetapi nafsoe mengalahkannya, dia telah tak pedoeli pada semoea itoe, toh dirinya joega telah sering melakoekannya, ini hanya sekedar variasi dari kehidoepan seksoealnya. Viola kini menaikan satoe kakinya ke poendak Pak Soesno dan menikmati permainan lidahnya yg lihai. Sekitar sepoeloeh menitan Pak Soesno mengerjai kemaloeannya hingga badannya mengejang dan kemaloeannya mengeloearkan tjairan orgasme. Pak Soesno masih menjilati kemaloean Viola, tjairan itoe dia jilati dgn lahap.
Poeas melahap kemaloean majikannya, Pak Soesno bangkit berdiri dan melepaskan pakaiannya satoe-persatoe. Viola menatapi badannya yg berotot dgn koelit sawo matang itoe, terlebih ketika Pak Soesno melepaskan tjelana dalamnya, mata Viola terpakoe pada kemaloean yg telah menegang sebesar pisang ambon itoe. Pak Soesno meraih tangan Viola dan menggenggamkannya pada kemaloeannya.
“Gimana Boe, gede kan, gimana dibanding sama poenya Bapak ?”

Tanpa diperintah Viola berloetoet sehingga kemaloean itoe menodong ke wajahnya, benda itoe terasa keras sekali dan sedikit berdenyoet-denyoet. Tanpa maloe-maloe lagi, Viola moelai menjilati kemaloean yg digenggamnya itoe, boeah kemaloean hingga oejoeng kemaloeannya tak loepoet dari sapoean lidahnya, sesekali benda itoe dibelai dgn pipinya sampai pemiliknya melengoeh keenakan. Setelah gagang itoe basah dan mentjapai ketegangan maksimal, dia moelai menjilati dan mentjioem bagian kepalanya yg seperti jamoer itoe, kemoedian dia memboeka moeloetnya dan memasoekkan gagang itoe hingga mentok, itoepoen tak masoek seloeroehnya karena terlaloe besar oentoek moeloet Viola yg moengil. Kepalanya majoe-moendoer mengemoet kemaloean hitam besar itoe sembari tangan satoenya memijati buah dadanya sendiri. Sebelom mentjapai klimaks, Pak Soesno menyoeroeh majikannya berhenti dan mengangkat badannya hingga berdiri.
“Nanti aja Boe, jangan boeroe-boeroe, ntar koerang kerasa enaknya !” katanya
“Kita main di bak aja yah Pak, airnya oedah penoeh toeh !” ajak Viola melihat ke arah bathtoeb yg airnya telah moelai meloeap.
Fioana poen laloe berjalan ke arah bathtoeb, diambilnya saboen tjair dari pinggir bak, ditoempahkan sedikit laloe diadoeknya air itoe dgn tangannya hingga berboesa. Kedoeanya poen masoek ke bathtoeb itoe, bagi Pak Soesno ini pertama kalinya dia merasakan mandi di kamar mandi mewah itoe bersama perempoean setjantik Viola. Viola doedoek dan menyandarkan poenggoengnya pada badan Pak Soesno yg mendekapnya dari belakang. Pak Soesno laloe menggoeyoer wajah dan ramboet majikannya itoe dgn air hingga basah.

“Saya oedah soeka sama Iboe dari pertama ketemoe doeloe, apalagi kalo ngeliat Iboe di majalah ataoe di tivi, enak yah Boe jadi orang terkenal gini ?” kata Pak Soesno sembari membelai ramboet panjang Viola.
“Ah, Bapak kan hanya liat dari loearnya aja, sebenernya doenia saya ini ga seindah itoe kok Pak, bisa dibilang moenafik, kita ngapain aja haroes jaga imej, soesah jadi diri sendiri, hidoep emang ga ada yg koerang, tapi masih belom happy, yah tapi ginilah Pak kalo kerja begini, maoe gimana lagi !” jawab Viola menghemboeskan nafas panjang.
“Ssshhh…!” desisnya lirih ketika tangan Pak Soesno membelai buah dadanya di bawah air sana.
“Boe, Iboe pertama kali ngentot kapan sih ?” tanya Pak Soesno lagi.
Viola terdiam, teringat kembali mimpi boeroeknya dimasa laloe ketika masih SMA, keperawanannya direnggoet seorang lelaki teman sekolahnya yg laloe memoetoeskannya tak lama setelahnya dan belakangan ketahoean bahwa lelaki itoe memakai dirinya oentoek taroehan dgn teman-temannya tentang berhasil taknya mengambil keperawanan dirinya.
“Pak, tolong jangan oengkit masalah pribadi yah, saya ga soeka” oetjapnya dgn nada serioes seraya menarik wajah Pak Soesno dan mentjioem bibirnya oentoek mengalihkan pembitjaraan itoe.
Lelaki itoe membalas tjioeman majikannya dgn ganas poela sembari meremas-remas buah dadanya. Viola menggenggam kemaloean Pak Soesno yg telah mengeras di bawah air sana, memegangnya saja Viola telah nafsoe karena keras dan tonjolan oerat-oeratnya terasa di tangannya. Dikotjoknya gagang itoe sebentar sebelom diarahkan ke kemaloeannya. 
“Sshhh…eemmm…eenggh !” desahnya ketika gagang itoe melesak ke dalam kemaloeannya.
Pak Soesno poen sama-sama mendesah merasakan himpitan dinding kemaloean Viola pada kemaloeannya. Moelailah Viola menaik-toeroenkan badannya, dgn posisi demikian kemaloean itoe lebih terasa toesoekannya. Sembari menikmati genjotan, lidah Pak Soesno berpindah-pindah pada telinga, leher, dan poendak Viola.
“Ssshh…oohh teroes Boe !” Pak Soesno menggeram, tangannya yg kokoh teroes memijati buah dada majikannya.
Goygan mereka makin liar, terlihat dari air yg makin beriak, demikian halnya dgn desahan mereka yg makin mentjeratjaoe. Viola makin menekan-nekan badannya seiring dgn orgasmenya yg hampir tiba. Klentitnya makin bergesekan dgn kemaloean Pak Soesno yg beroerat itoe sampai akhirnya dia tak bisa menahan diri lagi, badannya mengejang dalam peloekan toekang keboennya.
“Aahhh…ahhh…saya keloear Pak !” erangnya mengekspresikan kenikmatan loear biasa yg didapatnya, kenikmatan berbeda yg tak pernah dia dapatkan dari ‘soeami’nya maoepoen teman-teman kentjan lainnya.
Pak Soesno masih belom menoenjoekkan tanda-tanda klimaks, dia masih bersemangat menggenjot Viola. Mereka berganti posisi, sekarang Viola doedoek di bersandar bathtoeb itoe sembari memboeka kedoea kakinya, tangannya berpegangan pada bibir kanan dan kiri bathtoeb. Setelah memposisikan diri diantara kedoea paha itoe, kembali Pak Soesno menoesoekkan senjatanya ke liang kemaloean Viola. Lelaki itoe majoe-moendoer sembari memegangi betis Viola, sentakkan badannya mentjiptakan ombak mini di bak itoe. Goemaman dan desahan keloear dari moeloet Viola menikmati sodokan Pak Soesno yg demikian nikmatnya. Terkadang Pak Soesno menggerakkan pinggoelnya sehingga kemaloeannya bergerak seperti mengadoek kemaloean majikannya.

Genjotan-genjotan Pak Soesno begitoe dahsyat sampai Viola mendesah sejadi-jadinya mentjoerahkan segala hasrat liar yg selama ini terpendam.OErat di kening dan badan lelaki itoe semakin menonjol yg berarti nafsoenya telah dioeboen-oeboen. Tiba-tiba dia menoesoekkan kemaloeannya lebih dalam sembari mendesah panjang, beberapa kali senjatanya menembak di dalam rahim Viola. Setelah itoe frekoeensi genjotannya makin toeroen dan toeroen hingga akhirnya dia menjatoehkan diri mendekap badan majikan tjantiknya itoe dgn kemaloean masih menantjap. Mereka berpeloekan mesra menikmati momen-momen pastja orgasmenya, nafas mereka yg menderoe-deroe terasa hemboesannya.
“Gimana Boe, poeas ga ?” tanya Pak Soesno
Dgn wajah memerah, Viola mengakoe ini adalah permainan ternikmatnya karena mengandoeng sensasi kasar dan liar yg belom pernah dia rasakan sebelomnya. Mendengar itoe, Pak Soesno joega tersenyoem karena dapat memoeaskan nyonya majikannya itoe. Mereka laloe mandi bersama, Pak Soesno menggosok-gosok badan Viola dgn telapak tangannya, sesekali dia remas lemboet buah dada dan poetingnya. Poendak, leher dan poenggoengnya joega digosok dan dipijati. Viola merem-merem keenakan diboeatnya.
“Eemmhh…enak Pak jadi rileks nih” katanya ketika toekang keboennya itoe mengkramas ramboetnya disertai pijatan lemboet.

Setelah memandikan majikannya, Pak Soesno minta Viola gantian memandikannya. Permintaan yg langsoeng ditoeroetinya tanpa keberatan. Viola memanjakan toekang keboennya itoe dgn pijatan-pijatan tangan haloesnya, sesekali joega kemaloeannya dikotjok pelan. Soenggoeh Pak Soesno nyaris tak mempertjayai apa yg sedang dialaminya saat itoe, mimpipoen dia tak pernah membaygkan bertjinta dgn perempoean setjantik dan sekelas Viola. Pelayanan yg didapat dari isterinya di kampoeng yg biasa-biasa saja jelas berbeda jaoeh dari yg satoe ini. Viola joega melakoekan Thai massage yaitoe dgn menggosok-gosokkan buah dadanya ke poenggoeng Pak Soesno yg telah litjin oleh saboen.
“Asyik Boe, iya teroes gitoe mijitnya !” katanya sembari menggerakkan tangan ke belakang meremas pantat Viola.
Kemoedian Viola menjoeloerkan wajahnya di samping lelaki itoe dan merekapoen bertjioeman lagi..
“OEdahan yoek Pak mandinya !” kata Viola setelah merasa tjoekoep berendam karena airnya telah moelai mendingin.
Dia berdiri dan meyiram shower ke badannya oentoek membersihkan boesa-boesa saboen, kemoedian dia keloear dari bak dan melap badannya dgn handoek.
“Aww…!!” jeritnya terkejoet karena tiba-tiba badannya diangkat ketika sedang handoekan. “Bapak nakal ih !” senyoemnya nakal dalam gendongan Pak Soesno.
Badan Viola kemoedian dibawanya keloear kamar mandi dan ditelentangkan di ranjang, dia sendiri naik ke atas badan perempoean itoe menindihnya.
“Boleh moelai sekarang saya panggil Iboe pake nama ?” tanyanya di dekat wajah Viola.
“Boleh aja, tapi tolong kalo di depan orang lain jaga sikap yah”
Habis menjawab kembali bibirnya diloemat oleh Pak Soesno, tangan kasarnya kembali menjelajahi badan moeloesnya. TJioeman itoe moelai toeroen ke lehernya, sapoean lidahnya sempat terasa disana, kemoedian poendak hingga ke buah dadanya. Desahan keloear dari moeloetnya ketika Pak Soesno menyapoekan lidahnya pada poetingnya, lelaki itoe joega mengenyoti buah dadanya.
“Ahh…Pak…sakit !” rintihnya dgn mendorong kepala Pak Soesno karena lelaki itoe menggigit poetingnya dgn gemas sehingga meninggalkan bekas memerah.

Tetapi rasa sakit itoe tertoetoep dgn sensasi nikmat yg moelai kembali melandanya. Setjara bergantian lelaki itoe meloemat kedoea buah dadanya sampai basah oleh loedahnya. Viola merasakan kemaloean Pak Soesno telah keras lagi saat bersentoehan dgn pahanya. Tak lama kemoedian Pak Soesno memasoekkan lagi kemaloeannya ke dalam kemaloean Viola, dia menggenjotnya sembari menindih gadis itoe.
Viola benar-benar mengakoei kehebatan toekang keboennya ini, betapa tak, tadi di kamar mandi baroe saja orgasme tapi sekarang telah siap tempoer lagi. Lelaki itoe mampoe memboeatnya melayg lebih tinggi, tak seperti ‘soeami’nya yg tak bisa memoeaskannya setjara penoeh. Hoeboengan terlarang itoe tetap berlanjoet hari-hari berikoetnya. Doea hari setelah kejadian itoe Viola memberhentikan Mbak Joem agar bisa lebih leloeasa melakoekan kegilaannya. Viola bahkan ingin mentjoba berhoeboengan dgn orang-orang lower tjlass lainnya yg baginya memberi sensasi tersendiri. Bagaimana petoealangan Viola selanjoetnya ? apakah hal ini akan diketahoei oleh Pak Badhroen kemoedian ?



Kamis, 02 Maret 2017

Kuberikan Keperawananku Kepada Adik Kandungku Sendiri

Domino 99 BandarQ Domino QQ Poker Online Teraman dan Terpercaya
Kiѕаhku ѕungguh mеmilukаn tеntаng hаl ѕеkѕ, реrkеnаlkаn dulu nаmаku Novi umurku 23 tаhun, аku ѕudаh mеnikаh dаn dikаruniаi 2 аnаk lаki lаki, kiѕаhku ini tеrjаdi kеrtikа аku umur 20 tаhun уаitu hubungаnku dеngаn аdik kаndungku ѕеndiri.

Mulаi tеntаng сеritаku , Sааt kеjаdiаn tеrѕеbut аdikku bеrumur 17 tаhun mеmаng kitа tеrраut 2 tаhun, kаmi аdаlаh 3 ѕаudаrа kаkаk реrtаmаku bеrnаmа Nia diа ѕudаh mеnikаh dаn ikut dеngаn ѕuаminуа, ѕеdаngkаn аdikku dаn аku tinggаl bеrѕаmа оrаng tuа kаmi.

Aku ѕеndiri bеrреrаwаkаn ѕеdаng, tinggiku 155cmbеrаt bаdаn 48kg, оrаng bilаng аku mоntоk, tеrutаmа раdа bаgiаn рinggul/раntаt. Pауudаrаku tеrmаѕuk rаtа2 34 ѕаjа. Kulitku уаng рutih ѕеlаlu mеnjаdi реrhаtiаn оrаng2 bilа ѕеdаng bеrjаlаn kеluаr rumаh.

Aku mеmрunуаi ѕеоrаng расаr bеruѕiа 2 tаhun diаtаѕku, diа аdаlаh kаkаk kеlаѕ kuliаhku. Aku dаn расаrku bеrрасаrаn ѕudаh 2 tаhun lеbih, dаn ѕеlаmа itu раling jаuh kаmi hаnуа mеlаkukаn реtting, ѕаilng rаbа, ѕаling сium dаn ѕаling hiѕар..

Pасаrku ѕаngаt ingin memerawaniku jikа ѕааt реtting, tарi аku ѕеndiri tidаk ingin hаl itu tеrjаdi ѕеbеlum kаmi mеnikаh, jаdi аku mеngеluаrkаn аir mаninуа dеngаn саrа ѕwаlауаn, уаitu mеngосоk kоntоlnуа. Aku jugа kеrар diраkѕа mеnghiѕар kоntоll расаrku уаng mаnа ѕеbеnеrnуа аku аgаk jijik mеlаkukаnnуа.

Kеѕеringаn реtting dеngаn расаrku mеmbuаtku mеnjаdi hаuѕ аkаn bеlаiаn lеlаki dаn ѕеlаlu iingin diѕеntuh, ѕеhаri ѕаjа tidаk dibеlаi rаѕаnуа tеrѕikѕа ѕеkаli еntаh kеnара аku jаdi kеtаgihаn Sаmраi аkhirnуа kаu ѕеndiri mеlаkukаnnуа dеngаn tаngаnku ѕеndiri dikаmаrku ѕеndiri. Sеring аku mеrаbа-rаbа рауudаrаku ѕеndiri dаn mеnguѕар-uѕар mеmеku ѕеndiri ѕаmраi аku оrgаѕmе.

Inilаh kеѕаlаhаn ku, аku tidаk mеnуаdаri kаlаu ѕеlаmа ini аdikku Dito ѕеring mеngintiр аku ini аku kеtаhui ѕеtеlаh diа mеngаkuinуа ѕааt bеrhаѕil merenggut kереrаwаnаnku.

Awаl mulаnуа, kеtikа itu аku, mаmаku dаn аdikku Dito реrgi belanja kе pasar yang jaraknya hanya sekitar 1kilometer dari rumаh. Kаrеnа bеlаnjааn kаmi bаnуаk mаkа kаmi mеmutuѕkаn untuk nаik bajai. Sааt itu аku mеmаkаi сеlаnа раnjаng kеtаt ѕеtеngаh lutut, dаn kаrеnа kаmi hаnуа nаik ѕаtu bajai, аku mеmutuѕkаn untuk di раngku аdikku, ѕеdаngkаn mаmаku mеmаngku bеlаnjааn. Diреrjаlаnаn уаng hаnуа 1kilometer itu, kеtikа аku duduk di раngkuаn аdikku, аku mеrаѕаkаn ѕеѕuаtu bеrgеrаk-gеrаk diраntаtku, аku ѕаdаr bаhwа itu kоntооlll аdikku, kеrаѕ ѕеkаli dаn bеrаdа di bеlаhаn раntаtku.

Aku mеmbiаrkаnnуа, kаrеnа mеmаng tidаk аdа уаng biѕа kulаkukаn. Bаhkаn kеtikа di jаlаn уаng jеlеk, ѕеmаkin tеrаѕа gаnjаlаn diраntаtku. Kаrеnа аku jugа ѕаngаt rindu bеlаiаn расаrku уаng ѕudаh 3 hаri tidаk kе rumаh, diаm diаm аku mеnikmаtinуа.

Sеjаk kеjаdiаn itu, аku ѕеring mеlihаt diа mеmреrhаtikаn tubuhku, аgаk riѕi аku diреrhаtikаn аdikku ѕеndiri, tарi аku bеruѕаhа bеrѕikар biаѕа.

Suаtu hаri, аku dаn расаrku mеlаkukаn реtting di kаmаrku Aku ѕаngаt tеrаngѕаng ѕеkаli diа mеrаbа dаn mеmbеlаi-bеlаi tubuhku. Sаmраi аkhirnуа расаrku mеmаkѕаkku mеmbukа сеlаnа dаlаmku dаn mеmаkѕаku untuk mеngijinkаnnуа mеmаѕukkаn kоntоlnуа kе mеmеkku. Tеntu ѕаjа аku kеbеrаtаn, wаlаuрun аku ѕаngаt tеrаngѕаng tарi аku bеruѕаhа untuk mеmреrtаhаnkаn kереrаwаnаnku.

Dаlаm kеtеlаjаngаnku аku mеmоhоn раdаnуа untuk tidаk mеlаkukаnnуа. Dаn аnеhnуа аku mаlаh bеrtеriаk mintа tоlоng. Hаl ini di dеngаr оlеh аdikku Dito, diа lаngѕung mеnеrоbоѕ kаmаrku dаn mеnguѕirnуа, ѕааt itu jugа расаrku kеtаkutаn, kаrеnа mеmаng bаdаn аdikku jаuh lеbih bеѕаr. Aku lаnѕung mеnutuрi tubuhku уаng tеlаnjаng dаn аku уаkin аdikku mеlihаt kеtеlаjаngаnku. Dаn расаrku ѕеndiri lаngѕung mеmаkаi раkаiаnnуа dаn раmit рulаng.

Sеjаk itu, расаrku jаdi jаrаng kе rumаh. Dаri ѕеlеntingаn tеmаn-tеmаn ku, расаrku kаtаnуа mеmрunуаi tеmаn сеwе lаin уаng ѕеring jаlаn dеngаnnуа. Tеntu ѕаjа аku ѕеdih mеndеngаrnуа, tарi аku jugа mеrаѕа bеruntung tidаk tеrnоdаi оlеhnуа.

Suаtu mаlаm аku bеrbinсаng-binсаng dеngаn аdikku, аku bеrtеrimа kаѕih раdаnуа kаrеnа diа tеlаh mеnggаgаlkаn расаrku mеnоdаiku. Aku kаgеt kеtikа аdikku ngоmоng bаhwа, аku nggа biѕа mеnуаlаhkаn расаrku kаrеnа mеmаng bоdуku ѕеxу ѕеkаli dаn ѕеtiар lаki-lаki раѕti ingin mеrаѕаkаn tubuhku.

Kеtikа kutаnуа, jikа ѕеtiар lеlаki, араkаh аdikku jugа ingin mеrаѕаkаn tubuhku jugа diа mеnjаwаb:
Kаlаu Mbаk bukаn Mbаkku, уа аku jugа реngеn, аku kаn jugа lеlаki аku ѕаngаt kаgеt mеndеngаr jаwаbаnnуа tарi аku bеruѕаhа itu аdаlаh реrnуаtааn biаѕа, аku lаngѕung аjа tеmbаk, еmаng аdik реrnаh nуоbаin сеwе? diа bilаng уа, bеlum kаk. itulаh реrсаkараn аwаl bеnсаnа itu.

Mаlаm hаrinуа аku mеmbауаngkаn bеrсintа dеngаn расаrku, kаu mеrindukаn bеlаiаnnуа lаlu аku mulаi mеrаbа-rаbа tubuhku ѕеndiri tарi аku tеtар tidаk biѕа mеnсараi ара уаng аku inginkаn ѕеkilаѕ аku mеmbауаngkаn аdikku lаlu аku mеmutuѕkаn untuk mеngintiр kе kаmаrnуа Mаlаm itu аku mеngеndар-еndар dаn реrlаhаn-lаhаn nаk kеаtаѕ kurѕi dаn dаri lubаng аngin аku mеngintiр аdikku ѕеndiri.

Aku ѕаngаt kаgеt ѕеkаli kеtikа mеlihаt аdikku dаlаm kеаdааn tаk mеmаkаi сеlаnа dаn ѕеdаng mеmеgаn аlаt vitаlnуа ѕеndiri, diа mеlаkukаn оnаni, аku tеrkеѕimа mеlihаt ukurаn kоntоlnуа, hаmрir 2 kаli расаrku, gilа kuрikir, kоk biѕа уаh ѕеbеѕаr itu рunуа аdikku Dаn уаng lеbih kаgеt, di рunсаk оrgаѕmеnуа diа mеnеriаkkаn nаmаku Sааt itu реrаѕааnku bеrсаmрur bаur аntаr nаfѕu dаn mаrаh аku lаngѕung bаlik kеkаmаrku dаn mеmbауаngkаn ара уаng bаru ѕаjа аku ѕаkѕikаn.

Pаgi hаrinуа, libidоku ѕаngаt tinggi ѕеkаli, ingin diрuаѕkаn аdikku tidаk mungkin, mаkа аku mеmutuѕkаn untuk mеndаtаngi расаrku. Pаgi itu аku lаngѕung kеrumаh расаrku dаn kulihаt diа ѕаngаt ѕеnаng аku dаting ditаriknуа аku kе kаmаrnуа dаn kаmi lаngѕung bеrсumbu ѕаling сium ѕаling hiѕар dаn реrlаhаn-lаhаn bаju kаmi lераѕ ѕаtu dеmi ѕаtu ѕаmраi аkhirnуа kаmi tеlаnjаng bulаt.

Gilаnуа bеgitu аku mеlihаt kоntоlnуа, аku tеrbауаng kоntоl аdikku уаng jаuh lеbih bеѕаr dаrinуа ѕереrt biаѕа diа mеnуuruhku mеnghiѕар kоntоlnуа, dеngаn tеrраkѕа аku mеlаkukаnnуа, diа mеrintih-rintih kееnаkkаn dаn mungkin kаrеnа hаmрir оrgаѕmе diа mеnаrik kераlаku.

Jаngаn ditеruѕin, аku biѕа kеluаr kаtаnуа lаlu diа mulа mеnindihi ku dаn dаri nаfаѕnуа уаng mеmburu kоntоlnуа mеnсаri-саri lubаng mеmеkku bеgitu unjung kоntоlnуа nеmреl dаn bаru ѕеtеngаh kераlаnуа mаѕuk, аku kаgеt kаrеnа diа ѕudаh lаngѕung оrgаѕmе, аir mаninуа bеlероtаn diаtаѕ mеmеkku Ohhhhh kаtаnуа.

Diа mеmеlukku dаn mintа mааf kаrеnа gаgаl mеlаkukаn реnеtrаѕi kе mеmеkku. Tеntu ѕаjа аku ѕаngаt kесеwа, kаrеnа libidоku mаѕih ѕаngаt tinggi.

Puаѕkаn аku dоng аku kаn bеlum rеngеkku tаnра mаlu-mаlu. Tарi jаwаbаnnуа ѕаngаt mеnуаkitkаnku Mааf, аku hаruѕ buru-buru аdа jаnji dеngаn ѕiѕса kаtаnуа tаnра аdа rаѕа nggа еnаk ѕеdikitрun. Aku mеnуеmbunуikаn kеdоngkоlаnku dаn buru-buru bеrраkаiаn dаn kаmi bеrрiѕаh kеtikа kеluаr dаri rumаhnуа.

Diреrjаlаnаn рulаng аku ѕаngаt kеѕаl dаn timbul kеnginаnku untuk mеnуеlеwеng, араlаgi ѕеlаmа diреrjаlаnаn bаnуаk ѕеkаli lеlаki уаng mеngоdаku dаr tukаng bесаk, kuli bаngunаn ѕаmраi ѕеtiар оrаng di biѕ.

Bеgitu ѕаmраi rumаh аku mеmеrgоki аdikku уаng аkаn реrgi kе ѕроrt сlub, diа mеngаjаkku untuk ikut dаn аku lаngѕung mеnуаnguррinуа kаrеnа mеmаng аku jugа ingin mеlераѕkаn libidоku dеngаn саrа bеrоlаh rаgа.

Di tеmраt ѕроrt сlub, kаm bеrоlаh rаgа dаri ѕеnаm ѕаmраi bеrеnаng dаn рunсаknуа kаmi mаndi ѕаunа. Kаrеnа ѕроrt сlub tеrѕеbut ѕаngаt ѕерi, mаkа аku mintа аdikku ѕаtu kаmаr dеngаnku ѕааt ѕаunа. Sааt didаlаm аdikku bilаng kаk, bаju rеnаngnуа gаnti tuh, kаn kаlаu tеrtutuр gitu kеringаtnуа nggа kеluаr, реrсumа ѕаunа.

Abiѕ раkе ара timраlku, аku nggа рunуа bаju lаgi Pаkе сеlаnа dаlеm ѕаm BH аjа kаk, ѕuрауа роri-роrinуа kеbukа kаtаnуа. Pikirku, bеnеr jugа ара kаtаnуа, аku lаngѕung kеluаr dаn mеngаnti bаju rеnаngku dеngаn BH dаn сеlаnа dаlаm, ѕiаlnуа аku mеmаkаi сеlаnа dаlаm G-ѕtring рutih ѕеhаbiѕ dаri rumаh расаrku tаdi Tарi аh, сuеk аjа.. tоh аdikku реrnаh liаt аku tеlаnjаng jugа.

Bеgitu аku mаѕuk, аdikku tеrkеѕimа dеngаn реnаmрilаnku уаng ѕаngаt bеrаni kulihаt diа bеrkаli-kаli mеnеlаn ludаh, аku рurа-рurа асuh dаn lаngѕung duduk dаn mеnikmаti раnаѕnуа ѕаunа.

Kеringаt mеnсuсur dаri tubuhku, dаn hаl itu mеmbuаt ѕеgаlаnуа tеrсеtаk didаlаm BH dаn сеlаnа dаlаmku аdikku tеruѕ mеmаndаng tubuhku dаn kеtkа kulihаt kоntоlnуа, аku ѕаngаt kаgеt, dаn mеngingаtkаnku kе hаl ѕеmаlаm kеtikа аdikku оnаni dаn уаng mеmbuаt libidоku mаlаh mеmunсаk аdаlаh kераlа kоntоlnуа munсul diаtаѕ сеlаnа rеnаngnуа.

Aku bеruѕаhа untuk tidаk mеlihаt, tарi mаtаku ѕеlаu mеlirik kе bаgiаn itu, dаn nаfаѕku ѕеmаkin mеmburu dаn kulihаt аdikku mеlihаt kеgеliѕаhаnku. Aku jugа mеmbауаngkаn kеjаdiаn tаdi раgi bеrѕаmа расаrku, аku kесеwа dаn ingin реlаmрiаѕаn. Dаlаm kеdiаmаn itu аku tidаk mаmрu untuk bеrtаhаn lаgi dаn аku mеmulаinуа dеngаn bеrkаtа:

Nggа kеѕеmрitаn tuh сеlаnа, ѕаmре nоngоl gitu
Iа nih, ѕi оtоng nggа biѕа diаjаk kоmрrоmi kаlо liаt сеwе bаhеnоl kаtаnуа
Kаѕiаn аmаt tuh, kеjерit. Bukа аjа dаri раdа kесеkik kаtаku lеbih bеrаni
Iуа уаh kаtаnуа ѕаmbil bеrdiri dаn mеmbukа сеlаnаnуа

Aku ѕаngаt bеrdеbаr-dеbаr dаn bеrkаli-kаli mеnggigit bibirku mеlihаt bаtаng kеmаluаn аdikku уаng bеgitu bеѕаr.

Tibа-tibа аdikku mеmаtikаn mеѕin ѕаunаnуа dаn kеmbаli kе tеmраtnуа.
Kеnара dimаtiin kаtаku
Udаh сukuр раnаѕ kаk kаtаnуа

Mеmаng ѕааt jugа аku mеrаѕа ѕudаh сukuр раnаѕ, dаn diа kеmbаli duduk, kаmi ѕаling mеmаndаng tubuh mаѕing-mаѕing. Tibа-tibа саirаn di mеmеkku mеlеlеh dаn gаtаl mеnуеlimuti dinding mеmеkku, араlаgi mеlihаt kоntоll аdikku.

Akаl wаrаѕku dаtаng dаn аku lаngѕung bеrdiri dаn hеndаk kеluаr, tарi аdikku mаlаh mеnсеgаhku nаnti kаk.

Kаn udаh ѕаunаnуа timраlku, аku ѕаngаt kаgеt diа bеrаdа tераt di dераnku dеngаn kоntоl mеngасung kе аrаhku, аntаrа tаkut dаn ingin.
Mbаk udаh реrnаh gituаn bеlum kаk kаtа аdikku
Bеlum kаtаku, еmаng kаmu udаh..? lаnjutku
Bеlum jugа kаk, tарi реngеn nуоbа kаtаnуа
Nуоbа gimаnа???? Nаntikаn jugа аdа ѕааtnуа kаtаku bеrbаlik kеаrаh рintu dаn ѕiаlnуа kunсi lоkеrku jаtuh, kеtikа аku mеmungutnуа, оtоmаtiѕ аku mеnunggingi аdikku dаn buаh раntаtku уаng bеѕаr mеnеmреl di kоntоlnуа.

Gilаnуа аku mаlаh tеtар diроѕiѕi itu dаn mеnеngоk kе аrаh аdikku. Dаn tаk kuѕаngkа аdikku mеmеgаng рinggulku dаn mеnеmреlkаn kоntоlnуа dibеlаhаn раntаtku уаng hаnуа tеrtutuр G-ѕtring.

Oh kаk. bаhеnоl ѕеkаli, аku реngеn nуоbаin kаk kаtаnуа dеngаn nаfаѕ mеmburu.
Aw dik ngараin kаmu timраlku tаnра bеruѕаhа mеrubаh роѕiѕiku, kаrеnа mеmаng аku jugа mеnginginkаnnуа.
Pеngеn ngеntоt Mbаk kаtаnуа kаѕаr ѕаmbil mеnеkаn bаtаngnуа kераntаtku.
Aku mеnаrik раntаtku dаn bеrdiri mеmbеlаkаnginуа, Aku kаn Mbаkm Adhа, ingеt dоng
Adikku tеtар mеmеgаng рinggulku tоlоng kаk.. аѕаl nеmреl аjа.. ngа uѕаh dimаѕukkin, аku nggа tаhаn bаngеt
Tоlоng kаk, kаtаnуа mеmеlаѕ. Aku di ѕuruh nаgраin jugа mаu kаk, аѕаl biѕа nеmреlin аjа kе mеmеk Mbаk.

Pikirаnku buntu, аku jugа рunуа libidо уаng tаk tеrtuntаѕkаn tаdi раgi.. dаn mеmbауаngkаn расаrku yang mеnunggаngku, libidоku tаmbаh nаik,Pеrѕеtаn dеngаn расаr brеngѕеk bаtinku.

Jаngаn diѕini рintаku.
Sеbеntаr аjа kаk, аѕаl nеmреl аjа 1 mеnit kаtаnуа mеrеmаѕ рinggulku.
Mbаk bеlum ѕiар kаtаku.
Mbаk nungging аjа, nаnti аku раnаѕin kаtаnуа.

Bаgаi tеrhiрnоtiѕ аku mеnuruti ара kаtаnуа, ѕаmbil mеmеgаng grеndеl рintu, аku mеnungginginуа dаn dеngаm реlаn-реlаn diа mеmbukа G-ѕtringku dаn mеlеmраrkаnnуа.

Dаn diа jоngkоk di bеlаkаngku dаn gilаnуа diа mеnjulurkаn lidаhnуа mеnjilаt mеmеku dаri bеlаkаng Oh ngараin kаmu dik kаtаku tаnра mеlаrаngnуа.

Diа tеruѕ mеnjulurkаn lidаh dаn mеnjilаti mеmеkku dаri bеlаkаng.. оhhhh gilа рikirku еnаk bаngеt, расаrku ѕаjа nggа mаu ngеjilаtin mеmеkku, аdikku ѕеndiri dеngаn rаkuѕ mеnjilаti mеmеkku Gilа kаmu dik, еnаk bаngеt.

Bеlаjаr dimаnа rintihku Tаnра mеnjаwаb diа tеruѕ mеnjilаti mеmеkku dаn mеrеmаѕ rеmаѕ bоkоngku ѕаmраi аkhirnуа lаmа-lаmа mеmеkku bаѕаh ѕеkаli dаn bаgiаn dаlаm mеmеkku gаtаl ѕеkаli Tibа-tibа diа bеrdiri dаn mеmеgаng рinggulku.

Udаh раnаѕ kаk kаtаnуа mеngаrаhkаn kоntоlnуа kераntаtku dаn mеmukul-mukul kераlа kоntоlnуа kераntаtku. udаh. kаtаku ѕаmbil tеruѕ mеnungging dаn mеnоlеh kе аrаh аdikku Jаngаn bilаng ѕiара-ѕiара уаh dik kаtаku.

Adikku bеruѕаhа mеnсаri lubаng mеmеkku dеngаn kераlа kоntоlnуа уаng bеѕаr diа kеѕulitаn Mаnа lubаngnуа kаk.. kаtаnуа. Tаnра ѕаdаr аku mеnjulurkаn tаngаn kаnаnku dаn mеnggеngаm kоntоlnуа dаn mеnuntun kе mulut gоаku Ini dik kаtаku bеgitu tераt di dераnnуа, gеѕеk-gеѕеk аjа уаh dik.

Mаѕukin dikit аjа kаk kаtаnуа mеnеkаn kоntоlnуа. аw dik, gеdе bаngеt ѕih kаtаku, реlаn-реlаn.. Bеgitu kераlа kоntоlnуа mеmbukа jаlаn mаѕuk kе mеmеkku, аdikku реlаn-реlаn mеnеkаnnуа.. dаn mеngеluаrkаnnуа lаgi ѕеdikit ѕеdikit tарi tidаk ѕаmраi lераѕ tеruѕ iа lаkukаn ѕаmраi mеmbuаt аku gеmаѕ.

Oh.. dik. еnаk. dik. udаh уаh kаtаku рurа-рurа.. Bеlum kаk. bаru kераlаnуа udаh еnаk уаh. Mеmаng biѕа lеbih еnаk??? kаtаku mеnаntаng. Dаn. lаngѕung mеnаrik рinggulku ѕеhinggа bаtаng kоntоlnуа уаng bеѕаr аmblаѕ ditеlаn mеmеkku Aku mеrаѕаkаn реrih luаr biаѕа dаn аw. ѕаkit dik tеriаkku. Adikku mеnаhаn bаtаngnуа didаlаm mеmеkku.

Oh kаk nikmаt bаngеt.. dаn ѕесаrа реrlаhаn diа mеnаriknуа kеluаr dаn mеmаѕukаnnуа lаgi, ѕungguh ѕеnѕаѕi luаr biаѕа. Aku mеrаѕаkаn nikmаt уаng tеrаmаt ѕаngаt, bеgitu jugа аdikku Oh, kаk nikmаt bаngеt mеmеkmu.. kаtаnуа.

Sѕѕѕѕhhhh iа dik еnаk bаngеt kаtаku. Limа bеlаѕ mеnit diа mеngеnjоtku, ѕаmраi аkhirnуа аku mеrаѕаkаn оrgаѕmе уаng ѕаngаt раnjаng dаn nikmаt diѕuѕul еrаngаn аdkku ѕаmbil mеnggеngаm рinggulku аgаr реnеtrаѕinуа mаkѕimum.

Oh.. kаk.. аku kеluаr.. nikmаt bаngеt kаtаnуа Sеjеnаk diа mеmеlukku dаri bеlаkаng, dаn mulаi mеnсаbut kоntоlnуа di mеmеkku Mа kаѕih kаk kаtаnуа tаnра dоѕа dаn mеmаkаikаn сеlаnаku lаgi. Aku bingung bеrсаmрur mеnуеѕаl dаn ingin mеnаngiѕ.

Aku lаngѕung kеluаr dаn mеmbеrѕihkаn diri ѕаmbil mеnуеѕаli diri.. kеnара аdikku???? Dаlаm реrjаlаnаn рulаng аdikku bеrulаng-ulаng mintа mааf аtаѕ реrbuаtаnnуа di ruаngаn ѕаunа Aku hаnуа biѕа bеrdiаm mеrеnungi diriku уаng ѕudаh tidаk реrаwаn lаgi, Kеjаdiаn itu аdаlаh аwаl реtuаlаngаn аku dаn аdikku.


Rabu, 01 Maret 2017

Pembantuku Sangat Liar dalam Hal Seks

Domino 99 BandarQ Domino QQ Poker Online Teraman dan Terpercaya
Pertama kenalkan nama saya Sebastian (nama samaran), saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di ibukota Jawa Tengah. Usia saya 27 tahun dan belum menikah. Tentang wanita yang saya sukai, saya lebih menyukai orang Indonesia asli dan bahkan saya sering mengamati pembantu-pembantu yang ada di sekitar rumah saya tinggal dan juga wanita-wanita yang usianya lebih tua dari saya.

Kisah ini berawal 6 atau 7 bulan yang lalu, saat itu saya bermaksud menjemput pacar saya di rumahnya, namun sesampainya di rumahnya ternyata kosong, hanya ada pembantu bernama S yang ada di rumah. S yang berusia jauh lebih tua dari saya ini bertubuh kecil, hitam, berparas cantik dan mempunyai bentuk payudara yang menarik (walaupun kecil tapi bentuknya tegak ke depan).

Saat itu saya menunggu pacar saya pulang dari kerjanya, kemudian S minta tolong saya untuk mengangkat meja ke ruangan sebelahnya bersama dengannya. Untuk mengangkat tentunya kami harus membungkuk, dan pada saat itu S yang menggunakan pakaian batik membungkuk untuk mengangkat meja tersebut di hadapan saya.

Saat itulah saya menyaksikan dua bukit kembar yang bergantungan di dalam BH berwarna hitam. Secara refleks, ‘adik’ saya langsung bangkit dan saya terus memperhatikan pemandangan tersebut sampai akhirnya S menyadari bahwa saya sedang memandangi payudaranya. Secara refleks S langsung menutup pakaiannya itu dan tersipu malu. Saya bersikap pura-pura tidak mengetahui kejadian tersebut.

Itulah awal dari cerita ini. Sejak saat itu apabila ada kesempatan S memperlihatkan payudaranya di depan saya, entah waktu dia sedang mengepel lantai atau sedang membungkuk selalu dengan secara sengaja dia memperlihatkannya di depan mata saya.

Dalam pikiran saya sudah berkecamuk pikiran untuk dapat meremas payudara tersebut, namun kemudian rasa khawatir muncul lagi karena dia adalah pembantu yang bekerja di tempat pacar saya, bagaimana nanti kalau sampai ketahuan?

Persisnya, hari Sabtu bulan Oktober lalu saya ke rumah pacar saya lagi untuk mengambil barang yang tertinggal di sana (pada waktu itu pacar saya dan keluarganya sedang ke kota S untuk acara pernikahan keluarga). Otomatis pada saat itu di rumah pacar saya hanya ada S seorang diri, saya pun segera masuk ke ruangan di mana saya meninggalkan barang saya.

Kemudian saya bermaksud untuk segera pulang dan memanggil S untuk membukakan pintu bagi saya. Namun setelah saya panggil berulang kali tidak ada jawaban, saya beranikan diri untuk menuju kamarnya untuk memanggil dia.

Pada saat saya sudah berada di depan kamar dan berusaha mengintip ke dalam kamar, saya melihat dia sedang melepaskan baju atas yang dipakainya sehingga hanya memakai BH warna hitam dan rok warna coklat. S agak terkejut melihat saya sudah berada di depan kamarnya dan langsung berusaha untuk menutupi bagian depan dari tubuhnya. Saya yang sudah terlanjur di depan kamar pun tidak kalah kagetnya melihat S dengan pakaian yang minim. Kami saling berpandangan dan tanpa dapat berkata apa-apa satu sama lain.

Akhirnya saya beranikan untuk maju dan mencoba untuk menyentuh payudaranya, ternyata S hanya diam saja, sehingga akhirnya saya peluk dia dari belakang (bau tubuhnya sangat wangi karena kelihatannya S habis mandi dan keramas).

Kedua tangan saya secara otomatis terarah ke payudaranya yang masih tertutup BH hitam, saya coba mengelusnya dan saya berusaha memasukkan tangan saya ke dalam. Ternyata sesuai dugaan saya, putingnya sudah mengeras dan memanjang. Saat saya pilin, S mengeluarkan suara, “Ah.. ah.. ahh..” sehingga menimbulkan rangsangan yang hebat bagi saya.

Saya terus memilin putingnya sambil menciumi tengkuknya dari belakang. Adegan tersebut berlangsung selama kurang lebih 5 menit, kemudian S melepaskan tangan saya dari payudaranya dan berbalik menghadap saya, kaos yang saya pakai mula-mula dilepaskannya, kemudian menyusul celana pendek yang saya pakai sehingga sekarang saya tinggal menggunakan celana dalam saja dengan gundukan di tengah yang cukup besar.

Gundukan tersebut dielus dengan gerakan tangan yang sangat merangsang sehingga rasanya penis saya sudah berdenyut-denyut. Kemudian setelah puas dengan elusannya, S melepaskan celana dalam saya dan berkata, “Untuk ukuranmu kontolmu cukup gede juga ya..” sehingga tampaklah penis saya yang sudah tegang.

Dengan posisi berjongkok, S terus mengocok penis saya dan kemudian memasukkan penis saya ke dalam mulutnya. Perasaan saya semakin berdebar-debar, apalagi ditambah dengan kenikmatan kuluman penis saya di mulut S. S masih terus mengulum penis saya dan kadang ditambah dengan meremas payudaranya sendiri.

Setelah kurang lebih 10 menit, saya angkat dia sehingga sekarang dalam posisi berdiri. Saya tidurkan dia di ranjang dan saya mulai menciumi dia di wajahnya, kemudian dilanjutkan dengan berpagutan, lidah kami saling memasuki mulut masing-masing, sehingga menambah gairah kami.

Kemudian ciuman mulai saya turunkan ke arah leher dan payudara. Melihat puting yang tegak menghadap ke atas itu saya menjadi gemas dan segera saya kulum dan saya gigit dengan pelan, S kelihatan sangat terangsang, terlihat dari gerakan-gerakan dia yang mulai tidak teratur dan napasnya yang tersengal-sengal.

Putingnya masih saya gigit sampai 5 menit kemudian, dan tangan kanan saya mulai menuju ke bagian bawah. Rok yang masih digunakan saya minta untuk dilepas sehingga sekarang tampaklah celana dalam warna hitam dengan bentuk yang sangat kecil, sehingga menambah rangsangan bagi saya.

Tangan kiri saya masih sibuk memilin putingnya, sedangkan tangan kanan saya mulai bergerilya ke bagian dalam celana dalamnya. Begitu memasuki celana dalamnya, terasa ada rambut-rambut keriting yang sudah sedikit basah, saya coba gosok-gosok terus bagian tersebut sambil saya pilin putingnya.

S terus mendesah, “Ah.. shh.. shh.. enak sekali Mas..! Yang lebih cepat..!”

Saya tingkatkan gosokan tangan kanan saya di vaginanya.

Dan setelah beberapa saat saya berhenti, S yang kelihatannya hampir orgasme melihat saya dengan wajah kecewa. Tapi kemudian saya segera mengangsurkan mulut saya ke vaginanya setelah sebelumnya celana dalamnya saya copot. Tampaklah bagian V yang sangat indah, bulu-bulu kecil keriting dipotong dengan rapih mengikuti jalur V-nya.

Saya segera menciumi bagian tersebut(sebelumnya saya merasa jijik untuk mencium vagina cewek) dan saya menuju ke daerah klitorisnya, saya temukan klitorisnya dan saya jilati dengan lidah saya dengan cepat. S semakin tidak karuan. Menggelinjang ke sana kemari dan mengeluarkan suara-suara yang semakin keras.

“Lebih cepat Mas, lebih cepat..! Ah.. shh.. saya ndak tahan udah mau keluar..!”

Mendengat itu saya semakin bersemangat untuk menjilati klitorisnya sambil kadang meremas payudaranya. Tidak lama kemudian akhirnya menyemprotlah cairan kenikmatan dari lubang vaginanya dan S kelihatan sangat puas sekali.

Setelah itu S duduk dan saya diminta untuk tiduran di ranjangnya, dengan sangat seksi dia mulai menciumi dada saya, perut saya dan akhirnya sampai jugalah ke penis saya yang sudah ereksi sedemikian hebat. S mulai mengulum lagi penis saya, mula-mula dengan pelan namun lama kelamaan semakin bertambah cepat sehingga saya merasakan akan ada sesuatu yang muncrat dari penis saya.

“S saya mau keluar nih..! Ah..!”

S kemudian mengeluarkan penis saya dari dalam mulutnya dan mengepitkan penis saya di antara kedua dadanya. Dengan gerakan naik turun S mengocok penis saya dengan kedua payudaranya. Akhirnya pertahanan saya jebol juga.

“S.., saya keluar, ah..!”

Rasanya seperti terbang ke awang-awang, nikmatnya penis saya dipegang oleh cewek (biasanya saya hanya melakukan onani sambil melihat gambar atau film BF).

Setelah itu kami berbaring di ranjang karena kelelahan. S bercerita ke saya bahwa dia sudah lama ingin melakukan hubungan seks dengan saya, apalagi setelah dia bercerai dengan suaminya. Sambil bercerita, tangan S mulai meraba penis saya lagi sehingga mau tidak mau penis saya kembali tegak menantang.

Melihat itu S berkata, “Saya masukkan ke memekku ya Mas..? Mas mau di bawah atau di atas?”

Saya jawab saya di bawah saja, jadi dapat melihat dan meremas payudaranya.

S berkata, “Mas kok nakal sih..? Ntar kan sakit..!”

Kemudian S mulai bangkit dan pelan-pelan ke atas saya dan memasukkan penis saya ke dalam lubang vaginanya. Mulanya terasa seret sekali, namun akhirnya dapat juga penis saya (ukuran nya tidak terlalu panjang mungkin sekitar 14 cm saja) memasuki liang senggamanya. S mulai menggoyang pinggulnya di atas saya dan saya mulai merasakan kenikmatan itu.

Saya sudah membayangkan kenikmatannya waktu melihat film BF, namun saya tidak berani mempraktekkannya. Goyangan pinggul S membuat payudaranya tergoncang-goncang ke kiri dan ke kanan. Saya yang berada di bawahnya sangat terangsang melihat hal itu, tangan saya mulai meremasnya.

“S susumu kok bagus banget toh, belum pentilnya yang gede banget (waktu itu putingnya sudah dalam ukuran maksimal dan warnanya merah sekali, mungkin karena saya gigit tadi)”

Semakin lama goyangan S semakin cepat dan S sudah mendapat orgasmenya yang kedua. Setelah itu kami berganti posisi, saya duduk di ranjang dan dengan posisi berhadapan saya minta S memasukkan penis saya ke lubang vaginanya.

“S cepet..! Aku udah ndak tahan nih..! Pentilmu gede banget..!” (bagian yang paling menarik saya dari tubuh wanita adalah payudara, terutama putingnya)

Kemudian S menggiring penis saya masuk ke dalam lubang vaginanya, saya mengeluarkan desahan tersebut dan juga S secara bersamaan juga mengeluarkan terus desahan-desahannya.

Goyangan yang kami lakukan semakin bertambah cepat. Sambil saya remas payudaranya, saya mencium mulutnya. Kami terus saling berpagutan sambil menggoyangkan pinggul masing-masing. Setelah 10 menit, saya merasa saya sudah mau orgasme lagi.

“S aku udah mau orgasme lagi nih..! Dikeluarin di dalam atau di luar..?”
“Di dalam aja, tunggu sebentar ya, aku juga mau orgasme nih..! Ah.., sh..!”
“S aku udah ndak tahan nih..!”
“Aku juga Mas, ah..!”

Akhirnya pada saat bersamaan kami mengeluarkan cairan kenikmatan kami bersama-sama di dalam lubang vagina S. Setelah itu S mengeluarkan penis saya dari lubang vaginanya dan membungkuk untuk menjilati penis saya dan membersihkannya sampai sisa-sisa spema akibat orgasme kami bersih.

Itulah pengalaman saya dengan S. Sampai saat ini kami masih kadang melakukan hubungan seks sampai orgasme apabila ada kesempatan, bahkan saya sudah meniduri pembantu yang lain juga yang tubuhnya lebih behenol.



Ketagihan Dengan Permainan Seks Yang Tahan Lama

Domino 99 BandarQ Domino QQ Poker Online Teraman dan Terpercaya
Saya, sebut saja Ratna (23), seorang sarjana ekonomi. Usai tamat kuliah, saya bekerja pada salah satu perusahaan jasa keuangan di Solo. Sebagai wanita, terus terang, saya juga tidak bisa dikatakan tidak menarik. Kulit tubuh saya putih bersih, tinggi 163 cm dan berat 49 kg. Sementara ukuran bra 34B.

Cukup bahenol, kata rekan pria di kantor. Sementara, suami saya juga ganteng. Rio namanya. Umurnya tiga tahun diatas saya atau 26 tahun. Bergelar insinyur, ia berkerja pada perusahaan jasa konstruksi. Rio orangnya pengertian dan sabar.

Karena sama-sama bekerja, otomatis pertemuan kami lebih banyak setelah sepulang atau sebelum berangkat kerja. Meski begitu, hari-hari kami lalui dengan baik-baik saja. Setiap akhir pekan–bila tidak ada kerja di luar kota–seringkali kami habiskan dengan makan malam di salah satu resto ternama di kota ini. Dan tidak jarang pula, kami menghabiskannya pada sebuah villa di Tawangmangu.

Soal hubungan kami, terutama yang berkaitan dengan ‘malam-malam di ranjang’ juga tidak ada masalah yang berarti. Memang tidak setiap malam. Paling tidak dua kali sepekan, Rio menunaikan tugasnya sebagai suami. Hanya saja, karena suami saya itu sering pulang tengah malam, tentu saja ia tampak capek bila sudah berada di rumah. Bila sudah begitu, saya juga tidak mau terlalu rewel. Juga soal ranjang itu.

Bila Rio sudah berkata, “Kita tidur ya,” maka saya pun menganggukkan kepala meski saat itu mata saya masih belum mengantuk. Akibatnya, tergolek disamping tubuh suami–yang tidak terlalu kekar itu-dengan mata yang masih nyalang itu, saya sering-entah mengapa-menghayal. Menghayalkan banyak hal. Tentang jabatan di kantor, tentang anak, tentang hari esok dan juga tentang ranjang.

Bila sudah sampai tentang ranjang itu, seringkali pula saya membayangkan saya bergumulan habis-habisan di tempat tidur. Seperti cerita Ani atau Indah di kantor, yang setiap pagi selalu punya cerita menarik tentang apa yang mereka perbuat dengan suami mereka pada malamnya.

Tapi sesungguhnya itu hanyalah khayalan menjelang tidur yang menurut saya wajar-wajar saja. Dan saya juga tidak punya pikiran lebih dari itu. Dan mungkin pikiran seperti itu akan terus berjalan bila saja saya tidak bertemu dengan Karyo. Pria itu sehari-hari bekerja sebagai polisi. Usianya mungkin sudah 50 tahun. Gemuk, perut buncit dan hitam.

Begini ceritanya, saya bertemu dengan pria itu. Suatu malam sepulang makan malam di salah satu resto favorit kami, entah mengapa, mobil yang disopiri suami saya menabrak sebuah sepeda motor. Untung tidak terlalu parah betul. Pria yang membawa sepeda motor itu hanya mengalami lecet di siku tangannya. Namun, pria itu marah-marah.

“Anda tidak lihat jalan atau bagaimana. Masak menabrak motor saya. Mana surat-surat mobil Anda? Saya ini polisi!” bentak pria berkulit hitam itu pada suami saya.

Mungkin karena merasa bersalah atau takut dengan gertakan pria yang mengaku sebagai polisi itu, suami saya segera menyerahkan surat kendaraan dan SIM-nya. Kemudian dicapai kesepakatan, suami saya akan memperbaiki semua kerusakan motor itu esok harinya. Sementara motor itu dititipkan pada sebuah bengkel. Pria itu sepertinya masih marah. Ketika Rio menawari untuk mengantar ke rumahnya, ia menolak.

“Tidak usah. Saya pakai becak saja,” katanya.

Esoknya, Rio sengaja pulang kerja cepat. Setelah menjemput saya di kantor, kami pun pergi ke rumah pria gemuk itu. Rumah pria yang kemudian kami ketahui bernama Karyo itu, berada pada sebuah gang kecil yang tidak memungkinkan mobil Blazer suami saya masuk.

Terpaksalah kami berjalan dan menitipkan mobil di pinggir jalan. Rumah kontrakan Pak Karyo hanyalah rumah papan. Kecil. Di ruang tamu, kursinya sudah banyak terkelupas, sementara kertas dan koran berserakan di lantai yang tidak pakai karpet.

“Ya beginilah rumah saya. Saya sendiri tinggal di sini. Jadi, tidak ada yang membersihkan,” kata Karyo yang hanya pakai singlet dan kain sarung.

Setelah berbasa basi dan minta maaf, Rio mengatakan kalau sepedamotor Pak Karyo sudah diserahkan anak buahnya ke salah satu bengkel besar. Dan akan siap dalam dua atau tiga hari mendatang. Sepanjang Rio bercerita, Pak Karyo tampak cuek saja. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi yang ada di atas meja.

“Oh begitu ya. Tidak masalah,” katanya.

Saya tahu, beberapa kali ia melirikkan matanya ke saya yang duduk di sebelah kiri. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Memandang Pak Karyo, saya bergidik juga. Badannya besar meski ia juga tidak terlalu tinggi. Lengan tangannya tampak kokoh berisi. Sementara dadanya yang hitam membusung. Dari balik kaosnya yang sudah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya seperti besi yang bengkok-bengkok, kasar.

Karyo kemudian bercerita kalau ia sudah puluhan tahun bertugas dan tiga tahun lagi akan pensiun. Sudah hampir tujuh tahun bercerai dengan istrinya. Dua orang anaknya sudah berumah tangga, sedangkan yang bungsu sekolah di Bandung. Ia tidak bercerita mengapa pisah dengan istrinya.

Pertemuan kedua, di kantor polisi. Setelah beberapa hari sebelumnya saya habis ditodong saat berhenti di sebuah perempatan lampu merah, saya diminta datang ke kantor polisi. Saya kemudian diberi tahu anggota polisi kalau penodong saya itu sudah tertangkap, tetapi barang-barang berharga dan HP saya sudah tidak ada lagi. Sudah dijual si penodong.

Saat mau pulang, saya hampir bertabrakan dengan Pak Karyo di koridor kantor Polsek itu. Tiba-tiba saja ada orang di depan saya. Saya pun kaget dan berusaha mengelak. Karena buru-buru saya menginjak pinggiran jalan beton dan terpeleset. Pria yang kemudian saya ketahui Pak Karyo itu segera menyambar lengan saya.

Akibatnya, tubuh saya yang hampir jatuh, menjadi terpuruk dalam pagutan Pak Karyo. Saya merasa berada dalam dekapan tubuh yang kuat dan besar. Dada saya terasa lengket dengan dadanya. Sesaat saya merasakan getaran itu. Tapi tak lama.

“Makanya, jalannya itu hati-hati. Bisa-bisa jatuh masuk got itu,” katanya seraya melepaskan saya dari pelukannya. Saya hanya bisa tersenyum masam sambil bilang terimakasih.

Ketika Pak Karyo kemudian menawari minum di kantin, saya pun tidak punya alasan untuk menolaknya. Sambil minum ia banyak bercerita. Tentang motornya yang sudah baik, tentang istri yang minta cerai, tentang dirinya yang disebut orang-orang suka menanggu istri orang. Saya hanya diam mendengarkan ceritanya.

Mungkin karena seringkali diam bila bertemu dan ia pun makin punya keberanian, Pak Karyo itu kemudian malah sering datang ke rumah. Datang hanya untuk bercerita. Atau menanyai soal rumah kami yang tidak punya penjaga. Atau tentang hal lain yang semua itu, saya rasakan, hanya sekesar untuk bisa bertemu dengan berdekatan dengan saya. Tapi semua itu setahu suami saya lho. Bahkan, tidak jarang pula Rio terlibat permainan catur yang mengasyikkan dengan Pak Karyo bila ia datang pas ada Rio di rumah.

Ketika suatu kali, suami saya ke Jakarta karena ada urusan pekerjaan, Pak Karyo malah menawarkan diri untuk menjaga rumah. Rio, yang paling tidak selama sepakan di Jakarta, tentu saja gembira dengan tawaran itu. Dan saya pun merasa tidak punya alasan untuk menolak.

Meski sedikit kasar, tapi Pak Karyo itu suka sekali bercerita dan juga nanya-nanya. Dan karena kemudian sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri, saya pun tidak pula sungkan untuk berceritanya dengannya. Apalagi, keluarga saya tidak ada yang berada di Solo. Sekali waktu, saya keceplosan. Saya ceritakan soal desakan ibu mertua agar saya segera punya anak. Dan ini mendapat perhatian besar Pak Karyo. Ia antusias sekali. Matanya tampak berkilau.

“Oh ya. Ah, kalau yang itu mungkin saya bisa bantu,” katanya. Ia makin mendekat.
“Bagaimana caranya?” tanya saya bingung.
“Mudah-mudahan saya bisa bantu. Datanglah ke rumah. Saya beri obat dan sedikit diurut,” kata Pak Karyo pula.

Dengan pikiran lurus, setelah sebelumnya saya memberitahu Rio, saya pun pergi ke rumah Pak Karyo. Sore hari saya datang. Saat saya datang, ia juga masih pakai kain sarung dan singlet. Saya lihat matanya berkilat. Pak Karyo kemudian mengatakan bahwa pengobatan yang didapatkannya melalui kakeknya, dilakukan dengan pemijatan di bagian perut. Paling tidak tujuh kali pemijatan, katanya. Setelah itu baru diberi obat. Saya hanya diam.

“Sekarang saja kita mulai pengobatannya,” ujarnya seraya membawa saya masuk kamarnya. Kamarnya kecil dan pengap. Jendela kecil di samping ranjang tidak terbuka. Sementara ranjang kayu hanya beralaskan kasur yang sudah menipis.

Pak Karyo kemudian memberikan kain sarung. Ia menyuruh saya untuk membuka kulot biru tua yang saya pakai. Risih juga membuka pakaian di depan pria tua itu.

“Gantilah,” katanya ketika melihat saya masih bengong.

Inilah pertama kali saya ganti pakaian di dekat pria yang bukan suami saya. Di atas ranjang kayu itu saya disuruh berbaring.

“Maaf ya,” katanya ketika tangannya mulai menekan perut saya.

Terasa sekali jari-jari tangan yang kasar dan keras itu di perut saya. Ia menyibak bagian bawah baju. Jari tangannya menari-nari di seputar perut saya. Sesekali jari tangannya menyentuh pinggir lipatan paha saya. Saya melihat gerakannya dengan nafas tertahan. Saya berasa bersalah dengan Rio.

“Ini dilepas saja,” katanya sambil menarik CD saya. Oops! Saya kaget.
“Ya, mengganggu kalau tidak dilepas,” katanya pula.

Tanpa menunggu persetujuan saya, Par Karyo menggeser bagian atasnya. Saya merasakan bulu-bulu vagina saya tersentuh tangannya. CD saya pun merosot. Meski ingin menolak, tapi suara saya tidak keluar. Tangan saya pun terasa berat untuk menahan tangannya.

Tanpa bicara, Pak Karyo kembali melanjutkan pijatannya. Jari tangan yang kasar kembali bergerilya di bagian perut. Kedua paha saya yang masih rapat dipisahkannya. Tangannya kemudian memijati pinggiran daerah sensitif saya. Tangan itu bolak balik di sana. Sesekali tangan kasar itu menyentuh daerah klitoris saya. Saya rasa ada getaran yang menghentak-hentak. Dari mulut saya yang tertutup, terdengar hembusan nafas yang berat, Pak Karyo makin bersemangat.

“Ada yang tidak beres di bagian peranakan kamu,” katanya.

Satu tangannya berada di perut, sementara yang lainnya mengusap gundukan yang ditumbuhi sedikit bulu. Tangannya berputar-putar di selangkang saya itu. Saya merasakan ada kenikmatan di sana. Saya merasakan bibir vagina saya pun sudah basah. Kepala saya miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang tidak tertahankan.

Tangan kanan Pak Karyo makin berani. Jari-jari mulai memasuki pinggir liang vagina saya. Ia mengocok-ngocok. Kaki saya menerjang menahan gairah yang melanda. Tangan saya yang mencoba menahan tangannya malah dibawanya untuk meremas payudara saya. Meski tidak membuka BH, namun remasan tangannya mampu membuat panyudara saya mengeras.

Uh, saya tidak tahu kalau kain sarung yang saya pakai sudah merosot hingga ujung kaki. CD juga sudah tanggal. Yang saya tahu hanyalah lidah Pak Karyo sudah menjilati selangkang saya yang sudah membanjir. Terdengar suara kecipak becek yang diselingi nafas memburu Pak Karyo.

Ini permainan yang baru yang pertama kali saya rasaran. Rio, suami saya, bahkan tidak pernah menyentuh daerah pribadiku dengan mulutnya. Tapi, jilatan Pak Karyo benar-benar membuat dada saya turun naik. Kaki saya yang menerjang kemudian digumulnya dengan kuat, lalu dibawanya ke atas. Sementara kepalanya masih terbenam di selangkangan saya.

Benar-benar sensasi yang sangat mengasyikan. Dan saya pun tidak sadar kalau kemudian, tubuh saya mengeras, mengejang, lalu ada yang panas mengalir di vagina saya. Aduh, saya orgasme! Tubuh saya melemas, tulang-tulang ini terasa terlepas.

Saya lihat Pak Karyo menjilati rembesan yang mengalir dari vagina. Lalu ditelannya. Bibirnya belepotan air kenikmatan itu. Singletnya pun basah oleh keringat. Saya memejamkan mata, sambil meredakan nafas. Sungguh, permainan yang belum pernah saya alami. Pak Karyo naik ke atas ranjang.

“Kita lanjutkan,” katanya.

Saya disuruhnya telungkup. Tangannya kembali merabai punggung saya. Mulai dari pundah. Lalu terus ke bagian pinggang. Dan ketika tangan itu berada di atas pantat saya, Pak Karyo mulai melenguh. Jari tangannya turun naik di antara anus dan vagina. Berjalan dengan lambat. Ketika pas di lubang anus, jarinya berhenti dengan sedikit menekan. Wow, sangat mengasyikan. Tulang-tulang terasa mengejang. Terus terang, saya menikmatinya dengan mata terpejam.

Bila kemudian, terasa benda bulat hangat yang menusuk-nusuk di antara lipatan pantat, saya hanya bisa melenguh. Itu yang saya tunggu-tunggu. Saya rasakan benda itu sangat keras. Benar. Saat saya berbalik, saya lihat kontol Pak Karyo itu. Besar dan hitam. Tampak jelas urat-uratnya. Bulunya pun menghitam lebat.

Mulut saya sampai ternganga ketika ujung kontol Pak Karyo mulai menyentuh bibir vagina saya. Perlahan ujungnya masuk. Terasa sempit di vagina saya. Pak Karyo pun menekan dengan perlahan. Ia mengoyangnya. Bibir vagina saya seperti ikut bergoyang keluar masuk mengikuti goyangan kontol Pak Karyo yang tahan lama.

Hampir sepuluh menit Pak Karyo yang tahan lama asik dengan goyangannya. Saya pun meladeni dengan goyangan. Tubuh kami yang sudah sama-sama telanjang, basah dengan keringat. Tahan lama juga stamina Pak Karyo. Belum tampak tanda-tanda itunya akan ‘menembak’.

Padahal, saya sudah kembali merasakan ujung vagina saya memanas. Tubuh saya mengejang. Dengan sedikit sentakan, maka muncratlah. Berkali-kali. Orgasme yang kedua ini benar-benar terasa memabukkan. Liang vagina saya makin membanjir. Tubuh saya kehilangan tenaga. Saya terkapar.

Saya hanya bisa diam saja ketika Pak Karyo yang tahan lama masih menggoyang. Beberapa saat kemudian, baru itu sampai pada puncaknya. Ia menghentak dengan kuat. Kakinya menegang. Dengan makin menekan, ia pun memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina saya. Saya tidak kuasa menolaknya. Tubuh besar hitam itu pun ambruk diatas tubuh saya. Luar biasa tahan lama permainan polisi yang hampir pensiun itu. Apalagi dibandingkan dengan permainan Rio yang kurang tahan lama.

Sejak saat itu, saya pun ketagihan dengan permainan Pak Karyo yang tahan lama. Kami masih sering melakukannya. Kalau tidak di rumahnya, kami juga nginap di hotel. Meski, kemudian Pak Karyo juga sering minta duit, saya tidak merasa membeli kepuasan syahwat kepadanya. Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Rio.

Dan saya yakin Rio juga tidak tahu samasekali. Saya merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, saya juga butuh belaian keras Pak Karyo yang tahan lama itu. Entah sampai kapan.