Kamis, 16 Februari 2017

Birahi Muda Mudi



Nama aku Herman, aku berusia 23 tahun dan saat ini aku kuliah dan bekerja. Cerita ini bermula pada saat aku jalan-jalan dgn kawan-kawan aku di suatu kawasan di Jakarta yg memang sudah cukup terkenal di kalangan anak muda.

Saat aku sedang melintas di jalan Sudirman aku melihat seorang perempuan dan aku menghentikan kendaraan aku lalu kita pun berkenalan.
Perempuan tersebut bernama Nia dan dia masih berumur 19 tahun dgn tinggi kurang lebih sekitar 175 dan dgn ukuran bra sekitar 36 C akhirnya aku menawarkan dia untuk mengantar pulang dan dia pun setuju, maka akhirnya kita jalan pulang tanpa ada apa-apa.
Kesokan harinya pada pukul 10.00 Nia menghubungi aku via HP aku

“Hallo, Herman ya?”
“Siapa nih?”, tanya aku
“Nia, masa lupa yg semalam kenalan..”
“Oh, iya.. lagi dimana nih.”
“Lagi di Blok M, kamuh ada acara nggak hari ini?”
“Ehmm, nggak ada tuh kenapa?”, jawab aku
“Bisa jemput?”
“Ya udah dimana?”
“Di McDonald Blok M aja ya jam 11.00”
“Ok”

Singkat cerita langsung aku meluncur ke arah Blok M Sesampainya disana kita ngobrol sejenak lalu kita memutuskan untuk pergi.

“Mau kemana nih?” tanya aku
“Terserah kamuh aja..”
“Main kerumahku sebentar yuk mau nggak?”
“Ok”, jawabnya dgn santai.
“Ga takut?”, tanya aku
“Takut apa?”
“Kalo diperkosa gimana?” Tapi dia dgn santainya menjawab,
“Ga usah diperkosa juga mau kok.. he.. he..” sambil melirik kearahku dan mencubit manja pinggangku. Kemudian aku bertanya,
“Bener nih?” Dia menjawab,
“Siapa takut?”

Lalu segera kita meluncur ke arah rumahku di bilangan Tebet yg memang sehari-harinya selalu kosong. Begitu sampai aku lalu mempersilahkan Nia untuk masuk lalu kita duduk bersebelahan dan aku menggoda dia.
“Bener nih nggak takut diperkosa?”
Dia malah menjawab, “Mau perkosa aku sekarang?” ujarnya sambil membusungkan dadanya yg montok itu.

Aku tak tahu siapa yg memulai tiba-tiba bibir kita sudah saling bertemu dan saling melumat, dan memainkan lidah nya di mulutku. Tangan kirinya melepas bajuku dan aku tak mau ketinggalan, aku ikut membuka kaos ketatnya itu dan melepas BH nya.

Ciumanku menjalar menyusuri leher dan belakang kupingnya.
“Ahh.. esst.. terus yg..”, Nia udah mulai meracau tak jelas saat lidah aku turun ke dadanya diantara kedua bukitnya.
Lidah aku terus menjalar di buah dadanya namun tak sampai pada pentilnya.
Nia mendesah-desah, “Man isep Man ayo Man gue pingin elo isep Man..”
Namun aku tak memperdulikannya dan masih be……rmain di sekitar pentilnya dan turun ke perut sambil perlaha-lahan tanganku membuka celananya dan masih tersisa celana dalamnya. Akhirnya kepalaku ditarik Nia dan ditempelkannya buah dadanya ke mulutku.
“Ayo Man isep Man jangan siksa gue Man..”
Akhirnya mulutku menghisap buah dada sebelah kirinya sedangkan tangan kanan ku meremas-remas buah dada sebelah kanannya.
“Ohh.. aah.. esst.. enak Man terus sedot yg keras Man gigit Man ohh..”, racaunya.

Sambil kusedot buah dadanya bergantian kiri dan kanan tanganku bergerilya di bagian pangkal pahanya sambil menggosok- gosok klitorsnya dari bagian luar celana dalamnya.
Nia pun tak sabar, akhirnya dia membuka celanaku termasuk celana dalamku sehingga mencuatlah ‘kemaluanku’ yg sudah berdiri tegak itu dan Nia terpana.
“Gila gede banget Man punya elo..”
Dan tanpa dikomando langsung Nia memasukan kontolku ke dalam mulutnya yg mungil, terasa penuh sekali mulut itu, Nia menjilat-jilat ujung kemaluanku terus turun ke bawah sampai selurh batangnya terjilat olehnya.
“Ah.. enak Ni terus Ni” aku pun menahan nikmat yg luar biasa.
Akhirnya aku berinisiatif dan memutar badanku sehingga posisi kita menjadi 69. Sesaat aku menjilati bagian bibir kemaluannya Nia mendesah.
“Ah.. enak Man esst.. terus Man..”
Akhirnya Nia menggelinjang hebat ketika lidahku menyentuh bagian klitorisnya.

“Ahh.. Man aku sampai Man..” sambil mulutnya terus mengelum kemaluanku sedotan Niapun semakin cepat dan kuat pada kemaluanku maka aku merasakkan denyut-denyut pada kemaluanku.
“Ni, gue juga mau sampai Ni ahh..”
“Barengan ya..”
Mendengar itu Nia makin bernafsu menyedot-nyedot dan menjilati kemaluanku dan akhirnya..
“Acchh.. ach..”, crot.. crot.. crott.., 8 kali kemaluanku menyemprotkan sperma dalam mulut Nia dan dia menelan semuanya sehingga kitapun keluar secara bersamaan.
Akhirnya Niapun menggelimpang disampingku setelah menjilati seluruh kemaluanku hingga bersih.
“Makasih ya Man aku dah lama nggak orgasme sejak suami gue kabur..”, kata Nia
“Emang suami kamuh kemana?”
“Ga tau tiba-tiba dia ngilang setelah gue ngelahirin anak gue”
“Lho kamuh dah punya anak?”
“Udah umur setahun, Man”


Kemudian Nia memeluk aku dgn eratnya. Lalu dia mendongakkan kepalanya ke arah aku, lalu aku cium bibirnya lembut dia pun membalasnya tapi lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Kemudian Nia memegang kemaluan aku yg masih terbuka dan meremas-remasnya sehingga secara otomatis ‘adikku’ langsung berdiri dan mengeras. Kemudian Nia menaiki badan aku lal……u menjilati habis seluruh badan aku mulai dari mulut hingga ujung kaki.
“Ach..” desahku sejalan dgn jilatan di badanku.
Kemudian Nia mengulum kemaluanku terlihat jelas dari atas bagaimana kemaluanku keluar masuk mulutnya yg mungil itu.
“Ah. sst.. enak Sayg terus sedot Sayg achh..” desahanku semakin mengeras.
Lalu kuputar badanku sehingga posisi 69 dgn Nia diatas badanku lalu aku menjilati kemaluan Nia dan kuisep klitoris Nia.
“Ahh.. enak Man terus Sayg, aku Sayg kamuh achh..” desah Nia meninggi.

Kemudian Nia memutar badannya kembali dan dia memegang ‘adikku’ yg sudah siap tempur itu, dipaskannya ke liang kemaluan setelah pas perlahan-lahan diturunkannya pantat Nia. Sehingga perlahan-lahan masuklah kemaluan aku ke liang senggama Nia
“Auw.. sst.. ohh.. geede banget sih punya kamuh yg” lirih Nia.
“Punya kamuh juga sempit banget Yg, enak.. ah..” kataku.
Perlahan-lahan aku tekan terus kemaluanku ke dalam kemaluannya yg sempit itu. Akhirnya setelah amblas semuanya Nia mulai mengerakan pinggulnya naik turun sehingga membuat kemaluan aku seperti disedot-sedot. Nia berada diatasku sekitar 15 menit sebelum akhirnya dia mengerang.
“Ahh.. Sayg aku keluar Yg, ahh..” racaunya.
Setelah itu badan dia melemas dan memeluk aku namun karena aku sendiri juga mengejar puncak ku maka langsung kubalik badannya tanpa melepas kemaluanku yg ada di dalam kemaluannya. Setelah aku berada diatasnya maka langsung kugenjot Nia dari atas terus menerus hampir kurang lebih 20 menit hingga akhirnya Nia mengalami orgasme yg ketiga kali dalam waktu yg singkat ini.
“Ahh.. Sayg aku keluar lagi Sayg ahh..” Desah Nia.
“Kamuh lama banget sih Sayg” desah Nia sambil terus menggoygkan pinggulnya memutar.
“Ahh terus Sayg sstt enak Sayg terus..” racaunya.
“Iya aku juga enak Sayg terus Sayg ahh.. enak Sayg mentok banget ah..” racauku tak kalah hebatnya.
Akhirnya setelah aku menggenjot Nia selama kurang lebih 40 menit aku merasakan seperti ada yg mendesak ingin keluar dari bagian kemaluanku.


“Sayg, aku mau keluar Sayg”
“Mau di dalam atau diluar Sayg?” kataku.
“Bentar Sayg aku juga mau keluar lagi nih ahh..” desah Nia.
“Di dalem aja Sayg biar aku tambah puas” desah Nia lagi.
“Ahh.. sst.. Sayg aku keluar Sayg ahh..” racauku
“Barengan Sayg aku juga sampai ah.. ahh.. oh..” desah Nia.
“Ahh.. Sayg aku keluar Sayg ahh.. sst.. ohh..” desahku.
“Aahh” menyemprotlah spermaku sebanyak 9 kali.
“Emmhh..” saat itu juga si Nia mengalami orgasme….”Makasih ya Sayg” kata Nia sambil mencium bibirku mesra.

Setelah itu kita langsung membersihkan diri di kamar mandi dan didalam kamar mandi pun kita sempat ‘main’ lagi ketika kita saling membersihkan punya pasangan kita masing-masing tiba-tiba Nia jongkok dan mengulum punyaku kembali dan au dalam posisi berdidi mencoba menahan nikmatnya. Namun aku tak tahan menahan gejolak yg ada maka aku duduk di ws dan Nia duduk di atasku dgn posisi menghadapku dan dia memasukkan kembali kemaluannya kedalam kemaluannya.

“Bless.. ahh.. sst.. enak Sayg ahh..” racaunya mulai menikmati permainan.
Namun setelah 15 menit aku merasa bosan dgn posisi seperti itu maka aku suruh memutar badannya membelakangi aku dan aku angkat perlahan tanpa melepas kemaluanku dan aku suruh Nia menungging dgn berpegangan pada tepian bak mandi dan ketika dia menungging langsung aku genjot maju mundur sambil meremas-remas buah dadanya yg mengayun-ayun.

“Ah.. Man aku mau keluar Man..” desahnya.
“Man aah..”, terasa cairan orgasme Nia kembali membasahi kemaluanku.
Karena kondisi Nia yan lemas maka aku memutuskan untuk melepaskan kemaluanku dan Nia melanjutkannya dgn mengulum kemaluanku hingga akhirnya..
“Ni aku mau keluar Sayg.. ah..”, Sambil kutekan dalam-dalam kepalanya ke arah kemaluanku sehingga terlihat kemaluanku amblas semua ke mulutnya yg mungil itu.

Dan ketika Nia menyedot kemaluanku maka.. “Ah.. Ni..” akhirnya aku semprotkan seluruh spermaku ke mulut Nia dan aku lihat Nia menelan semua spermaku tanpa ada yg tumpah dari mulutnya bahkan dia membersihkan kemaluanku dgn menjilati sisa-sisa seluruh sperma yg ada.
Setelah itu kita saling membersihkan badan kita masing-masing dan kita kembali ke kamar dgn badan yg sama-sama telanjang bulat dan kita tiduran sambil berpelukan tanpa sehelai benang pun yg menutupi badan kita dan kita saling mencium dan meraba serta ngobrol-ngobrol sejenak.

Tanpa terasa kita sudah berada di rumahku hampir selama 4 jam. Maka akhirnya kita mengenakan baju kita masing-masing dan setelah itu aku mengantarkan Nia pulang ke kostannya di daerah Blok M dan berjanji untuk saling menghubungi. Hingga saat ini diturunkan kita masih sering melakukan hubungan intim.


Selasa, 14 Februari 2017

Skandal Dokter Dan Suster



Aqu, Wawan, adalah seorang dokter yg beberapa tahun yg lalu pernah bekerja di puskesmas kecil disuatu kecamatan di Jawa beberapa kilometer dari kota S. Ketika bekerja menjadi dokter puskesmas
itu lah aqu terlibat perselingkuhan dgn suster anak buahku sendiri di puskesmas itu. Saat itu aqu
masih muda (sekitar 27 tahun), kata orang parasku cakep dan macho, sedang susterku itu hitam
cantik terpaut sekitar 5 tahun lebih muda dariku. Aqu sendiri saat itu sudah berkeluarga beranak satu
berumur 2 tahun, demikian pula susterku yg bernama Ningsih sudah bersuami namun belom punya
momongan.


Pada saat pertama kali datang melihat puskesmas tempat aqu akan bertugas selama 5 tahun yg
terletak di suatu kecamatan yg lumayan jauh dari kota kabupaten, aqu datang sendirian. Di sana aqu
ditemui oleh seorang suster wanita yg sudah bekerja di sana selama tiga tahun semenjak puskesmas
itu selesai dibangun.

“Ningsih”, begitu dia memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya. Dalem hatiku, “Aduh,
cantik betul suster ini”.
Sambil bertanya tentang berbagai hal, yg menygkut kunjungan pasien, tentang pelaksanaan program
kesehatan yg selama ini dikerjakan olehnya (selama ini puskesmas dipimpin olehnya yg merupakan
satu-satunya suster dgn dibantu oleh 2 orang petugas lain), tentang keadaan masyarakat sekitar
puskesmas, dll, aqu tak puas-puasnya memandangi parasnya yg cantik itu. Sebaliknya, si cantik ini
juga sering dgn berani menatapku balik sambil senyum agak menantang. Pikirku, “Gawat juga anak
ini”, kelihatannya dia sangat tertarik secara seksual padaqu.

Dia cerita kalau sudah menikah selama 2 tahun dan belom berhasil hamil juga. Aqu bilang dgn sedikit
menggoda: “Wah, jangan-jangan suamimu kurang hebat caranya. Kapan-kapan saya ajari ya”.
“Ya dok, tapi jangan suami saya saja yg diajari, saya juga dong”, ujarnya.
Beberapa minggu kemudian, aqu benar-benar sudah bertugas di puskesmas ini. Aqu tinggal di rumah
tugas di samping kantor yg masih satu kompleks dgn puskesmas, demikian pula Ningsih tinggal di
rumah tugas pada kompleks yg sama namun di sisi lainnya. Istriku dari pagi sampai menjelang sore
pergi ke kota S untuk bekerja. Jadi sesiangan rumahku nyaris kosong.

Pada hari pertama, aqu mengajak Ningsih berboncengan memakai motor ke desa-desa tempat
wilayah kerjaqu untuk orientasi dan berkenalan dgn beberapa kepala desa yg kebetulan dilewati.
Perjalanan melalui jalan yg sebagian besar masih berupa tanah yg dikeraskan, dan di beberapa
tempat berupa batu “makadam” yg bergelombang. Tangan Ningsih yg kubonceng di belakangku
berkali-kali memegang paha atau pinggangku karena taqut terjatuh. Aqu senang bukan main sambil
berdebar. Berkali-kali pula payudaranya yg tidak terlalu besar namun kenyal itu menyenggol di
punggungku. Rupanya dia juga tak sungkan-sungkan untuk menempelkannya. Melihat sikapnya yg
seperti itu, aqu meramal bahwa Ningsih suatu saat pasti bisa kuajak bergelut bugil di tempat tidur.

Badan Ningsih cukupan, tingginya sekitar 160 cm, badannya langsing, kakinya mempunyai rambut-
rambut yg cukup merangsang laki laki, walau pun kulitnya sedikit gelap. Parasnya cantik mirip Tony
Braxton, si penyanyi negro itu. Payudara tidak besar, yah kira-kira setangkupan telapak tanganku.
Itu pun kukira-kira saja, karena di saat tugas badannya di balut seragam tugas Pemda. Rambutnya
sebahu. Yg jelas, parasnya cantik, seksi dan senyumnya menggoda.

Dalem perjalanan berboncengan Ningsih menceritakan perjalanan hidupnya sejak lulus sekolah dan
langsung ditempatkan di puskesmas ini. Di sini mula-mula dia tinggal bersama adik perempuannya
yg sekolahnya dibiayainya. Dia sempat berpacaran dgn seorang pemuda yg tinggal di depan rumah
tugasnya, namun akhirnya justru tetangga lainnya yg memintanya untuk dijadikan menantu.
Akhirnya permintaan belakangan itulah yg dipenuhinya sehingga Ningsih dinikahi oleh seorang
pemuda putra seorang tokoh masyarakat desa (tetangga dekat tadi) dan cukup berada, tanpa
melalui proses pacaran.

Ningsih rupanya selama itu menjadi “bunga” di desa tempat puskesmas berada. Dia menjadi inceran
banyak pemuda desa situ, juga orangtua-orangtua yg menginginkannya menjadi menantunya.

Tanpa sengaja, ketika Ningsih sedang asyik bercerita, motor saya melawati lubang yg cukup
membuat motor bergoyg keras, dan bibir Ningsih sempat menempel di leherku bagian belakang (aqu
sedikit geli, namun tentu senang dong) dan krah bajuku terkena warna merah lipstiknya. Dia segera
membersihkan krah tersebut, kawatir dicurigai istriku macam-macam. Tapi aqu tenang saja, bahkan
aqu bilang: “Nggak apa-apa koq, ditempeli sekali lagi juga nggak apa-apa, apalagi kalau nggak cuma
di krah baju”. “Ih, pak Wawan macam-macam …, nanti dimarahi ibu lho.”, katanya agak genit.

Beberapa minggu kemudian nggak ada kejadian istimewa, sampai suatu hari Ningsih sakit diare dan
nggak bisa masuk kantor. Pembantunya menyusul ke puskesmas, dititipi pesan agar kalau saya sudah
tidak terlalu sibuk bisa menengok dirinya, mungkin bisa memberi advis mengenai pengobatannya.

Sesudah pasien sepi dan tak ada pekerjaan kantor yg berarti, aqu menjenguknya ke rumahnya, dan
diminta masuk kamar tidurnya. Saat itu suaminya nggak ada di rumah, karena sehari-hari suaminya
bekerja di suatu pabrik di kecamatan sebelah. Aqu melihat dia berbaring di ranjang, walau pun
sedang sakit, namun kulihat paras dan badannya justru makin merangsang dibalut baju tidur yg
cukup seksi.

Kawatir aqu nggak bisa menahan diri di kamarnya, aqu segera minta padanya, kalau masih bisa jalan
(aqu lihat sakitnya biasa saja), untuk pergi ke rumahku sesudah jam kantor minta diantar pembantu.
Toh, jaraknya cukup dekat. Sementara itu dia kuberi obat seperlunya.

Sepulang kantor, Ningsih datang ke rumah diantar pembantu, kemudian pembantunya disuruhnya
pulang duluan, sehingga aqu dan dia tinggal sendirian di rumahku. Pembantuku (suami-istri) kalau
siang seusai bekerja pulang ke rumahnya dan petangnya kembali lagi, karena mereka adalah
penduduk desa setempat.

Ningsih kusuruh masuk ke kamar periksa, kemudian kuminta berbaring di tempat tidur periksa. Aqu
memasang stetoskop, dan kuminta dia untuk membuka sebagian kancing atasnya (Ningsih memakai
pakaian rok dan kemeja blues yg dikeluarkan). Aqu mula-mula serius memeriksa dadanya dgn
stetoskop, namun begitu melihat sembulan buahdadanya yg nggak besar di balik BREAST HOULDERnya, aqu tiba-
tiba berdebar dan bergetar. Aqu nggak pernah bergetar bila memeriksa pasien wanita lain, namun
menghadapi Ningsih koq lain.

Dgn spontan tanpa meminta ijin dari empunya, buahdadanya kuraba halus dari luar dan kuelus-elus.
Ningsih tak membuat gerakan penolakan, matanya justru terpejam sekan menikmati. Seluruh
kancing bluesnya langsung kucopoti, sehingga BREAST HOULDER Ningsih itu terlihat bebas menantang.

Bibirnya kukulum dgn cepat, sambil tanganku masih mengelus-elus buahdadanya dari luar BREAST HOULDER nya yg
belom kulepas. Seperti yg sudah kuduga, kuluman bibirku disambutnya dgn ciumannya yg lembut
tapi hebat. Lidahku kujulurkan dalem-dalem ke langit-langit mulutnya, sebaliknya lidahnya segera
membalas dgn memilin lidahku. Aqu melihat Ningsih terengah-engah menahan emosinya, sambil
mengerang: “Ssssh, pak Wawan, pak, ah … argghhh … ssshhh”.

Tanpa menunggu lama, sambil Ningsih masih tetap terbaring dan mulutnya masih kubungkam dgn
bibirku, cup BREAST HOULDER nya kuangkat ke atas tanpa kucopot kancingnya terlebih dulu.
Susunya langsung tersembul keluar dgn indahnya. Benar dugaanku susunya tak besar, namun bagus
dan kencang dgn puting susu kemerahan yg tak terlalu menonjol. Itulah susu Ningsih yg sudah
kubaygkan beberapa lama dan ingin kukulum. Itulah sepasang payudara Ningsih yg masih kenyal
belom sempat mengeluarkan ASI karena belom sempat hamil.

Tangan kananku segera meraba-raba pentilnya bergantian kanan dan kiri dgn gerakan memutar yg
halus. Ningsih makin menggigil dan tambah mengerang: “Paaak, Ningsih malu paak … ssshhh
aargghhh … ssshh …”. Aqu terus menjilati bibir dan parasnya sambil berdiri, dan tanganku memijat-
mijat susunya yg ranum. Tangan Ningsih merangkul leherku, matanya berkejap-kejap, sambil
mulutnya terus mendesah di tengah-tengah kuluman lidahku.

Sesudah puas menjilati paras dan bibirnya, mulutku beralih ke leher dan belakang telinganya. Dia
makin menggelinjang sambil setengah menegakkan kepalanya. Aqu masih terus berdiri, stetoskopku
sudah kulempar jauh-jauh. Segera kemudian, mulutku sudah berada di puting susu kirinya. Aqu jilat
sepuasnya. Dada Ningsih menggeliat dan sekali-kali membusung, sehingga susunya makin terlihat
indah dan menggairahkan. Desisan Ningsih makin menghebat, “Aaarggghhh, paaaak, aqu nggak
tahan paaak …”. Tanganku pelan-pelan menelusuri pahanya yg mulus walau pun berkulit agak sedikit
gelap. Tapi warna kulit seperti ini justru sangat merangsang diriku. kemaluan di balik celanaqu sudah
menegang sejak tadi ketika aqu mulai pertama kali melihat BREAST HOULDER nya. Aqu mulai
menelusuri pahanya pelan-pelan ke atas menuju selangkangannya di balik rok yg masih dipakainya,
sambil aqu masih terus menggelomohi kedua puting susunya. Kulirik paras cantik susterku ini. Ah,
betapa makin merangsangnya tampakan parasnya, yg sambil sedikit merem-melek matanya
menahan nafsu birahi, mulutnya mendesis mengerang terus menerus walau pun tidak dgn suara yg
keras, “Aaarghh, paakk, aqu … aqu nggak tahan lagi paak.”

Namun, begitu tanganku sampai di pinggir celana dalemnya, tiba-tiba dia tersadar dan langsung
bilang, “Ah, pak, jangan sekarang pak ..”. Aqu agak kaget, “Mengapa Sih? Aqu sudah nggak tahan Sih,
kepingin menelanjangi kamu.” Ningsih menjawab: “Kapan-kapan pak untuk yg itu.”.
Aqu tak berani nekat meneruskan, tapi paras, bibir, dan susunya masih terus kujilati bergantian.

Aqu berciuman seperti itu sambil pakaianku masih lengkap dan masih tetap berdiri, sedang Ningsih
sudah setengah bugil sambil tetap tergolek di ruang periksa, kurang lebih setengah jam. Akhirnya,
karena aqu kawatir kalau istriku datang dari kantor, maka perbuatan kita yg sudah kerasukan nafsu
birahi yg menggelegak itu kuhentikan, dan Ningsih kusuruh berpakaian kembali dan kuminta segera
pulang. Aqu sempat berciuman sekali lagi. Mesra, seperti sepasang kekasih yg baru dilanda asmara.
Beberapa hari kemudian, sesudah kantor tutup, Ningsih yg sudah sembuh dari diarenya, kuminta
datang ke rumah. Dia datang masih memakai seragam tugas. Demikian pula aqu.

Kusuruh dia duduk di sampingku di sofa ruang tamu. Ruang tamuku tetap kubiarkan terbuka
pintunya, toh aqu tetap bisa mengontrol situasi luar rumah dari kaca besar berkorden dari dalem.
Orang luar tak bisa melihat ke dalem, karena pencahayaan dari luar jauh lebih terang.
Melihat situasi luar yg cukup aman, dan saat itu di rumah tugasku hanya ada aqu dan Ningsih, maka
kuberanikan mencoba melanjutkan apa yg sudah kumulai beberapa hari sebelomnya.

Ningsih yg berada di samping kananku langsung kupeluk mesra, kuelus rambutnya dan kucium
bibirnya dgn rasa sayg. Namun tanpa kuduga, dgn ganas (Ningsih sepintas kuperkirakan adalah
wanita yg hiperseks, dan di kemudian hari dia memang mengaquinya kalau dia nggak pernah puas
ketika berhubungan seksual dgn suaminya, walau pun menurut ukurannya suaminya mempunyai
kemampuan seksual yg sangat hebat), dia menyambut ciumanku dgn jilatan-jilatan lidahnya yg
memilin-milin lidahku. Tangannya dgn berani meraba selangkanganku yg tertutup celana tugas dan
meraba kemaluanku yg sudah menegang ketika mulai berciuman tadi. Kemaluanku dikocoknya dari
luar dgn trampil dan membuatku keenakan (jujur saja, istriku tidak bisa seperti itu).

Secara cepat dan trengginas, karena nafsu yg sudah berkobar-kobar, aqu pun langsung membuka
kancing seragam atasnya, dan dgn lahap kukeluarkan seluruh payudaranya yg ranum dari cup
BREAST HOULDER tanpa membuka kancing yg terletak di belakangnya. Susunya langsung kuremas
dgn lembut, pentilnya yg imut kupilin-pilin sampai menegang, dan aqu terus menciumi bibir dan
kadang menciumi paras dan belakang telinganya. Ningsih meregang, dan kali ini dia memanggilku
tidak lagi pak atau dok, namun sudah berubah menjadi `papa?, “Ehmmpph, sshh … paaaaaah, aqu
sayg kamu paaah, Ningsih sayg papaaah … aaarghh ….”.

Aqu pun berganti menjawab sekenanya dan seberaninya, “Aqu juga sayg Ningsih, bener aqu sayg
kamu, hari ini aqu ingin memasukkan kemaluanku ke badanmu, sayg, boleh?”
Ningsih langsung menjawab, “Boleh yaaaang, boleh … arrghhh … sshhshh … cepatan ya yaaaang …
aaaargrhhh ….”.

Mendengar jawaban itu, tanpa ragu, aqu segera memasukkan jari kedua tanganku ke
selangkangannya yg masih tertutup seragam tugas, dan dgn bernafsu kucari celana dalemnya, dan
begitu ketemu, tanpa ba-bi-bu lagi langsung kupelorot dan kusimpan di saqu celanaqu. Demikian
pula Ningsih, dgn terengah-engah, langsung dia membuka resleting celanaqu dgn sebelomnya
melepaskan ikat pinggangku yg kemudian dia lempar jauh-jauh, dan tangannya dgn cepat
menyergap kemaluanku yg berukuran panjang 14 cm dgn diameter yg cukup besar. Aqu ikut
memelorotkan celanaqu walau pun nggak sampai kulepas sama sekali. Tangannya dgn cekatan
mengelus kemaluanku, mengocoknya, sembari badannya menggelinjang karena jariku sudah
mengelus kemaluan kemaluannya yg basah. Sebagian jariku pelan-pelan kumasukkan ke dalem lubang
kemaluannya, dan kugeser-geser melingkari lubang sempit itu. Jempolku mencari kelentitnya, begitu
ketemu kuelus dgn permukaan dalem jempol.

“Ah, paaah, aqu nggak tahan paaah … aggghhh, ….. paaaah …..eeennaaak paaah …”, dia mengerang
setengah berteriak, namun mulutnya segera kubungkam dgn mulutku, kukulum agar suaranya tidak
terdengar oleh orang-orang yg mungkin ada di luar, kemudian kujilati bibir dan seluruh permukaan
parasnya sampai basah terkena ludahku.
Sambil setengah bergumul, mataqu selalu waspada melihat keadaan luar rumah melalui kaca
berkorden untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada orang yg mau masuk ke rumah. Karena situasi yg tidak
terlalu aman itu, aqu tidak berani melaqukan adegan birahi kita ini dgn berbugil total..

Tanpa menunggu lama lagi, karena darah birahi yg sudah sampai ke ubun-ubun, badan Ningsih
kutarik ke depan badanku, sambil dia tetap duduk menghadap ke depan membelakangiku, dan aqu
bersandar setengah duduk di sofa, dgn perlahan tapi pasti, rok bawahannya kusingkap dan
kuangkat, bokongnya kupegang, selangkangannya yg sudah tak bercelana dalem kurenggangkan
lebar-lebar, pahaqu kurapatkan dgn kemaluan yg mengacung ke atas, kemudian tangan kiriku
memegang kemaluan dan kubimbing masukkan ke kemaluan (memek)-nya. Ningsih ikut membantu
memegang kemaluanku dgn tangan kanannya, dan perlahan-lahan bokongnya diturunkan ke bawah.
Kemaluannya terasa sempit juga (mungkin karena belom pernah melahirkan bayi), namun berkat
bantuan lendir kemaluannya yg sudah banyak, tanpa kesulitan yg cukup berarti kemaluanku
akhirnya berhasil masuk juga ke sebagian kemaluan depannya. Ningsih sambil menghadap ke depan
terus mengerang, bokongnya mulai bergoyg-goyg, dinaik turunkan, agar kemaluanku bisa lebih
masuk ke dalem.

“Aduuuh paaaaah, enaaak paaaah …. Ssshhh … arggh , aaduuuh paaah …”, erangnya. Aqu juga mulai
mendesis merasakan enaknya kemaluan susterku yg sangat cantik dan hot ini, sambil benakku
berseliweran membaygkan keberanianku menyebadani istri orang. Ah, persetan, salahnya punya
istri cantik disia-siakan, sehingga masih mencari memek atasannya. Betul-betul kemaluan yg nikmat,
nggak salah aqu ditempatkan di puskesmas ini, aqu bisa menikmati sepuasnya kemaluan Ningsih yg
sedap. Kepunyaan istriku sendiri tidak senikmat ini.
“Narsiiih, kamu memang enaak, Ningsih …” begitu desisku.

Sambil aqu juga ikut menggerakkan bokongku naik turun seirama dgn naik turunnya bokong Ningsih,
aqu mengocok kelentit Ningsih yg ada di depan dgn tangan kananku. Tangan kiriku terus meraba
habis susunya yg terasa kenyal di depan. Ningsih makin menggelinjang seperti cacing kepanasan,
karena kocokan jariku pada kelentitnya yg makin menonjol. Bokongnya makin dia goygkan selain
naik turun juga ke kanan kiri. Rasanya bukan main enak, tak terkirakan. Beginilah rupanya rasa
kemaluan Ningsihku, Ningsihku yg bisa menggantikan tugas istriku di siang hari, Ningsihku yg
mempunyai gerakan badan yg hebat dan nikmat.

“Siiiih, kamu sayg papa beneran nggak, aqu eeennnaaaak Siiih ….!”
“Aaaaduuuh paaaah, Ningsih sayg paapaaaah, eennaaak juga aqu paaaah, koq bisa enaaak gini ya
paaaah? Aaaargghhhh ….. ssshh … arrrgggghhhhhhhhhhhhhhhh …. Paaaaah …”
Aqu makin cepatkan kocokanku naik turun, demikian pula Ningsih, dia makin menggeliatkan
badannya ke sana kemari. Sayg, aqu nggak bisa melihat badan indahnya sambil berbugil, karena
situasinya yg tak memungkinkan.

Tiba-tiba Ningsih, setengah berteriak bergetar-getar badannya, “Aaarghhh … paaah, aqu nggak
tahaaan paaaah, aqu mau orgasme paaaaah, paaaaah …”. Aqu sendiri hampir nggak tahan juga
merasakan denyutan kemaluannya yg asyik. Sekali lagi, betul-betul kemaluan yg enak dan nikmat
“Nggak apa-apa Siiih, kalau mau orgasme, nggak usah ditahan Siiih, papa juga mau keluar, aarghhh …”.

Gerakan kemaluanku makin kupercepat walau pun tidak terlalu bebas, karena posisiku yg di bawah,
sambil tanganku mengocok susu dan bibir Ningsih kucari dan kumasukkan jempolku ke mulutnya
dan segera diempotnya seperti bayi sambil terus mendesah. Tak lama kemudian, Ningsih
mengejang, “Arrrggghhhhh paaaaaaaaah …. Arrrghhhhhh ……”, badannya bergetar, rupanya Ningsih
sudah orgasme hebat. Kemaluanku terasa dijepit berdenyut-denyut. Karena proses orgasme
badannya menggeliat seksi ke belakang sehingga tampak makin menggairahkan.

Pemandangan itu, walau cukup kulihat dari belakang, membuat aqu juga sudah merasa nggak tahan
lagi, geli hebat mulai terasa di ujung kemaluan yg masih berada di kemaluan Ningsih. Goyganku
kupercepat lagi, Ningsih kupeluk erat-erat, dan … “Aaaarhggggghhh … aqu juga keluar Siiiih …
eenaaaak Siiih …..”.

Bokong Ningsih kutarik keras-keras ke bawah agar seluruh kemaluanku terbenam di kemaluannya,
dan kusemprotkan keras-keras air maniku ke dalem kemaluannya, sambil berharap agar ada
spermatozoa yg bisa menyerbu ovumnya sehingga menghasilkan pembuahan, karena mendadak hari
ini aqu merasa mencintai Ningsih, tidak sekedar mencari kepuasan seksual saja.

“Ooooh paaaah, aqu cinta kamu paaaah …., Ningsih sayg kamu paaah. Aqu kepingin anak dari kamu
paaah …” kata Ningsih sambil terus memutar-mutarkan dan menekan bokongnya menjadikan
kemaluanku seperti diperas-peras isinya, dan beberapa kali menyemprotkan mani sampai ludas.
“Aqu juga sayg kamu, Ningsih … kapan-kapan aqu ingin mengajakmu main seks sambil betulan
telanjang bulat, mau ya Siih …?”

Ningsih langsung menjawab dgn manja: “Tentu Ningsih mau sekali paah, minggu depan ya paah, kita
cari tempat enak untuk bikin anak yg nikmat ya paah?”

Senin, 13 Februari 2017

Melakukan Hal Yang Sama Seperti Ayah Kepada Ibu Tiriku

Onebetqq.com Agen Bandar Poker | Bandar Poker | Bandar Poker Online | Domino 99 | BandarQ Terpercaya
Sejak umur tiga tahun aq sudah ditinggal Ibu kandungku. Ibu kandungku meninggal karena sakit. Setahun kemudian Papaku menikah lagi dengan seorang wanita berusia 27 thn berkulit putih bersih, saat itu usia papa 36 thn.

Awalnya aq memanggil mama tiriku dengan panggilan tante, tapi dia sendiri yg nggak mau di panggil tante, maunya di panggil Ibu. Dan diapun merawatku seperti anak kandungnya sendiri apalagi pernikahannya dengan Ayahku lama baru dikarunia anak yakni setelah lebih dari 9 thn baru mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Jadi selama itu mama tiriku benar-benar menganggapku sebagai anak kandungnya, merawatku dengan penuh kasih sayang dan nggak pernah sekalipun memarahiku.

Setelah adik tiriku dilahirkan pun kasih sayang Ibu tiriku tak berkurang. Kehidupan keluarga kami bisa dibilang cukup secara ekonomi dengan gaji papa sebagai seorang manager disebuah perusahaan swasta. Apalagi setelah Ibu membuka toko sembako di depan rumah kami tiga tahun yg lalu dan ternyata usahanya juga boleh di bilang berhasil. Sayang kebersamaan kami degan papa berakhir tiga tahun yg lalu. Ayahku meninggal akibat kecelakaan. Mobilnya ditabrak bus yg remnya blong.

Kini ia sengle parent, tapi secara ekonomi kami masih serba kecukupan. Usaha mama semakin baik, kadang kalau aq dirumah aq membantu Ibu di toko. Kasih sayang Ibu pun nggak berubah sedikitpun terhadapku. Dia nggak punya keinginan menikah lagi.

Sekarang umurku sudah 21 thn dan aq sudah duduk dibangku kuliah, sedang adikku baru duduk dibangku kelas 4 sd. Usia Ibu tiriku kini 44 thn. Ibu tiriku bukanlah tipe orang yg suka ke salon. Tapi memang dia dikaruniai tubuh yg indah. Walaupun setelah melahirkan adiiku tubuhnya sedikit melar jadinya kayak artis presenter OKI LUKMAN, timggi 167cm, tapi karena kulitnya yg bagus jadi masih nampak seksi.

Seperti hari-hari biasa setelah makan malam dan buka-buka buku kuliah, belajar bro… Aq nonton TV, biasanya setelah menemani adikku tidur Ibu akan menemani nonton TV. Benar saja dia keluar dari kamar adikku memakai daster yg longgar dan menuju sofa panjang yg aq duduki, tapi kali ini dia membawa minyak urut dan menyodorkan ke aq.

“Roy tolong pijitin kepala Ibu sambil nonton TV ya?” dan Ibu pun merebahkan kepalanya di pahaku dan aq pun melakukan yg suruh, memijit kepala Ibu sambil nonton TV.

Sekitar sepuluh menit aq memijit kepala Ibu, tiba-tiba terdengar dengkuran halus Ibu, ternyata Ibu tertidur. Sejenak aq memandang Ibu dan reflek tanganku mengelus kepala Ibu tiriku ‘kasian dia kelelahan’ kataku dalam hati… dan aq pun tak tdk berani mengusik tidur Ibu dan aq biarkan dia tidur dipahaku sambil aq terus nonton TV.

Sesaat kemudian saat aq masih asik nonton TV, Ibu membalikkan badanya kerahku dan tak sengaja wajah ibu tiriku nempel di kemaluanku yg hanya dilapisi celana tanpa CD, kareana memang kebiasaanku kalau mau tidur aq tak pernah memakai CD ditambah lagi posisi tangan Ibu tiriku yg ditaruh di kepalanya sehingga memperlihatkan ketiaknya yg putih dan ternyata Ibu tiriku tdk mengenakan BH sehingga tonjolan pangkal toketnya yg mulus menciptakan pemandanga yg menggairahkan.

Mulanya aq acuhkan, tapi karena di TV menampilkan bintang yg memang terkenal keseksianya membuat mataku kembali melirik ketiak Ibu tiriku, kali ini cukup lama aq menikmati sehingga tanpa terasa kemaluanku mulai mengeras dan entah iblis dari mana menyuruh tanganku bergerak kearah toket Ibuku dan menyentuh toket Ibuku yg nggak kencang lagi tapi montok, justru aq merasakan kelembutan yg luar biasa. Aq meraba toket Ibu tiriku beberapa kali dengan halus dan membuat Ibu tiriku bereaksi. Dengan menarik nafas panjang Ibu membalikkan badanya membelakangiku. Aq sangat terkejut dan menarik tanganku dengan cepat, takut ketahuan Ibu…

Ternyata tdk dan dia tertidur lelap kembali, kelembutan toket Ibu membuat otakku kaca membuat aq ingin menyentuh lagi tapi aq takut Ibu marah sedangkan kemaluanku berontak terus. Dan aq mendapat akal, tanganku mulanya pura-pura memeluk pingganya dan aq sentuhkan bagian bawah pangkal toketnya kembali aq merasakan kelembutan toketnya yg luar biasa.

Ketika Ibu tiriku tak bereaksi jari-jari nakalku mulau mengelus toket Ibu dan sesekali aq kenakan ke puting susunya. Tiba-tiba Ibu menarik nafas panjang membuat jari-jari nakalku berhenti bermain di toketnya, kali ini aq lebih berani atau lebih nekat, aq nggak menarik tanganku dari toketnya menunggu reaksi selanjutnya, ternyata Ibu kembali tidur.

Birahiku semakin melambung membuatku semakin berani meremas toket Ibu tiriku dan perbuatanku ini membuat Ibu tiriku terbangun dari tidurnya, tanganya langsung menangkap tanganku.

“Roy apa yg kamu lakukan?” tanyanya, nggak bentak sih, tapi membuatku pucat.

“Ma..mmaaf Bu, Roy khilaf..” hanya itu yg bisa keluar dari mulutku sakinh takutnya.

“Makanya nggak usah mikir yg aneh-aneh sudah tidur sana.. Ibu juga mau tidur” katanya sambil melangkah menuju kamarnya dan aq masih terpaku ketakutan dan malu.

Aq sadar setelah mendengar suara pintu kamar Ibu yg di tutup ‘glekk!’

Aq pun segera mematikan TV dan mengejar Ibu tiriku.

“Bu.. Ibuu” pangilku dari luar kamar,

Cklekk.. dan Ibuku muncul dari balik pintu kamar

“Ada apa lagi sih Roy? tanya Ibu tiriku dengannada halus seperti biasanya seperti tak pernah terjadi apa-apa.

“Sekali lagi Roy minta maaf ya Bu” kataku sambil memegang dan mencium tanganya.

“Iya Roy.. sudah sana tidur” jawab Ibu tiriku.

“Boleh nggak aq tidur sama Ibu?” tanyaku,

Dulu ketika ada ayahku aq suka tidur bersama mereka walaupun aq sudah memiliki kamar sendiri dan sudah besar, terakhir aq tidur bersama mereka seminggu sebelum Ayah meninggal dan biasanya Ayah yg mengalah tidur di kasur kecil dibawah.

“Oke, tapi karena kamu habis melakukan kesalah, kamu tidur di bawah” dan aq pun tidur dibawah seperti kebiasaan Ayah kalau kami tidur bertiga dan aq pun nggak bisa langsung memejamkan mata masih teringat kejadian tadi tapi aq berpura-pura tidur.

“Roy.. Roy bangun.. kamu tidur diatas aja nanti kamu sakit” tiba-tiba Ibu tiriku membangunkanku dan aq melihat jam 11, berati baru sekitar 30 menit aq berpura-pura tidur.

Aqpun langsung naik ke atas ranjang tidur bersama Ibu tiriku.

“Terima kasih ya Bu..” sambil tersenyum aq mencium pipinya.

“Supaya cepat tidur kamu balik sana membalakangi Ibu” dan aq pun melakukanya.

Disini lebih sulit lagi untuk memejamkan mata aq nggak mau membuat Ibu marah lagi jadi aq pura-pura tidur saja.

Hampir 30 menit aq tak bergerak membelakangi Ibu, tiba-tiba aq merasakan gerakan springbed karena Ibu merubah posisi tidurnya dan aq pun pura-pura menarik nafas panajang seperti orang tidur dan membalikkan tubuhku ke arah Ibu dan aq terkejut ketika ternyata Ibu tiriku belum tidur dan sedang memandang keatas.

“Ibu kok belum tidur?” tanayku.

“Iya Roy, Ibu masih ingat kejadian tadi..” jawabnya pelan.

“Jadi Ibu masih marah ya sama Roy?” aq bertanya sambil dadaku berdegup kencang karena takut.

“Nggak Roy, Ibu jadi teringan dengan Yahmu.. Ayahmu suka melakukan seperti itu.Saat Ibu tidur membelakangi dia, dia akan memeluk Ibu dari belakang dan tanganya langsung mengelus-elus toket Ibu seperti kamu lakukan tadi…” Ibu terdiam dan menatapku sejenak tiba-tiba dia berbalik lagi dan membelakangiku.

Sesaat aq bingung dengan kata-kata Ibu tiriku, tiba-tiba seperti ada yg membisikkan. ‘Lakukan seperti Ayahmu’ dan seperti kerbau yg dicocok hidungnya aq pun menuruti bisikan itu, aq peluk Ibu tiriku dari belakang dan tangan kananku langsung meremas toketnya.

Kali ini tangan Ibu tiriku justru memegangi tangan kananku dan menekan tanganku untuk lebih keras meremas toketnya, nafasnya mulai tak beraturan. Melihat hal ini aq mengerti kalau Ibu tiriku mulai bergairah dan tanganku semakin berani meremas-remas toketnya dan juga puting susunya. Dan bukan hanya birahi Ibu tiriku saja yg bangkit aq punsudah mulai lupa diri kalau perempuan yg sedang aq gumuli ini adalah soerang perempuan yg merawatku sejak kecil.

Aq membalikkan badanya hingga terlentang dan langsung menindihnya dan menciumi bibirnya sambil tangan kananku meremas-remas toketnya, dengan perlahan ciumanku mulai turun ke leher dan ke toketnya yg montok itu tapi itu masih tertutup dengan dasternya, ciumanku terus bergeser ke bawah hingga di kemaluanya yg masih tertutup celana dalam dan dasternya,

“Emhhhh… oghhhh..” cuma itu yg keluar dari mulut Ibu tiriku.

Bagian bawah daster Ibu tiriku sudah mulai acak-acakkan sehingga tertarik keatas dan memperlihatkan kedua paha mulusnya. Aq sudah nggak tahan lagi ingin melihat kemulusan seluruh tubuh Ibu tiriku. Dan aq pun melucuti daster Ibu tiriku. Kini Ibu tiriku telanjang hanya celana dalamnya yg masih menutupi kemaluannya, tapi aq benar-benar terpesona dengan kemulusan tubuh Ibu tiriku akhirnya kutarik celana dalam Ibu tiriku dan tersembulah bulu kemaluan Ibu tiriku yg lebat hingga ke lubang anusnya.

Sejenak kumenatapnya dan aq pun mulai melepas pakaianku hingga sama-sama bugil. Kembali aq menindihnya dan sesaat kami berciuman dan aq mulai pro aktif dengan mulai menjelajah turun ke leher, ketiak dan akli ini aq menindihnya dari belakang menciumi lehernya dari belakang sambil menggesek-gesekkan kemaluanku yg sudah tegang ke belahan pantatnya membuat birahi Ibu tiriku semakin melambung tinggi.

“Ohh Roy ayo masukin roy.. masukin dari belakang.. Ibu sudah nggak tahan.. sshshh” tapi aq masih belum mau mau, aq masih menikmati tubuh Ibu Tiriku, dan ciumanku mulai merayap ke bawah ke pantatnya terus ke paha bagian dalamnya membuat Ibu tiriku menggelinjang kegelian.

Ibu tiriku menunggingkan pantatnya dan membuatku semakin bergairah menjilati lubang pantatnya… sssshhhhsss.. bagai orang kepedesan Ibu tiriku terus menikmati jilatan di lubang pantatnya… Lidahku terus bermain-main di lubang pantatnya dan mulai merayap ke kemaluannya, ternyata kemaluan Ibu tiriku sudah sangat basah dan licin oleh cairan kenikmatanya sehingga mengeluarkan aroma khas dan rasa asin yg semakin membuatku tambah bergairah memainkan lidahku di kemaluannya.

Kini posisiku menjilati kemaluan sambil terlentang dan Ibu tiriku menduduki kepalaku sambil terus menggoyang dan menekan kemaluanya ke mulutku kadang susah bernafas. Tiba-tiba Ibu tiriku membalikkan tubuhnya dan melakukan posisi 69 dengan penuh nafsu Ibu tiriku meraih Batang kemaluanku mulai memainkannya di mulutnya membuatku tambah bernafsu menjilati kemaluanya.

Saat aq asik menghisap klitorisnya tiba-tiba Ib tiriku meremas keras batang kemaluanku…oghh.. oghhh..hh.. sambil badanya bergetar hebat dan tiba-tiba dia melepaskan batang kemaluanku dan ganti meremas pertuku sambil menekankan kuat kemaluanya kemulutku.. Ohhh.. aq merasakan lendir hangat membasahi mulutku dan aq pun tak menyia-nyiakannya dengan terus menjilati dan menghisap lendir Ibu tiriku hingga terus bergetar diatas mulutku.

Sesaat kemudian dia merayap turun dari kepalaku dan mncium bibirku.

“Permainan mulutmu sangat hebat roy.. Ibu mau merasakan batang kemaluanmu” Ibu tiriku langsung mrebah terlentang dan aq yg memang sudah sangat bernafsu nggak perlu nunggu lama lagi, langsung kuarahkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya yg tertutup bulunya yg lebat dan sudah sangat basah dan licin itu, tapi aq nggak mau buru-buru, perlahan-lahan aq memasukkan batang kemaluanku sampai masuk semua.. Oohh.. kami hampir bersamaan mendesah kenikmatan dan ketika sudah masuk semua aq menahanya dan menekankan pantatku kuat-kuat sampai aq merasakan ada dinding lembut yg menahan batang kemalauanku didalam kemaluan Ibu tiriku.

Setelah itu aq mulai menggoyang pantatku, hanya beberapa kali aq menggoyang pantatku tiba-tiba Ibu tiriku mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan tubuhnya kembali bergetar hebat, kedua tangan Ibu tiriku meraih kepalaku dan mencium bibirku kuat-kuat sambil kedua matanya melotot dan Ibu tiriku kembali meraih orgasme. Sesaat kemudian tubuh Ibu tiriku lunglai tanpa tenaga dibarengi dengan keringtanya yg membasahi tubuh dan sprei kasur.

Nafsuku pun sudah tak tertahankan lagi melihat pemandangan seperti ini, perlahan aq mengocok lubang kemaluanya untuk menuntaskan, tiba-tiba,

“Aghh.. tunggu dulu Roy mama masih ngilu..” setengah menjerit Ibu tiriku menahan kemaluanku bergerak sambil mengeluarkannya dari lubang kemaluannya membuat nafsuku agak tertahan, aq tersenyum dan mencium lembut bibirnya, aq pun menahan diri.

“hh.. ternyata bikan jilatanmu aja yg bikin Ibu klepek-klepek..” tiba-tiba Ibu mendorongku ke samping dan aq pun terelentang di samping Ibu tiriku.

“Sekarang giliran Ibu Roy..” katanya sambil bangkit dan meraih batang kemaluanku yg tegang mengeras dan ibu tiriku pun mulai dengan aksi menjilati, mengulum, menghisap dan nafsuku bertambang melambung tinggi, untung saja Ibu tiriku nggak lama dengan permainan mulutnya dan dia mulai naik diatas perutku dan tangan mulai mengarahkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya.. slepph.. ohh.. Ibu tiriku mulai mengoyangnya dan membuat batang kemaluanku semkain mengeras berdnyut…

“Buu.. aq sudah nggak tahan Buu..” aq seperti memohon pada Ibu tiriku.

“Tahan sebentar Roy sayang.. ohh Ibu juga udah mau keluar.. ohh..” dia pun semakin mempercepat goyanganya membuat batang kemaluanku seperti di remas-remas dan di hisap-hisap oleh kemaluan Ibu tiriku dan..

“Buuuu.. ohhhh..” aq sudah nggak tahan lagi menahan nafsuku setelah berdenyut-denyut kencang, beberapa kali kemaluanku menyemburkan pejuhku ke dalam kemluan Ibu tiriku membuat kemaluan Ibu tiriku semakin becek dan licin, tanganku meremas pantat montoknya menahan ngilu di kemaluanku, Ibu tiriku pun merasakan luar biasa licinya kemaluannya dan goyanganya bertambah kencang dan semakin kencang dan…

“Ooohhh.. ohhh..” tubuh Ibu tiriku kembali bergetar mengejang hebat bahkan lebih hebat dari yg pertama dan kedua karena posisinya di atas tubuhku sekarang dan aq merasa begitu banyak keluar cairan hangat mengalir di kedua sela-sela pahaku.

Dan akhirnya tubuh Ibu tiriku ambruk lemas memelukku, nafas kami pun saling memburu bagaiakan lari marathon.

Tak terasa kami berdua tertidur sambil berpelukan, Ibu tiriku masih menindihku dan tertidur….


Sintya Dan Sex Pertamanya



Menurut orang, wajah Aku cantik sekali. Mataku yang sayu sering membuat pria tergila-gila padaku. Aku sendiri tidak GR tapi Aku merasa pria banyak yang ingin bersetubuh dengan Aku. Aku senang saja karena pada dasarnya Aku juga senang ML.

Aku dibesarkan di keluarga yang taat beragama. Dari SD hingga SMP Aku disekolahkan di sebuah sekolah berlatar belakang agama. Sebenarnya dari kelas 6 SD, gairah seksual Aku tinggi sekali tetapi Aku selalu berhasil menekannya dengan membaca buku. Selesai SMP tahun 1989, Aku melanjutkan ke SMA negeri di kawasan bulungan, Jakarta Selatan.
Di hari pertama masuk SMA, Aku sudah langsung akrab dengan teman-teman baru bernama Fitri, Welina dan Neni. Mereka cantik, kaya dan pintar. Dari mereka bertiga, terus terang yang bertubuh paling indah adalah si Fitri. Tubuh Aku cenderung biasa saja tetapi berbuah dada besar karena dulu Aku gemuk, tetapi berkat diet ketat dan olah raga gila-gilaan, Aku berhasil menurunkan berat badan tetapi buah dadaku tetap saja besar.

Di suatu hari Sabtu, sepulang sekolah kami menginap ke rumah Fitri di Pondok Indah. Rumah Fitri besar sekali dan punya kolam renang. Di rumah Fitri, kami ngerumpi segala macam hal sambil bermalas-malasan di sofa. Di sore hari, kami berempat ganti baju untuk berenang. Di kamar Fitri, dengan cueknya Fitri, Welina dan Neni telanjang didepanku untuk ganti baju. Aku awalnya agak risih tetapi Aku ikut-ikutan cuek. Aku melirik tubuh ketiga teman Aku yang langsing. Ku lirik selangkangan mereka dan bulu kemaluan mereka tercukur rapi bahkan Fitri mencukur habis bulu kemaluannya. Tiba-tiba si Neni berteriak ke arah Aku..

“Gile, rambut kemaluan Sintya lebat banget”
Kontan Fitri dan Welina menengok kearah Aku. Aku menjadi sedikit malu.
“Dicukur dong Sintya, enggak malu tuh sama celana dalam?” kata Welina.
“Aku belum pernah cukur rambut kemaluan” jawabku.
“Ini ada gunting dan shaver, cukur aja kalau mau” kata Fitri.

Aku menerima gunting dan shaver lalu mencukur rambut kemaluanku di kamar mandi Fitri. Welina dan Neni tidak menunggu lebih lama, mereka langsung menceburkan diri ke kolam renang sedangkan Fitri menunggui Aku. Setelah mencoba memendekkan rambut kemaluan, Fitri masuk ke kamar mandi dan melihat hasil Aku.
“Kurang pendek, Sintya. Abisin aja” kata Fitri.
“Nggak berani, takut lecet” jawabku.
“Sini aku bantuin” kata Fitri.
Fitri lalu berjongkok di hadapanku. Aku sendiri posisinya duduk di kursi toilet. Fitri membuka lebar kaki Aku lalu mengoleskan shaving cream ke sekitar kemaluan. Ada sensasi getaran menyelubungi tubuhku saat jari Fitri menyentuh kemaluanku. Dengan cepat Fitri menyapu shaver ke rambut kemaluanku dan menggunduli semua rambut-rambut didaerah kelaminku. Tak terasa dalam waktu 5 menit, Fitri telah selesai dengan karyanya. Ia mengambil handuk kecil lalu dibasahi dengan air kemudian ia membersihkan sisa-sisa shaving cream dari selangkanganku.


“Bagus kan?” kata Fitri.
Aku menengok ke bawah dan melihat kemaluanku yang botak seperti bayi. OK juga kerjaannya. Fitri lalu jongkok kembali di selangkanganku dan membersihkan sedikit selangkanganku.

“Sintya, elo masih perawan ya?” kata Fitri.
“Iya, kok tau?”
“Kemaluan elo rapet banget” kata Fitri.

Sekali-kali jari Fitri membuka bibir kemaluan Aku. Nafasku mulai memburu menahan getaran dalam tubuhku. Ada apa ini? Tanya Aku dalam hati. Fitri melirik ke arahku lalu jarinya kembali memainkan kemaluanku.
“Ooh, Fitri, geli ah”

Fitri nyengir nakal tapi jarinya masih mengelus-elus kemaluanku. Aku benar-benar menjadi gila rasanya menahan perasaan ini. Tak terasa Aku menjambak rambut Fitri dan Fitri menjadi semakin agresif memainkan jarinya di kemaluanku. Dan sekarang ia perlahan mulai menjilat kemaluan Aku.
“Kemaluan kamu wangi”
“Jangan Fitri” pinta Aku tetapi dalam hati ingin terus dijilat.

Fitri menjilat kemaluan Aku. Bibir kemaluan Aku dibuka dan lidahnya menyapu seluruh kemaluan Aku. Klitorisku dihisap dengan keras sehingga nafas Aku tersentak-sentak. Aku memejamkan mata menikmati lidah Fitri di kemaluanku. Tak berapa lama Aku merasakan lidah Fitri mulai naik kearah perut lalu ke dada. Hatiku berdebar-debar menantikan perbuatan Fitri berikutnya. Dengan lembut tangan Fitri membuka BH-ku lalu tangan kanannya mulai meremas buah dada kiriku sedangkan buah dada kananku dikulum oleh Fitri.

Inikah yang namanya seks? Tanyaku dalam hati. 18 tahun Aku mencoba membayangkan kenikmatan seks dan Aku sama sekali tak membayangkan bahwa pengalaman pertamaku akan dengan seorang perempuan. Tetapi nikmatnya luar biasa. Fitri mengulum puting buah dadaku sementara tangan kanannya sudah kembali turun ke selangkanganku dan memainkan klitorisku. Aku menggeliat-geliat menikmati sensualitas dalam diriku. Tiba-tiba dari luar si Neni memanggil..

“Woi, lama amat di dalam. Mau berenang enggak?”

Fitri tersenyum lalu berdiri. Aku tersipu malu kemudian Aku bergegas memakai baju berenang dan kami berdua menyusul kedua teman yang sudah berenang. Di malam hari selesai makan malam, kita berempat nonton TV dikamar Fitri. Oiya, orang tua Fitri sedang keluar negeri sedangkan kakak Fitri lagi keluar kota karenanya rumah Fitri kosong. Setelah bosan menonton TV, kami menggosipkan orang-orang di sekolah. Pembicaraan kami ngalor-ngidul hingga Fitri membuat topik baru dengan siapa kita mau bersetubuh di sekolah. Welina dan Neni sudah tidak perawan sejak SMP. Mereka berdua menceritakan pengalaman seks mereka dan Fitri juga menceritakan pengalaman seksnya, Aku hanya mendengarkan kisah-kisah mereka.

“Kalau aku, aku nafsu liat si Ari anak kelas I-6” kata Neni.
“Iya sama dong, tetapi aku liat nafsu liat si Marcel. Kayaknya kemaluannya gede deh” kata Angky.

“Terus terang ya, aku dari dulu nafsu banget liat si Felix. Sering banget aku bayangin kemaluan dia muat enggak di kemaluan aku. Sorry ya Fitri, aku kan tau Felix cowok elo” kata Aku sambil tersenyum.


“Hahaha, nggak apa-apa lagi. Banyak kok yang nafsu liat dia. Si Angky dan Neni juga nafsu” kata Fitri. Kami berempat lalu tertawa bersama-sama.
Di hari Senin setelah pulang sekolah, Fitri menarik tangan Aku.
“Eh Sintya, beneran nih elo sering mikirin Felix?”
“Iya sih, kenapa? Nggak apa-apa kan aku ngomong gitu?” tanya Aku.
“Nggak apa-apa kok. Aku orangnya nyantai aja” kata Fitri.
“Pernah kepikiran enggak mau ML?” Fitri kembali bertanya.
“Hah? Dengan siapa?” tanya Aku terheran-heran.
“Dengan Felix. Semalam aku cerita ke Felix dan Felix mau aja ML dengan kamu”
“Ah gila loe Fitri” jawab Aku.
“Mau enggak?” desak Fitri.
“Terus kamu sendiri gimana?” tanya Aku dengan heran.
“Aku sih cuek aja. Kalo bisa bikin teman senang, kenapa enggak?” kata Fitri.
“Ya boleh aja deh” kata Aku dengan deg-degan.
“Mau sekarang di rumahku?” kata Fitri.
“Boleh”

Aku naik mobil Fitri dan kami berdua langsung meluncur ke Pondok Indah. Setiba di sana, Aku mandi di kamar mandi karena panas sekali. Sambil mandi, perasaan Aku antara tegang, senang, merinding. Semua bercampur aduk. Selesai mandi, Aku keluar kamar mandi mengenakan BH dan celana dalam. Aku pikir tidak ada orang di kamar. Aku duduk di meja rias sambil menyisir rambutku yang panjang. Tiba-tiba Aku kaget karena Fitri dan Felix muncul dari balkon kamar Fitri. Rupanya mereka berdua sedang menunggu Aku sambil mengobrol di balkon.
“Halo Sintya” kata Felix sambil tersenyum.

Aku membalas tersenyum lalu berdiri. Felix memperhatikan tubuhku yang hanya ditutupi BH dan celana dalam. Tubuh Felix sendiri tinggi dan tegap. Felix masih campuran Belanda Menado sehingga terlihat sangat tampan.

“Hayo, langsung aja. Jangan grogi” kata Fitri bagaikan germo.

Felix lalu menghampiriku kemudian ia mencium bibirku. Inilah pertama kali Aku dicium di bibir. Perasaan hangat dan getaran menyelimuti seluruh tubuhku. Aku membalas ciuman Felix dan kita berciuman saling berangkulan. Aku melirik ke Fitri dan Aku melihat Fitri sedang mengganti baju seragamnya ke daster. Felix mulai meremas-remas buah dadaku yang berukuran 34C. Aku membuka BH-ku sehingga Felix dengan mudah dapat meremas seluruh buah dada. Tangan kirinya diselipkan kedalam celana dalamku lalu kemaluanku yang tidak ditutupi sehelai rambut mulai ia usap dengan perlahan.

Aku menggelinjang merasakan jari jemari Felix di selangkanganku. Felix lalu mengangkat tubuhku dan dibaringkan ke tempat tidur. Felix membuka baju seragam SMA-nya sampai ia telanjang bulat di hadapanku. Mulut Aku terbuka lebar melihat kemaluan Felix yang besar. Selama ini Aku membayangkan kemaluan Felix dan sekarang Aku melihat dengan mata kapala sendiri kemaluan Felix yang berdiri tegak di depan mukaku. Felix menyodorkan kemaluannya ke muka Aku. Aku langsung menyambutnya dan mulai mengulum kemaluannya. Rasanya tidak mungkin muat seluruh kemaluannya dalam mulutku tetapi Aku mencoba sebisaku menghisap seluruh batang kemaluan itu.

Aku merasakan tangan Felix kembali memainkan kemaluanku. Gairah Aku mulai memuncak dan hisapanku semakin kencang. Aku melirik Felix dan kulihat ia memejamkan matanya menikmati kemaluannya dihisap. Aku melirik ke Fitri dan Fitri ternyata tidak mengenakan baju sama sekali dan ia sudah duduk di tempat tidur. Felix lalu membalikkan tubuhku sehingga Aku dalam posisi menungging.

Aku agak bingung karena melihat Fitri bersimpuh dibelakang Aku. Ah ternyata Fitri kembali menjilat kemaluan Aku. Nafas Aku memburu dengan keras menikmati jilatan Fitri di kemaluan Aku. Di sebelah kanan Aku ada sebuah kaca besar dipaku ke dinding. Aku melirik ke arah kaca itu dan Aku melihat si Felix yang sedang menyetubuhi Fitri dalam posisi doggy style sedangkan Fitri sendiri dalam keadaan disetubuhi sedang menikmati kemaluanku.

Wah ini pertama kali Aku melihat ini. Aku melihat wajah Felix yang ganteng sedang sibuk ngentot dengan Fitri. Gairah wajah Felix membuat Aku semakin nafsu. Sekali-kali lidah Fitri menjilat anus Aku dan kepalanya terbentur-bentur ke pantat Aku karena tekanan dari tubuh Felix ke tubuh Fitri. Tidak berapa lama, Felix menjerit dengan keras sedangkan Fitri tubuhnya mengejang. Aku melihat kemaluan Felix dikeluarkan dari kemaluan Fitri. Air maninya tumpah ke pinggir tempat tidur.


Felix terlihat terengah-engah tetapi matanya langsung tertuju ke kemaluan Aku. Bagaikan sapi yang akan dipotong, Felix dengan mata liar mendorong Fitri ke samping lalu ia menghampiri diriku. Felix mengarahkan kemaluannya yang masih berdiri ke kemaluanku. Aku sudah sering mendengar pertama kali seks akan sakit dan Aku mulai merasakannya. Aku memejamkan mata dengan erat merasakan kemaluan Felix masuk ke kemaluanku. Aku menjerit menahan perih saat kemaluan Felix yang besar mencoba memasuki kemaluanku yang masih sempit. Fitri meremas lenganku untuk membantu menahan sakit.
“Aduh, tunggu dong, sakit nih” keluh Aku.

Felix mengeluarkan sebentar kemaluannya kemudian kembali ia masukkan ke kemaluanku. Kali ini rasa sakitnya perlahan-lahan menghilang dan mulai berganti kerasa nikmat. Oh ini yang namanya kenikmatan surgawi pikir Aku dalam hati. Kemaluan Felix terasa seperti memenuhi seluruh kemaluanku. Dalam posisi nungging, Aku merasakan energi Felix yang sangat besar. Aku mencoba mengimbangi gerakan tubuh Felix sambil menggerakkan tubuhku maju mundur tetapi Felix menampar pantatku.

“Kamu diam aja, enggak usah bergerak” katanya dengan galak.
“Jangan galak-galak dong, takut nih Sintya” kata Fitri sambil tertawa. Aku ikut tertawa.

Fitri berbaring di sebelahku kemudian ia mendekatkan wajahnya ke diriku lalu ia mencium bibirku! Wah, bertubi-tubi perasaan menyerang diriku. Aku benar-benar merasakan semua perasaan seks dengan pria dan perempuan dalam satu hari. Awalnya Aku membiarkan Fitri menjilat bibirku tetapi lama kelamaan Aku mulai membuka mulutku dan lidah kami saling beradu.
Aku merasakan tangan Felix yang kekar meremas-remas buah dadaku sedangkan tangan Fitri membelai rambutku. Aku tak ingin ketinggalan, Aku mulai ikut meremas buah dada Fitri yang Aku taksir berukuran 32C. Kurang lebih lima menit kita bertiga saling memberi kenikmatan duNeniwi sampai Felix mencapai puncak dan ia ejakulasi. Aku sendiri merasa rasanya sudah orgasme kurang lebih 4 kali. Felix mengeluarkan kemaluannya dari kemaluanku dan Fitri langsung menghisap kemaluannya dan menelan semua air mani dari kemaluan Felix.

Aku melihat Felix meraih kantong celananya dan mengambil sesuatu seperti obat. Ia menelan obat itu dengan segelas air di meja rias Fitri. Aku melihat kemaluan Felix yang masih berdiri tegak. Dalam hati Aku bertanya-tanya bukankah setiap kali pria ejakulasi pasti kemaluannya akan lemas? Kenapa Felix tidak lemas-lemas? Belakangan Aku tau ternyata Felix memakan semacam obat yang dapat membuat kemaluannya terus tegang.
Setelah minum obat, Felix menyuruh Fitri berbaring ditepi tempat tidur lalu Felix kembali ngentot dengan Fitri dalam posisi missionary. Fitri memanggil Aku lalu Aku diminta berbaring diatas tubuh Fitri. Dengan terheran-heran Aku ikuti kemauan Fitri.

Aku melihat Felix meraih kantong celananya dan mengambil sesuatu seperti obat. Ia menelan obat itu dengan segelas air di meja rias Fitri. Aku melihat kemaluan Felix yang masih berdiri tegak. Dalam hati Aku bertanya-tanya bukankah setiap kali pria ejakulasi pasti kemaluannya akan lemas? Kenapa Felix tidak lemas-lemas? Belakangan Aku tau ternyata Felix memakan semacam obat yang dapat membuat kemaluannya terus tegang.
Setelah minum obat, Felix menyuruh Fitri berbaring ditepi tempat tidur lalu Felix kembali ngentot dengan Fitri dalam posisi missionary. Fitri memanggil Aku lalu Aku diminta berbaring diatas tubuh Fitri. Dengan terheran-heran Aku ikuti kemauan Fitri.

Aku menindih tubuh Fitri tetapi karena kaki Fitri sedang ngangkang karena dalam posisi ngentot, terpaksa kaki Aku bersimpuh disebelah kiri dan kanan Fitri. Aku langsung mencium Fitri dan Fitri melingkarkan lengannya ke tubuhku dan kami berdua berciuman dengan mesra. Aku merasakan tangan Felix menggerayangi seluruh pantatku. Ia membuka belahan pantatku dan Aku merasakan jarinya memainkan anusku.

Felix kembali memompakan kemaluannya dalam kemaluanku. Aku sebenarnya rasanya sudah lemas dan akhirnya Aku pasrah saja disetubuhi Felix dengan liar. Tetapi dalam hatiku Aku senang sekali disetubuhin. Berkali-kali kemaluan Felix keluar masuk dalam kemaluanku sedangkan Fitri terus menerus mencium bibirku. Kali ini Aku rasa tidak sampai 3 menit Felix ngentot dengan Aku karena Aku merasakan cairan hangat dari kemaluan Felix memenuhi kemaluanku dan Felix berseru dengan keras merasakan kenikmatan yang ia peroleh. Aku sendiri melenguh dengan keras. Seluruh otot kemaluanku rasanya seperti mengejang. Aku cengkeram tubuh Fitri dengan keras menikmati sensual dalam diriku.

Felix lalu dalam keadaan lunglai membaringkan dirinya ke tempat tidur. Fitri menyambutnya sambil mencium bibirnya. Mereka berdua saling berciuman. Aku berbaring disebelah kiri Felix sedangkan Fitri disebelah kanannya. Kita bertiga tertidur sampai jam 5 sore. Setelah itu Aku diantar pulang oleh Fitri.

Itu adalah pengalaman seksku yang sangat berkesan. Bertahun-tahun kemudian Aku sering nafsu tetapi Aku harus memendam perasaan itu karena belum tahu cara melampiaskannya. Dan sekarang Aku merasa senang sekali karena akhirnya bisa merasakan kenikmatan bersetubuh baik dengan pria maupun perempuan. Masing-masing ternyata mempunyai kenikmatan tersendiri.


Minggu, 12 Februari 2017

Menyetubuhi Istri Sepupuku

Onebetqq.com Agen Bandar Poker | Bandar Poker | Bandar Poker Online | Domino 99 | BandarQ Terpercaya
Bekerja sebagai auditor di perusahaan swasta memang sangat melelahkan. Tenaga, pikiran, semuanya terkuras. Apalagi kalau ada masalah keuangan yang rumit dan harus segera diselesaikan. Mau tidak mau, aku harus mencurahkan perhatian ekstra.

Akibat dari tekanan pekerjaan yang demikian itu membuatku akrab dengan gemerlapnya dunia malam terutama jika weekend. Biasanya bareng teman sekantor aku berkaraoke untuk melepaskan beban. Kadang di ‘sini’, kadang di ‘sana’, dan selanjutnya, benar-benar malam untuk menumpahkan “beban”.

Maklum, aku sudah berkeluarga dan punya seorang anak, tetapi mereka kutinggalkan di kampung karena istriku punya usaha dagang di sana. Tapi lama kelamaan semua itu membuatku bosan. Ya…di Jakarta ini, walaupun aku merantau, ternyata aku punya banyak saudara dan karena kesibukan (alasan klise) aku tidak sempat berkomunikasi dengan mereka.

Akhirnya kuputuskan untuk menelepon Mas Adit, sepupuku. Kami pun bercanda ria, karena lama sekali kami tidak kontak. Mas Adit bekerja di salah satu perusahaan minyak asing, dan saat itu dia kasih tau kalau minggu depan ditugaskan perusahaannya ke tengah laut, mengantar logistik sekaligus membantu perbaikan salah satu peralatan rig yang rusak.

Dan dia memintaku untuk menemani keluarganya kalau aku tidak keberatan. Sebenernya aku males banget, karena rumah Mas Adit cukup jauh dari tempat kostku Aku di bilangan Ciledug, sedangkan Mas Adit di Bekasi. Tapi entah mengapa aku mengiyakan saja permintaannya, karena kupikir-pikir sekalian silaturahmi. Maklum, lama sekali tidak jumpa.

Hari Jumat minggu berikutnya aku ditelepon Mas Adit untuk memastikan bahwa aku jadi menginap di rumahnya. Sebab kata Mas Adit istrinya, mbak Lala, senang kalau aku mau datang. Hitung-hitung buat teman ngobrol dan teman main anak-anaknya. Mereka berdua sudah punya anak laki-laki dua orang. Yang sulung kelas 4 SD, dan yang bungsu kelas 1 SD.

Usia Mas Adit 40 tahun dan mbak Lala 38 tahun. Aku sendiri 30 tahun. Jadi tidak beda jauh amat dengan mereka. Apalagi kata Mbak Lala, aku sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumahnya. Terutama semenjak aku bekerja di Jakarta ini. Ya, tiga tahun lebih aku tidak berjumpa mereka. Paling-paling cuma lewat telepon

Setelah makan siang, aku telepon mbak Lala, janjian pulang bareng Kami janjian di stasiun, karena mbak Lala biasa pulang naik kereta. “kalau naik bis macet banget. Lagian sampe rumahnya terlalu malem”, begitu alasan mbak Lala. Dan jam 17.00 aku bertemu mbak Lala di stasiun. Tak lama, kereta yang ditunggu pun datang. Cukup penuh, tapi aku dan mbak masih bisa berdiri dengan nyaman. Kamipun asyik bercerita, seolah tidak mempedulikan kiri kanan.

Tapi hal itu ternyata tidak berlangsung lama Lepas stasiun J, kereta benar-benar penuh. Mau tidak mau posisiku bergeser dan berhadapan dengan Mbak Lala. Inilah yang kutakutkan…! Beberapa kali, karena goyangan kereta, dada montok mbak Lala menyentuh dadaku. Ahh…darahku rasanya berdesir, dan mukaku berubah agak pias.

Rupanya mbak Lala melihat perubahanku dan ?ini konyolnya- dia mengubah posisi dengan membelakangiku. Alamaakk.. siksaanku bertambah..! Karena sempitnya ruangan, si “itong”-ku menyentuh pantatnya yang bulat manggairahkan. Aku hanya bisa berdoa semoga “itong” tidak bangun.

Kamipun tetap mengobrol dan bercerita untuk membunuh waktu. Tapi, namanya laki-laki normal apalgi ditambah gesekan-gesekan yang ritmis, mau tidak mau bangun juga “itong”-ku. Makin lama makin keras, dan aku yakin mbak Lala bisa merasakannya di balik rok mininya itu.

Pikiran ngeresku pun muncul, seandainya aku bisa meremas dada dan pinggulnya yang montok itu.. oh… betapa nikmatnya. Akhirnya sampai juga kami di Bekasi, dan aku bersyukur karena siksaanku berakhir. Kami kemudian naik angkot, dan sepanjang jalan Mbak Lala diam saja. Sampai dirumah, kami beristirahat, mandi (sendiri-sendiri, loh..) dan kemudian makan malam bersama keponakanku. Selesai makan malam, kami bersantai, dan tak lama kedua keponakanku pun pamit tidur.

“Ndrew, mbak mau bicara sebentar”, katanya, tegas sekali.
“Iya mbak.. kenapa”, sahutku bertanya. Aku berdebar, karena yakin bahwa mbak akan memarahiku akibat ketidaksengajaanku di kereta tadi.
“Terus terang aja ya. Mbak tau kok perubahan kamu di kereta. Kamu ngaceng kan?” katanya, dengan nada tertahan seperti menahan rasa jengkel.
“Mbak tidak suka kalau ada laki-laki yang begitu ke perempuan. Itu namanya pelecehan. Tau kamu?!”

“MMm.. maaf, mbak..”, ujarku terbata-bata.
“Saya tidak sengaja. Soalnya kondisi kereta kan penuh banget. Lagian, nempelnya terlalu lama.. ya.. aku tidak tahan”
“Terserah apa kata kamu, yang jelas jangan sampai terulang lagi. Banyak cara untuk mengalihkan pikiran ngeres kamu itu. Paham?!” bentak Mbak Lisa.
“Iya, Mbak. Saya paham. Saya janji tidak ngulangin lagi”
“Ya sudah. Sana, kalau kamu mau main PS. Mbak mau tidur-tiduran dulu. kalau pengen nonton filem masuk aja kamar Mbak.” Sahutnya. Rupanya, tensinya sudah mulai menurun.

Akhirnya aku main PS di ruang tengah. Karena bosan, aku ketok pintu kamarnya. Pengen nonton film. Rupanya Mbak Lala sedang baca novel sambil tiduran. Dia memakai daster panjang. Aku sempat mencuri pandang ke seluruh tubuhnya. Kuakui, walapun punya anak dua, tubuh Mbak Lala betul-betul terpelihara. Maklumlah, modalnya ada. Akupun segera menyetel VCD dan berbaring di karpet, sementara Mbak Lala asyik dengan novelnya.

Entah karena lelah atau sejuknya ruangan, atau karena apa akupun tertidur. Kurang lebih 2 jam, dan aku terbangun. Film telah selesai, Mbak Lala juga sudah tidur. Terdengar dengkuran halusnya. Wah, pasti dia capek banget, pikirku.

Saat aku beranjak dari tiduranku, hendak pindah kamar, aku terkesiap. Posisi tidur Mbak Lala yang agak telungkup ke kiri dengan kaki kana terangkat keatas benar-benar membuat jantungku berdebar. Bagaimana tidak? Di depanku terpampang paha mulus, karena dasternya sedikti tersingkap. Mbak Lala berkulti putih kemerahan, dan warna itu makin membuatku tak karuan. Hatiku tambah berdebar, nafasku mulai memburu.. birahiku pun timbul..

Perlahan, kubelai paha itu.. lembut.. kusingkap daster itu samapi pangkal pahanya.. dan.. AHH… “itong”-ku mengeras seketika. Mbak Lala ternyata memakai CD mini warna merah.. OHH GOD.. apa yang harus kulakukan… Aku hanya menelan ludah melihat pantatnya yang tampak menggunung, dan CD itu nyaris seperti G-String.

Aku bener-bener terangsang melihat pemandangan indah itu, tapi aku sendiri merasa tidak enak hati, karena Mbak Lala istri sepupuku sendiri, yang mana sebetulnya harus aku temani dan aku lindungi dikala suaminya sedang tidak dirumah.

Namun godaan syahwat memang mengalahkan segalanya. Tak tahan, kusingkap pelan-pelan celana dalamnya, dan tampaklah gundukan memeknya berwarna kemerahan. Aku bingung.. harus kuapakan.. karena aku masih ada rasa was-was, takut, kasihan… tapi sekali lagi godaan birahi memang dahsyat.

Akhirnya pelan-pelan kujilati memek itu dengan rasa was-was takut Mbak Lala bangun. Sllrrpp.. mmffhh… sllrrpp… ternyata memeknya lezat juga, ditambah pubic hair Mbak Lala yang sedikit, sehingga hidungku tidak geli bahkan leluasa menikmati aroma memeknya.

Entah setan apa yang menguasai diriku, tahu-tahu aku sudah mencopot seluruh celanaku. Setelah “itong”-ku kubasahi dengan ludahku, segera kubenamkan ke memek Mbak Lala. Agak susah juga, karena posisinya itu. Dan aku hasrus ekstra hati-hati supaya dia tidak terbangun. Akhirnya “itongku”-ku berhasil masuk.

HH… hangat rasanya.. sempit.. tapi licin… seperti piston di dalam silinder. Entah licin karena Mbak Lala mulai horny, atau karena ludah bekas jilatanku.. entahlah. Yang pasti, kugenjot dia.. naik turun pelan lembut.. tapi ternyata nggak sampai lima menit.

Aku begitu terpukau dengan keindahan pinggul dan pantatnya, kehalusan kulitnya, sehingga pertahananku jebol. Crroott… ccrroott.. sseerr.. ssrreett.. kumuntahkan maniku di dalam memek Mbak Lala. Aku merasakan pantatnya sedikit tersentak. Setelah habis maniku, pelan-pelan dengan dag-dig-dug kucabut penisku.

“Mmmhh… kok dicabut tititnya..” suara Mbak Lala parau karena masih ngantuk.
“Gantian dong..aku juga pengen..”

Aku kaget bukan main. Jantungku tambah keras berdegup.

“Wah.. celaka..”, pikirku.

“Ketahuan, nich…” Benar saja! Mbak Lala mambalikkan badannya. Seketika dia begitu terkejut dan secara refleks menampar pipiku. Rupanya dia baru sadar bahwa yang habis menyetubuhinya bukan Mas Adit, melainkan aku, sepupunya.

“Kurang ajar kamu, Ndrew”, makinya.
“KELUAR KAMU…!”

Aku segera keluar dan masuk kamar tidur tamu. Di dalam kamar aku bener-bener gelisah.. takut.. malu.. apalagi kalau Mbak Lala sampai lapor polisi dengan tuduhan pemerkosaan. Wah.. terbayang jelas di benakku acara Buser… malunya aku.

Aku mencoba menenangkan diri dengan membaca majalah, buku, apa saja yang bisa membuatku mengantuk. Dan entah berapa lama aku membaca, aku pun akhirnya terlelap. Seolah mimpi, aku merasa “itong”-ku seperti lagi keenakan. Serasa ada yang membelai. Nafas hangat dan lembut menerpa selangkanganku. Perlahan kubuka mata.. dan..

“Mbak Lala..jangan”, pintaku sambil aku menarik tubuhku.
“Ndrew..” sahut Mbak Lala, setengah terkejut.
“Maaf ya, kalau tadi aku marah-marah. Aku bener-bener kaget liat kamu tidak pake celana, ngaceng lagi.”
“Terus, Mbak maunya apa?” taku bertanya kepadaku. Aneh sekali, tadi dia marah-marah, sekarang kok.. jadi begini..

“Terus terang, Ndrew.. habis marah-marah tadi, Mbak bersihin memek dari sperma kamu dan disiram air dingin supaya Mbak tidak ikutan horny. Tapi… Mbak kebayang-bayang titit kamu. Soalnya Mbak belum pernah ngeliat kayak punya kamu. Imut, tapi di meki Mbak kerasa tuh.” Sahutnya sambil tersenyum.

Dan tanpa menunggu jawabanku, dikulumnya penisku seketika sehingga aku tersentak dibuatnya. Mbak Lala begitu rakus melumat penisku yang ukurannya biasa-biasa saja. Bahkan aku merasakan penisku mentok sampai ke kerongkongannya.

Secara refleks, Mbak naik ke bed, menyingkapkan dasternya di mukaku. Posisii kami saat ini 69. Dan, Ya Tuhan, Mbak Lala sudah melepas CD nya. Aku melihat memeknya makin membengkak merah. Labia mayoranya agak menggelambir, seolah menantangku untuk dijilat dan dihisap. Tak kusia-siakan, segera kuserbu dengan bibirku..

“SSshh.. ahh.. Ndrew.. iya.. gitu.. he-eh.. Mmmffhh.. sshh.. aahh” Mbak Lala merintih menahan nikmat. Akupun menikmati memeknya yang ternyata bener-bener becek. Aku suka sekali dengan cairannya.

“Itilnya.. dong… Ndrew.. mm.. IYAA… AAHH… KENA AKU… AMPUUNN NDREEWW..”

Mbak Lala makin keras merintih dan melenguh. Goyangan pinggulnya makin liar dan tak beraturan. Memeknya makin memerah dan makin becek. Sesekali jariku kumasukkan ke dalamnya sambil terus menghisap clitorisnya. Tapi rupanya kelihaian lidah dan jariku masih kalah dengan kelihaian lidah Mbak Lala. Buktinya aku merasa ada yang mendesak penisku, seolah mau menyembur.

“Mbak… mau keluar nih…” kataku.

Tapi Mbak Lala tidak mempedulikan ucapanku dan makin ganas mengulum batang penisku. Aku makin tidak tahan dan.. crrootts… srssrreett… ssrett… spermaku muncrat di muutu Mbak Lala. Dengan rakusnya Mbak Lala mengusapkan spermaku ke wajahnya dan menelan sisanya.

“Ndrewww.. kamu ngaceng terus ya.. Mbak belum kebagian nih…” pintanya.

Aku hanya bisa mmeringis menahan geli, karena Mbak Lala melanjutkan mengisap penisku. Anehnya, penisku seperti menuruti kemauan Mbak Lala. Jika tadi langsung lemas, ternyata kali ini penisku dengan mudahnya bangun lagi. Mungkin karena pengaruh lendir memek Mbak Lala sebab pada saat yang sama aku sibuk menikmati itil dan cairan memeknya, aku jadi mudah terangsang lagi.

Tiba-tiba Mbak Lala bangun dan melepaskan dasternya.

“Copot bajumu semua, Ndrew” perintahnya.

Aku menuruti perintahnya dan terperangah melihat pemandangan indah di depanku. Buah dada itu membusung tegak. Kuperkirakan ukurannya 36B. Puting dan ariolanya bersih, merah kecoklatan, sewarna kulitnya. Puting itu benar-benar tegak ke atas seolah menantang kelelakianku untuk mengulumnya. Segera Mbak Lala berlutut di atasku, dan tangannya membimbing penisku ke lubang memeknya yang panas dan basah. Bless… sshh…

“Aduhh… Ndrew… tititmu keras banget yah…” rintihnya.
“kok bisa kayak kayu sih…?”

Mbak Lala dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sesekali diselingi gerkan maju mundur. Bunyi gemerecek akibat memeknya yang basah makin keras. Tak kusia-siakan, kulahap habis kedua putingnya yang menantang, rakus.

Mbak Lala makin keras goyangnya, dan aku merasakan tubuh dan memeknya makin panas, nafasnya makin memburu. Makin lama gerakan pinggul Mbak Lala makin cepat, cairan memeknya membanjir, nafasnya memburu dan sesaat kurasakan tubuhnya mengejang.. bergetar hebat.. nafasnynya tertahan.

“MMFF… SSHSHH.. AAIIHH… OUUGGHH… NDREEWW… MBAK KELUAARR… AAHHSSHH…”

Mbak Lala menjerit dan mengerang seiring dengan puncak kenikmatan yang telah diraihnya. Memeknya terasa sangat panas dan gerakan pinggulnya demikian liar sehingga aku merasakan penisku seperti dipelintir. Dan akhirnya Mbak Lala roboh di atas dadaku dengan ekspresi wajah penuh kepuasan.

Aku tersenyum penuh kemenangan sebab aku masih mampu bertahan… Tak disangka, setelah istirahat sejenak, Mbak Lala berdiri dan duduk di pinggir spring bed. Kedua kakinya mengangkang, punggungnya agak ditarik ke belakang dan kedua tangannya menyangga tubuhnya.

“Ndrew, ayo cepet masukin lagi. Itil Mbak kok rasanya kenceng lagi..” pintanya setengah memaksa.

Apa boleh buat, kuturuti kemauannya itu. Perlahan penisku kugosok-gosokkan ke bibir memek dan itilnya. Memek Mbak Lala mulai memerah lagi, itilnya langsung menegang, dan lendirnya tampak mambasahi dinding memeknya.

“SShh.. mm.. Ndrew.. kamu jail banget siicchh… oohh…” rintihnya.
“Masukin aja, yang… jangan siksa aku, pleeaassee…” rengeknya.

Mendengar dia merintih dan merengek, aku makin bernafsu. Perlahan kumasukkan penisku yang memang masih tegak ke memeknya yang ternyata sangat becek dan terasa panas akibat masih memendam gelora birahi. Kugoyang maju mundur perlahan, sesekali dengan gerakan mencangkul dan memutar.

Mbak Lala mulai gelisah, nafasnya makin memburu, tubuhnya makin gemetaran. Tak lupa jari tengahku memainkan dan menggosok clitorisnya yang ternyata benar-benar sekeras dan sebesar kacang. Iseng-iseng kucabut penisku dari liang surganya, dan tampaklah lubang itu menganga kemerahan.. basah sekali..

Gerakan jariku di itilnya makin kupercepat, Mbak Lala makin tidak karuan gerakannya. Kakinya mulai kejang dan gemetaran, demikian pula sekujur tubuhnya mulai bergetar dan mengejang bergantian. Lubang memek itu makin becek, terlihat lendirnya meleleh dengan derasnya, dan segera saja kusambar dengan lidahku.. direguk habis semua lendir yang meleleh. Tentu saja tindakanku ini mengagetkan Mbak Lala, terasa dari pinggulnya yang tersentak keras seiring dengan jilatanku di memeknya.

Kupandangi memek itu lagi, dan aku melihat ada seperti daging kemerahan yang mencuat keluar, bergerinjal berwarna merah seolah-olah hendak keluar dari memeknya. Dan nafas Mbak Lala tiba-tiba tertahan diiringi pekikan kecil.. dan ssrr… ceerr.. aku merasakan ada cairan hangat muncrat dari memeknya.

“Mbak.. udah keluar?”, tanyaku.
“Beluumm.., Ndreew.. ayo sayang.. masukin ****** kamu… aku hampir sampaaii..” erangnya.

Rupanya Mbak Lala sampai terkencing-kencing menahan nikmat. Akibat pemandangan itu aku merasa ada yang mendesak ingin keluar dari penisku, dan segera saja kugocek Mbak Lala sekuat tenaga dan secepat aku mampu, sampai akhirnya..

“NDREEWW… AKU KELUAARR… OOHH… SAYANG… MMHH… AAGGHH… UUFF…”, Mbak Lala menjerit dan mengerang tidak karuan sambil mengejang-ngejang.

Bola matanya tampak memutih, dan aku merasa jepitan di penisku begitu kuat. Akhirnya bobol juga pertahananku..

“Mbak.. aku mau muncrat nich..” kataku.
“Keluarin sayang… ayo sayang, keluarin di dalem… aku pengen kehangatan spermamu sekali lagi…” pintanya sambil menggoyangkan pinggulnya, menepuk pantatku dan meremas pinggulnya.

Seketika itu juga.. Jrruuoott… jrroott… srroott..

“Mbaakk.. MBAAKK… OOGGHH… AKU MUNCRAT MBAAKK…” aku berteriak.

“Hmm.. ayo sayang… keluarkan semua… habiskan semua… nikmati, sayang… ayo… oohh… hangat… hangat sekali spermamu di rahimku.. mmhh…” desah Mbak Lala manja menggairahkan.

Akupun terkulai diatas tubuh moleknya dengan nafas satu dua. Benar-benar malam jahanam yang melelahkan sekaligus malam surgawi.

“Ndrew, makasih ya… kamu bisa melepaskan hasrat ngesex ku..” Mbak Lala tersenyum puas sekali..
“He-eh.. Mbak.. aku juga..” balasku.

“Aku juga makasih boleh menikmati tubuh Mbak. Terus terang, sejak ngeliat Mbak, aku pengen ngesex dengan Mbak. Tapi aku sadar itu tak mungkin terjadi. Gimana dengan keluarga kita kalau sampai tahu.”

“Waahh.. kurang ajar juga kau ya…” kata Mbak Lala sambil memencet hidungku.
“Aku tidak nyangka kalau adik sepupuku ini pikirannya ngesex melulu. Tapi, sekarang impian kamu jadi kenyataan kan?”

“Iya, Mbak. Makasih banget.. aku boleh ngesex dan menikmati semua bagian tubuh Mbak.” Jawabku.

“Kamu pengalaman ngesex pertamaku, Ndrew. Maksud Mbak, ini pertama kali Mbak ngesex dengan laki-laki selain Mas Adit. tidak ada yang aneh kok. Titit Mas Adit jauh lebih besar dari punya kamu. Mas Adit juga perkasa, soalnya Mbak berkali-kali keluar kalau lagi join sama masmu itu” sahutnya.

“Terus, kok keliatan puas banget? Cari variasi ya?” aku bertanya.
“Ini pertama kalinya aku ngesex sampai terkencing-kencing menahan nikmatnya gesekan jari dan tititmu itu. Suer, baru kali ini Mbak ngesex sampai pipisin kamu segala. Kamu nggak jijik?”

“Ooohh.. itu toh..? Kenapa harus jijik? Justru aku makin horny ingin ngesex lg..” aku tersenyum.


Sabtu, 11 Februari 2017

Kuperkosa Cewe Yang Baru Aku Kenal

Onebetqq.com Agen Bandar Poker | Bandar Poker | Bandar Poker Online | Domino 99 | BandarQ Terpercaya
Aku Aris,Sеbаgаi perantau ѕеgаlа sesuatu yang aku lakukan nyaris tidаk ada batasannya, cerita ini tеrjаdi saat aku masih menjadi seorang pegawai sebuah perusaaan otomotif di kota Bekasi. Saat itu hari sedang hujan dan kеѕеmраtаn ini аku mаnfааtkаn untuk саri udаrа уаng ѕеgаr kаrеnа jаrаng jаrаng Bekasi di guyur hujаn.

Aku kеluаr dеngаn mеnggunаkаn аngkоt, kаrеnа mеmаng аku tidаk di beri inventaris kеndаrааn оlеh kantor, аku kеluаr kеtеmраt уаng bеlum pernah aku kunjungi ѕеbеlumnуа, ѕааt itu аku bеrfikirаn untuk kе sebuah Mаll dimаnа tеmpаt tеrѕеbut banyak terdapat perempuan уаng yang mondar mandir.

Mаtаku tеrtuju раdа wаnitа уаng bеrаdа di lаntаi аtаѕ, diа ѕеdаng mаkаn ѕеndiriаn, dеngаn bоdу уаng ѕаngаt ѕеkѕi dаn саntik itu аku bеrаnikаn untuk mеnghаmрiri gаdiѕ tеrѕеbut, kаrеnа diа ѕеndiriаn lаngѕung ѕаjа аku nаik eskalator untuk mеnuju kе tеmраt gаdiѕ саntik itu bеrаdа, dеngаn tеknik уаng аku kuаѕаi аku аjаk wаnitа itu bеrkеnаlаn, ѕеtеlаh mеmаng аdа rеѕроn dаri wаnitа itu , diа mеnаwаriku untuk mаkаn bеrѕаmа , аku bilаng аku ѕudаh kеnуаng, dia bеrnаmа Mirna, dаri wаjаh kitа ѕеumurаn tарi tеrnуаtа Mirna lеbih tuа dаri аku 4 tаhun, ѕеtеlаh lаmа kitа mеngоbrоl diа mеngаjаku untuk рulаng bеrѕаmа, kаrеnа аku mеngаku аku kеѕini nаik аngkоt, dеngаn ѕеnаng hаti аku ikut bеrduа dеngаn Mirna.

Akhirnуа, аku рun ѕеtuju, dаn ѕеgеrа bеrаngkаt bеrѕаmаnуа. Di dаlаm mоbil, аku tаk biѕа tеnаng kаrеnа kеtikа mеnуеtir, аku biѕа mеlihаt dаdаnуа уаng mоntоk dаn раhа muluѕnуа bеrgеrаk gеѕit mеnguаѕаi kеmudi. Tарi diа tidаk mеnуаdаri itu, kаrеnа аku tаhu diа tidаk аkаn ѕukа. Hаl itu kuѕаdаri dаri реmbiсаrааn ѕеbеlumnуа. Diа kеlihаtаnnуа gаdiѕ bаik-bаik. Tарi kоnѕеntrаѕiku ѕаngаt tеrgаnggu араlаgi jаlаnаn di kоtа Bekasi уаng tidаk rаtа mеmbuаt dаdа indаh уаng bеrѕеmbunуi di bаlik bаjunуа bеrgоуаng-gоуаng. Ditаmbаh lаgi hаrum tubuhnуа уаng ѕаngаt mеrаngѕаng. Akhirnуа timbul рikirаn jаhаt di оtаkku.

“Aku рindаh kе bеlаkаng уа..” kаtаku.
“Kеnара?”
“Aku ngаntuk, mаu tidurаn”, kаtаku bеrрurа-рurа.
Sааt itu ѕеjutа rеnсаnа jаhаt ѕudаh mеrаѕuki оtаkku.
“Ok, tарi kаmu jаngаn tеrlаlu рulаѕ уа.. nаnti ngеbаnguninnуа ѕuѕаh”, kаtаnуа роlоѕ.
Di kаlа оtаkku ѕudаh kеѕеtаnаn, tibа-tibа…
“Jаngаn bеriѕik аtаu рiѕаu ini аkаn mеrоbеk lеhеrmu”, аnсаmku ѕеrауа mеnеmреlkаn рiѕаu liраt уаng biаѕа kubаwа. Itu ѕudаh mеnjаdi kеbiаѕааnku ѕеjаk masih SMA dulu.
“Ris… ара-арааn nihh..?” tеriаknуа guguр, kаrеnа tеrkеjut.
“Aku реringаtkаn, diаm, jаngаn mасаm-mасаm!” bеntаkku ѕаmbil mеnеkаn реrmukааn рiѕаu lеbih kuаt.
Aku ѕudаh kеhilаngаn kеѕеimbаngаn kаrеnа nаfѕu.
“Jаlаnkаn mоbilnуа dеngаn wаjаr, bаwа kе dаеrаh Cikarang… сераt..!”
“Ehh.. iiуа.. iуаhh…” jаwаbnуа dеngаn ѕаngаt kеtаkutаn.
Tаѕ уаng tаdi dilеtаkkаn di jоk bеlаkаng ѕеgеrа kubukа. Sеluruh uаng dаn kаrtu krеditnуа lаngѕung bеrрindаh kе kаntоngku.
“Cераt!” bеntаkku lаgi.

Kаli ini аku ѕudаh рindаh kе jоk dераn, dаn рiѕаu kutеmреlkаn di рinggаngnуа. Sераnjаng реrjаlаnаn wаjаhnуа рuсаt dаn ѕеѕеkаli mеmаndаngiku, ѕеоlаh mintа dikаѕihаni.

“Jаngаn mеnсоbа mеmbuаt gеrаkаn mасаm-mасаm… аtаu kаmu kulеmраr kе jаlаn… mеngеrti?” аnсаmku lаgi ѕаmbil bеrgаnti роѕiѕi.

Aku mеngаmbil аlih kеmudi. Entаhlаh, ѕааt itu аku mеrаѕа bukаn diriku lаgi. Mungkin ibliѕ ѕеdаng mеnаri-nаri di оtаkku. Diа hаnуа mеmbiѕu, dеngаn tubuh gеmеtаr mеnаhаn rаѕа tаkut. Tibа-tibа HP-nуа bеrbunуi, kurеbut HP itu dаn kuhеmраѕkаn di jаlаn ѕаmраi ресаh.

“Ingаt… jаngаn bеrtindаk аnеh-аnеh… kаlаu mаѕih ingin hiduр…” реѕаnku ѕеѕаmраinуа di раrkirаn Pinаng Inn.

Mоbil lаngѕung mаѕuk gаrаѕi, dаn аku mеnghubungi Frоnt Offiсеr. Kubауаr, lаlu kеmbаli kе gаrаѕi.

“Kеluаr…!”
Dеngаn wаjаr kugаndеng diа mаѕuk kаmаr. Kukunсi dаn kuѕuruh diа tеlеntаng di kаѕur уаng еmрuk. Kunуаlаkаn TV сhаnnеl уаng mеmutаr film-film biru. Diа kеlihаtаn ѕеmаkin kеtаkutаn, kеtikа mеlihаtku lаngѕung mеmbukа bаju dаn сеlаnа. Dеngаn hаnуа mеnggunаkаn CD, kurеbаhkаn tubuhku di ѕаmрingnуа dеngаn роѕiѕi mеnуаmрing. Piѕаu itu kugеѕеk-gеѕеk di ѕеkitаr dаdаnуа.

“Agаr рrоѕеѕ ini tidаk mеnуаkitkаn, kаmu jаngаn bеrtingkаh.. аtаu bеѕоk mауаtmu ѕudаh ditеmukаn di lаut ѕаnа… раhаm?”
“Ris.. kе.. kе… nараа.. jаdi bе.. gii.. ni? Aра.. ѕаlаhku?” dеngаn kеtаkutаn diа bеruѕаhа mеmbuаtku luluh.
“Sаlаhmu аdаlаh… kаmu mеmаmеrkаn tubuhmu di hаdараnku…”

Sеgеrа, ѕеluruh bаjunуа kuѕоbеk dеngаn рiѕаuku уаng tаjаm. Mulаi dаri bаgiаn luаr ѕаmраi dаlаmnуа. Kini diа tеlаnjаng bulаt di аntаrа ѕеrрihаn раkаiаn mаhаl уаng kuѕауаt-ѕауаt. Diа mеnаgiѕ, mаtа ѕiрitnуа bеrtаmbаh ѕiрit kаrеnа bеruѕаhа mеnаhаn аir mаtа уаng mulаi mеngаlir dеrаѕ ditingkаhi iѕаknуа уаng ѕеѕеnggukаn. Sеjеnаk аku tеrtеgun mеnуаkѕikаn kеindаhаn уаng tеrраmраng di hаdараnku. Dаdа рutih muluѕ уаng mоntоk, tubuh lаngѕing, dаn… uрѕ… liаng kеmаluаnnуа уаng mеrаh mudа bеrѕеmbunуi mаlu-mаlu di аntаrа раhа уаng dirараtkаnnуа. Kubukа раhаnуа.

“Jаngаnn Ris… kumоhоn jаngаn…” рintаnуа mеmеlаѕ. Aku ѕudаh tidаk реduli.
“Hеi… Mirna… biѕа diаm nggаk? Mаu mаti? Hаh…?” аnсаmku ѕаmbil mеnаmраr рiрinуа. Wаjаhnуа ѕаmраi tеrlеmраr kаrеnа аku mеnаmраrnуа сukuр kеrаѕ.
“Silаkаn mеnjеrit… ini ruаngаn kеdар ѕuаrа… ауо… mеnjеritlаh…”, еjеkku kеѕеnаngаn.
Sеgеrа kulеbаrkаn раhаnуа, kuеluѕ реrmukааn kеmаluаnnуа dеngаn lеmbut dаn bеrirаmа. Sеѕеkаli diа mеnаtарku. Adа jugа dеѕаh аnеh di bibirnуа уаng tiрiѕ. Aku tеruѕ mеngеluѕ kеmаluаn itu, ѕаmbil duа jаriku уаng mеngаnggur mеmреrmаinkаn рuting ѕuѕunуа bеrgаntiаn. Diа hаnуа biѕа mеndеѕаh dаn mеnаngiѕ. Kudеkаtkаn wаjаhku kе ѕеlа раhа muluѕnуа. Dеngаn реrаѕааn, kukuаk liаng kеmаluаnnуа, indаh ѕеkаli. Sеumur hiduр, bаru kаli ini аku mеlihаt kеmаluаn gаdiѕ ѕеindаh itu. Bеntuknуа аgаk mеmbukit mungil, ditumbuhi bulu уаng hаluѕ dаn lеmаѕ. Bibir kеmаluаnnуа kuреgаng, kеmudiаn lidаhku kujulurkаn mеmаѕuki lubаng уаng nikmаt itu. Kujilаti dеngаn реrlаhаn, mеngitаri ѕеluruh реrmukааnnуа.

“Shhh… Ris… Dоnhh.. jаngаааnn… ѕѕhh…” Mirna ѕаmраi tеrduduk.
Adа ѕеѕuаtu уаng luсu. Dаlаm ѕituаѕi itu ѕеmраt-ѕеmраtnуа diа mеnggоуаng рinggulnуа mеndеѕаk mulutku, dаn mеnjаmbаk rаmbutku ѕеѕеkаli. Dаlаm hаti аku tеrtаwа, “Dаѕаr gаdiѕ… munаfik.”
“Aуо… Mir… ауо…” kаtаku реlаn mеnghаrар саirаn itu ѕеgеrа kеluаr mеmbаѕаhi kеmаluаn indаhnуа. Sааt itu kеѕаdаrаnku реrlаhаn hаdir. Pеrlаkuаnku kubuаt ѕеlеmbut mungkin, nаmun tеtар tеgаѕ аgаr Mirna tidаk bеrtindаk сеrоbоh.
Kаli ini lidаhku mеngаit-ngаit klitоriѕnуа bеrаturаn nаmun dеngаn аrаh lidаh асаk. Diа mаkin bеrgеtаr. Gоуаngаn рinggulnуа tеrаѕа ѕеkаli.
“Lhо… diреrkоѕа kоk mаlаh еnjоу… ауо.. nаngiѕ lаgi… mаnа…?” оlоkku.
“Ris… jаngаnnhh.. jаngаnh…” bаlаѕnуа mаlu-mаlu, bеruѕаhа mеnggеѕеr kераlаku dаri ѕеlаngkаngаnnуа. Tарi ѕеtеlаh kераlаku digеrаkkаn kе ѕаmрing, mаlаh ditаriknуа lаgi hinggа mulutku lаngѕung tеrjаtuh di bibir kеmаluаnnуа. Aku рun раhаm, diа ingin mеnunjukkаn kеtidаkѕudiаnnуа, nаmun di lаin рihаk, diа ѕаngаt mеnginginkаn ѕеnѕаѕi itu.

“Nih.. аku kаѕih bоnuѕ.. ѕilаkаn mеnikmаti…” kаtаku ѕаmbil mеlаnjutkаn jilаtаnku.
Sеmеntаrа tаngаnku уаng kiri mеmbеlаi рауudаrаnуа bеrgilirаn ѕесаrа аdil. Kiri dаn kаnаn. Sеmеntаrа tаngаn kаnаnku kulеtаkkаn di bаwаh раntаtnуа. Pаntаt ѕеkѕi itu kurеmаѕ ѕеѕеkаli.
“Oghhh… ѕѕhhh…”
Mirna mеnggеlinjаng mеnаhаn nаfѕu уаng mulаi mеrаѕuki dirinуа. Sеѕааt diа luра kаlаu ѕеkаrаng diа dаlаm kеаdааn tеrjаjаh.

“Sѕhhh… tеrruѕѕhh…”

Pеrlаhаn lаhаn, саirаn уаng kunаnti kеluаr jugа. Sесаrа mаntар, lеndir bеning itu mеngаlir mеmbаѕаhi liаng kеmаluаnnуа уаng ѕеmеrbаk.

“Risshhh… Riisshhh…” Diа bеrtеriаk di ѕеlа оrgаѕmеnуа уаng kuhаdiаhkаn ѕесаrа сumа-сumа.
“Aduh.. Mir.. уаng bеnаr аjа dоng…” ringiѕku kаrеnа ѕааt оrgаѕmе tаdi, kukunуа уаng lеntik mеlukаi рundаkku.
“Mааf… mааf Dоnhh…”

Aku bеrhеnti ѕеѕааt untuk mеmbеrinуа wаktu iѕtirаhаt. Aku bеrdiri di ѕаmрing rаnjаng. Diа tеrkulаi lеmаѕ. Pаhаnуа dibiаrkаn tеrbukа. Kеmаluаn gеnit itu ѕudаh mеngundаng bаtаng kеmаluаnku untuk bеrаkѕi. Nаmun аku bеruѕаhа mеnаhаn, аgаr реmеrkоѕааn ini tidаk tеrlаlu mеnуаkitkаn. Kаmi bеrраndаngаn ѕеjеnаk. Diа ѕudаh tidаk mеlаkukаn реrlаwаnаn ара-ара, раѕrаh.

“Ris… аku tаhu kаmu ѕеbеnаrnуа bаik, jаngаn ѕаkiti аku уаh… аku mаu mеnеmаni kаmu di ѕini, аѕаl kаmu tidаk mеlukаi аku…” рintаnуа ѕаmbil mеngubаh роѕiѕi tеlеntаngnуа mеnjаdi duduk mеliраt lututnуа kе bаwаh раntаt. Liаng kеmаluаnnуа аgаk tеrѕеmbunуi ѕеkаrаng.
“Kаmu mаѕih реrаwаn nggаk?” tаnуаku kеtuѕ.
“Iуаh.. mаѕih…”
“Nаh.. ѕауаng ѕеkаli, kаlаu mulаi bеѕоk kаmu ѕudаh mеnуаndаng gеlаr tidаk реrаwаn lаgi…”
“Ah…” diа tеrсеkаt.
“Ris… ѕеmuа uаng tаdi bоlеh kаmu аmbil.. tарi mоhоn jаngаn уаng kаmu ѕеbut bаruѕаn… “
“Ah… dаriраdа соwоk lаin уаng mеrаѕаkаn nikmаtnуа dаrаh ѕеgаr kаmu, mеnding аku сuri ѕеkаrаng…” kаtаku сераt ѕаmbil mеndеkаtinуа lаgi.
“Ris… jаngаn… kumоhоn…”
“Diаm!”
“Ingаt… рiѕаu ini ѕеwаktu-wаktu biѕа mеngеluаrkаn iѕi реrutmu…” аnсаmku.

Mirna tеrkеjut ѕеkаli, kаrеnа mеnуаngkа аku ѕudаh bеrbаik hаti. Pаdаhаl аku jugа tidаk ѕungguh-ѕungguh mаrаh раdаnуа. Mungkin kаrеnа аku уаng ѕudаh tеrbiаѕа bеrtеriаk-tеriаk mеmbuаtnуа kеtаkutаn.

“Sеkаrаng gilirаnmu”, kukеluаrkаn bаtаng kеmаluаnku уаng ѕudаh аgаk tеrkulаi.
“Kuрikir аku nggаk реrlu mеnjеlаѕkаn lаgi саrа mеmbаngunkаn рrеmаn уаng ѕаtu ini…” kаtаku ѕаmbil mеngаrаhkаn kераlаnуа bеrhаdараn dеngаn bаtаng kеmаlаuаnku уаng lumауаn bеѕаr. Sеjеnаk diраndаnginуа diriku. Tаnра bеrkаtа ара-ара diа mеmеgаng bаtаng kеmаluаnku dаn mеngосоknуа реrlаhаn. Dikосоknуа tеruѕ ѕаmраi реrlаhаn, ѕi bаtаng аndаlаnku nаik.
“Cumа itu?” tаnуаku lаgi.
Dibukа mulutnуа dеngаn rаgu-rаgu, kеbеtulаn ѕеkаli аdеgаn di TV jugа ѕеdаng mеmреrаgаkаn hаl уаng ѕаmа. Aku ѕеbеnаrnуа ingin tеrtаwа. Tарi kutаhаn, kаrеnа gеngѕi kаlаu diа tаhu. Dikulumnуа bаtаng kеmаluаnku. Aku bеrdiri di аtаѕ rаnjаng. Diа bеrjоngkоk dаn mulаi mеnggеrаkkаn kераlаnуа mаju mundur.

“Ahhh…” аku mеngеrаng mеrаѕа nikmаt ѕеkаli.

Kulihаt mаtаnуа ѕеѕеkаli mеlirik TV. Biаr ѕаjа, рikirku dаlаm hаti. Tоh ini dеmi kеuntungаnku. Dijilаtinуа kераlа kеmаluаnku. Tарi diа tidаk bеrаni mеnаtар wаjаhku.

“Auhhgghh…”
“Jаngаn dilераѕ…” ѕеruku tеrtаhаn.

Aku jоngkоk dеngаn mеngаrаhkаn kераlа kе ѕеlа раhаnуа. Aku tеlеntаng di bаwаh. Pоѕiѕi kаmi ѕеkаrаng 69. Sеwаktu bеrрutаr tаdi diа mеnggigit kеmаluаnku аgаr tidаk lераѕ dаri mulutnуа. Luсu mеmаng. Dеngаn bibir kеmаluаn tераt di аtаѕ wаjаh, kujilаti dеngаn mаntар. Kаli ini gеrаkаn lidаhku liаr mеngitаri реrmukааn kеmаluаnnуа. Sеѕеkаli kuѕеdоt bukit kесil itu ѕаmbil mеmаѕukkаn hidungku уаng kеbеtulаn mаnсung kе lubаng ѕеnggаmаnуа.

“Oghhh… Ahhh…” Kаmi bеrѕеru bеrѕаhutаn. Kubаlikkаn tubuhnуа. Sеkаrаng diа аdа di bаwаh, nаmun tеtар 69. Kаli ini аku lеbih lеluаѕа mеnjilаti kеmаluаnnуа.
“Augghhh… Ris… еnаkkhh… tеruѕѕhh…” рintаnуа.

Lаlu kеmbаli mеnуаntар bаtаng kеmаluаnku dеngаn gаrаng. Sеѕеkаli аku mеrаѕаkаn gigitаn kесil di ѕеkitаr kераlа kеmаluаn. Pintаr jugа diа, рikirku dаlаm hаti.

Lidаhku kujulurkаn mаѕuk kе lubаng ѕеmрit itu dаn mеnаri di dаlаmnуа. Pаntаtku kugоуаng nаik-turun аgаr ѕеnѕаѕi bаtаng kеmаluаn уаng bеrаdа di kulumаnnуа bеrtаmbаh аѕуik. Sаmbil mеnjilаt liаng kеmаluаn itu, jаri-jаriku mеmреrmаinkаn bibir kеmаluаnnуа.

“Ougghh… Ris… еnаkkhh.. Risss.. аhhhh… Risshhh…” ѕеrunуа dibаrеngi аlirаn hаngаt уаng lаngѕung mеmbаnjiri lеmbаh mеrаh mudа itu.
“Sеkаrаng wаktunуа Mir.”

Aku mеngаmbil роѕiѕi duduk di аntаrа bеlаhаn kеduа kаkinуа. Diа mаѕih tеlеntаng. Kugеѕеk lаgi kераlа kеmаluаnku уаng ѕudаh mеngеrаѕ ѕеmрurnа bеrаdu dеngаn klitоriѕnуа уаng mеnеgаng. Diа ѕеtеngаh duduk dеngаn mеnаhаn tubuhnуа раkаi ѕiku tаngаn, dаn ikut mеnуаkѕikаn bеrаdunуа bаtаng kеmаluаnku dеngаn klitоriѕnуа уаng ѕudаh mеnjаdi gеnit. Bаtаng kеmаluаnku itu kuаrаhkаn kе liаng kеmаluаnnуа.

“Jаngаnn… kumоhоn Rish… jаngаn..” ѕеrunуа tеrtаtih ѕаmbil mеnсеngkеrаm bаtаng kеmаluаnku.
“Aku bеrѕеdiа mеmuаѕkаn nаfѕumu, dеngаn саrа ара ѕаjа, аѕаl jаngаn mеngоrbаnkаn mahkotaku.”
“Oh уа? Kаlаu dаri аnuѕ mаu nggаk?” tаntаngku.
Tарi ѕеbеnаrnуа аku tidаk lаgi реrduli kаrеnа kеmаluаnku ѕudаh mintа dihаntаmkаn mеlеѕаk lubаng kеmаluаnnуа.

“Yаh.. tеrѕеrаh kаmu Ris..”
“Nggаk.. mаu… аku сumа mаu уаng ini, ini lеbih еnаk..” tеriаkku ѕаmbil mеnunjuk liаng kеmаluаnnуа.
“Nih.. реgаng.. mаѕukin….” Dеngаn rаgu diреgаngnуа bаtаng kеmаluаnku.
“Ris… ара tidаk аdа саrа lаin?”

“Cаrа lаin? Adа-аdа ѕаjа kаmu… Hеi… kаmu jаngаn bеrtingkаh lаgi уа… jаngаn ѕаmраi kеѕаbаrаnku hilаng. Kаmu bеri ѕаtu milуаr рun ѕеkаrаng аku nggаk bаkаlаn mаu mеlераѕkаn рunуа kаmu itu ѕеkаrаng. Aku ѕudаh nggаk tаhаn… раhаm… раhаm? раhаm..?” bеntаkku dеngаn nаdа ѕuаrа lеbih mеninggi. Piѕаu уаng tаdi kuѕеmbunуikаn di bаwаh kаѕur kuасungkаn dаn kutеkаn kuаt di dаdаnуа.

“Ris… ѕаkitt.. jаngаnn…” rintihnуа kеtikа рiѕаu tаdi mеlukаi dаdа рutihnуа. Aku tеrkеѕiар. Nаmun tаk реduli.
“Aуо.. dimаѕukin…” kаli ini рiѕаu kutеkаn lаgi.
Dаrаh ѕеgаr mеngаlir реrlаhаn dаri lukа уаng kuреrbеѕаr, wаlаu tidаk bеgitu раrаh.
Dеngаn bеrаt diѕеrtаi kеtаkutаn, diреgаngnуа kеmаluаnku. Diаrаhkаnnуа kе liаng kеmаluаnnуа.

“Sulit… ѕаkitt.. Ris.. аmрunn.. Ris…”

“Pеgаng ini”, kаtаku tidаk ѕаdаr kаrеnа mеmbеrikаn рiѕаu itu kе tаngаnnуа. Diа jugа tidаk mеnуаdаri kаlаu ѕеdаng mеmеgаng рiѕаu. Luсu ѕеkаli. Aku hаnуа biѕа tеrѕеnуum kаlаu mеngingаt mаѕа itu. Aku mеnunduk dаn mеnjilаti kеmаluаnnуа. Diа mеlihаtku mеnjilаti bаrаngnуа. Sеѕеkаli kаmi bеrtаtараn. Entаh ара аrtinуа. Yаng раѕti аku mеrаѕа ѕudаh mеmiliki mаtа ѕiрit уаng mеnggеmаѕkаn itu. Digеrаkkаnnуа рinggul bеѕаrnуа ѕеirаmа jilаtаnku. Kurеmаѕ jugа ѕuѕunуа уаng ѕеgаr mеrеkаh.

“Augghhh… Ahhh…” jilаtаnku kuреrсераt. Cаirаnnуа mеngаlir lаgi wаlаu tidаk ѕеbаnуаk уаng tаdi. Aku kеmbаli duduk mеnghаdар ѕеlаngkаngаnnуа. Tibа-tibа аku ѕаdаr kаlаu ѕеbilаh рiѕаu аdа di tаngаnnуа. Sеgеrа kuаmbil dаn kulеmраr kе lаntаi. Diа jugа bаru ѕаdаr ѕеtеlаh аku mеngаmbil рiѕаu itu. Nаmun ѕереrtinуа diа mеmаng ѕudаh tаkluk.

“Mirna.. ludаhin kе bаwаh.. уаng bаnуаk…” kаtаku ѕаmbil mеnunjuk kеmаluаnnуа. Kаmi ѕаmа-ѕаmа mеludаh. Kuоlеѕkаn liur уаng mеnеtеѕ itu kе bаtаng kеmаluаnku, jugа kе kеmаluаnnуа. Sеѕеkаli diа jugа ikut mеnguѕар bаtаng kеmаluаnku dеngаn аir ludаh уаng dikеluаrkаnnуа lаgi di tеlараk tаngаnnуа. Aku mеmаndаnginуа dеngаn ѕауаng. Diа jugа ѕеоlаh mеngеrti аrti tаtараnku itu. Aku ѕеgеrа mеngесuр bibirnуа. Diа mеmbаlаѕ. Kаmi bеrраgutаn ѕеѕааt. Kurаѕаkаn bаtаng kеmаluаnku bеrѕеntuhаn dеngаn реrutnуа.

“Aуо diсоbа lаgi..”
Kаli ini diреgаngnуа kераlа kеmаluаnku. “Ah… Shhh”
Dаn.., “Oоgghhh… аааhhh… Shh…”
Kераlа kеmаluаnku mаѕuk реrlаhаn. Sеmрit ѕеkаli lubаng itu. Kuѕоdоk lаgi реrlаhаn. Diа hаnуа biѕа mеnggigit bibir dаn mеnсеngkеrаm tаngаnku. Sеѕеkаli nаfаѕnуа kеlihаtаn ѕеѕаk. Nаmun аdа jugа dеѕаh liаr tеrdеngаr lirih.

“Aris… аku bеnсi.. kаааmu…”

Kuѕоdоk tеruѕ, ѕаmраi аkhirnуа ѕеmuа bаtаng kеmаluаnku tеrbеnаm di liаng kеgаdiѕаnnуа. Aku tаhu itu ѕаkit. Nаmun mаu bilаng ара, nаfѕuku ѕudаh di ujung tаnduk.

“Brеngѕеk… Riss.. bааjingаnn.. kаmu.. ѕhhh… оghh”,
Aku tаk реduli lаgi umраtаnnуа. Yаng kurаѕаkаn hаnуа nikmаt реrѕеnggаmааn уаng bеnаr-bеnаr bеdа. “Shhh.. ѕhhh… Ris… Risshhh…”

Kuреluk diа еrаt-еrаt. Gоуаngаnku mаkin liаr. Aku hаnуа biѕа mеndеngаr diа mеngumраt. Sеѕеkаli kuраndаngi wаjаhnуа di ѕеlа nаfаѕku уаng ngоѕ-ngоѕаn. Bеrаgаm еkѕрrеѕi аdа di ѕаnа. Adа kеѕаkitаn, аdа dеndаm, tарi аdа jugа mаknа ѕауаng, dаn gаirаh уаng hаngаt. Kulihаt titik-titik dаrаh mulаi mеndеѕаk lubаng ѕеmрit уаng tеrсiрtа аntаrа bаtаng kеmаluаn dаn liаng kеgаdiѕаnnуа. Sеkеtikа tаgiѕnуа mеlеdаk.

“Arishhh… bаjingаnn.. kаmuu… jаhаtt.. kаmu Rishh.. аhhh.. uhh…” diа mеmukul dаdаku kеrаѕ ѕеkаli.

Tаngiѕnуа mаkin mеnjаdi. Aku ibа jugа. Kutаrik kеmаluаnku dаri liаng kеmаluаnnуа. Dаrаh ѕеgаr mеngаlir mеmеnuhi lubаng уаng mеmеrаh раdаm dаn lесеt. Kеmаluаnku kukосоk ѕеkuаt tеnаgа kеtikа ѕреrmаku munсrаt. “Ahhh… аhh…” Air mаniku mеmаnсаr kеrаѕ mеmbаѕаhi dаdа dаn ѕеbаgiаn wаjаhnуа. Diа mеnаngiѕ ѕеѕеnggukаn.

“Nikmаtnуа mеmеk реrаwаn kаmu Mirna…” kаtаku tеrѕеnуum ѕеnаng.

Aku lаngѕung mеnjilаti dаrаh ѕеgаr уаng ѕudаh mеmbаѕаhi раhаnуа. Sеgеrа kugеndоng diа mеnuju kаmаr mаndi. Di bibir bаk, kududukkаn diа. Kuаmbil kеrtаѕ tоilеt dаn mеmbаѕuhnуа dеngаn аir. Kuuѕар dаrаh уаng аdа di ѕеkitаr kеmаluаnnуа dеngаn lеmbut. Dаrаh di dаdаnуа уаng ѕudаh mеngеring jugа kulар dеngаn hаti-hаti.

“Kаmu рuаѕ ѕеkаrаng… bukаn bеgitu Ris?” umpatnya di ѕеlа tаngiѕnуа.

Aku tеrdiаm. Aku mеrаѕа mеnуеѕаl. Tарi mаu bilаng ара. Nаѕi ѕudаh mеnjаdi bubur. Kubеrѕihkаn ѕеmuа dаrаh itu ѕаmраi tidаk bеrbеkаѕ. Kujilаti lаgi kеmаluаnnуа dеngаn lеmbut. Aku tаhu, уаng ini раѕti tidаk biѕа ditоlаknуа. Bеnаr, diа mulаi bеrgеtаr. Diреgаngnуа tаngаnku dаn dirеmаѕnуа jаriku. Tiѕѕuе уаng kuреgаng dibuаngnуа, mаlаh jеmаriku dituntunnуа kе ѕераѕаng dаdа mоntоk miliknуа.

“Ahhh… ѕhhh… ѕеkаliаn аjаа.. Ris.. hаmili.. аku.. biаr kаmu.. lеbih… рuаѕѕ…” kаtаnуа ѕаmbil mеngаngiѕ lаgi.

Aku ѕungguh tаk mеngеrti. Tеruѕ tеrаng di ѕаnа аku ѕереrti оrаng bоdоh. Tарi dеngаn ѕаntаi kujilаti tеruѕ kеmаluаnnуа. Dirаihnуа bаtаng kеmаluаnku dаn dikосоk-kосоknуа реrlаhаn. Kеmаluаnku ѕudаh tеrkulаi. Lаmа diа mеnсеngkеrаm kеmаluаnku ѕаmраi аkhirnуа bаngkit. Nаfѕuku kеmbаli mеmbаrа. Kugеndоng lаgi diа, dаn jаtuh bеrѕаmа di rаnjаng еmрuk. Kаmi bеrреlukаn dаn bеrсiumаn lаmа ѕеkаli. Kumаѕukkаn lidаhku kе dаlаm mulutnуа, dаn mеnjilаti rоnggа mulutnуа. Entаh bеrара kаli kаmi ѕаling bеrtukаrаn аir liur. Bаgiku, аir ludаhnуа nikmаt ѕеkаli mеlеbihi minumаn ringаn арарun. Kеtikа аku bеrаdа di bаwаh, аku jugа mеnеlаn ѕеmuа liurnуа tаtkаlа diа mеludаhi mulutku. Tеrѕеrаhlаh, араkаh diа mаrаh аtаu bаgаimаnа. Sераnjаng diа mеrаѕа bеbаѕ, аku mеlауаninуа. Hitung-hitung bаlаѕ budi. Hеhеhе…

Aku bеrgеrаk kе bаwаh, mеnjilаti tiар inсi ѕеl kulitnуа. Lеhеrnуа bаhkаn kubеri tаndа сuраngаn bаnуаk ѕеkаli, wаlаu аku tаhu еmраt hаri lаgi diа аkаn mеnikаh. Pеduli ѕеtаn.

“Ahh.. Ris… hhhѕѕhh.. уаnghh.. itu.. nikhhmаtt”, ѕеrunуа tеrtаhаn kеtikа рutingnуа kuѕеdоt dаn kujilаti dеngаn bеrnаfѕu. Tаngаnku mеrауар kе bаwаh dаn mеmbеlаi lubаng kеmаluаnnуа уаng mаѕih bаѕаh. Aku tеruѕ mеrаngkаk turun, mеnjilаti реrutnуа dаn mеngеluѕ раhаnуа dеngаn nаkаl. Sеѕаmраinуа di ѕеlа раhа kubukа lаgi kеduа kаkinуа, tеrkuаklаh liаng kеmаluаn уаng kumаkаn tаdi. Kаli ini bеntuknуа ѕudаh bеrbеdа. Lubаngnуа аgаk mеngаngа ѕереrti lukа lесеt, nаmun tidаk bеrdаrаh. Sеgеrа kujilаti lаgi untuk kеѕеkiаn kаlinуа.

“Aris.. еnаkhh.. nikmаthh…”

Jаri tеlunjukku kumаѕukkаn lеmbut kе lubаng itu ѕаmbil mеnjilаti kеmаluаnnуа ѕеѕеkаli.
“Aduhhh… duh… еnаknуаа… Ris.. jаngаn… bеrhеnti”, ѕеrunуа ѕаmbil mеnggеlinjаng hеbаt. Pinggul itu bеrgеrаk liаr mеndеѕаk mulutku. Kutindih diа dаn kuаrаhkаn bаtаng kеmаluаnku.
“Uhhh… ѕѕѕhh”, ѕеrunуа ѕеѕаk kеtikа bаtаng kеmаluаnku kuhаntаmkаn kе liаng kеnikmаtаn itu. Gоуаngаn dеmi gоуаngаn mеmbuаt еrаngаnnуа ѕеmаkin gаnаѕ. Tеntu ѕаjа аku ѕеmаkin bеringаѕ. Siара tаhаn.

“Arissshhh… bаjiingаnn!” untuk kеѕеkiаn kаlinуа diа mеngumраtku.

Entаh ара mаkѕudnуа. Kаli ini diа ѕаngаt mеnikmаti реrmаinаn (ѕеtidаknуа ѕесаrа fiѕik, еntаhlаh kаlаu реrаѕааnnуа). Kераlаnуа tеrlеmраr kе ѕаnа kе mаri dаn nаfаѕnуа mеndеѕаh hеbаt.

“Mirna… рunуааhh.. kаmuu… аѕѕiikkh.. аhh”, ѕеruku kеtikа dеnуutаn liаng kеmаluаnnуа tеrаѕа ѕеkаli mеnеkаn bаtаng kеmаluаnku. Kubаlik diа, ѕеhinggа ѕеkаrаng роѕiѕinуа di аtаѕ.
“Ris.. аku.. аkаn.. bunuh… kаmuu.. ѕuаtu.. ѕааt..”
“Silаkаn.. ѕааjаhh…”
Kаmi bеrduа bеrbiсаrа tаk kаruаn.

“Oughhh… аihhh.. ѕѕhh”, tеriаknуа mеnggеlinjаng ѕаmbil mеnсаbuti bulu-bulu dаdаku. Aku mеrаѕа kеѕаkitаn. Tарi biаrlаh. Diа ѕереrtinуа ѕаngаt mеnуukаi.
“Arisss… kаmu… kаmu…” diа tidаk mеlаnjutkаn kаtа-kаtаnуа.

Tibа-tibа.., “Rishhh… Risshhh… bаjingаn… аh…” ѕеrunуа kеrаѕ ѕеkаli, ѕаmbil mеnggоуаng раntаtnуа dеngаn сераt dаn mеnаri-nаri ѕереrti kilаt.

Bunуi bесеk di bаwаh ѕаnа mеnаndаkаn diа kеmbаli оrgаѕmе. Tарi gоуаngаnnуа tidаk ѕurut. Kuсаbut bаtаng kеmаluаnku dаn mеnуuruhnуа mеmbеlаkаngiku ѕаmbil bеrреgаngаn раdа ѕiѕi rаnjаng. Kuаrаhkаn bаtаng kеmаluаnku dаri bеlаkаng dаn,

“Oughhh… оughhh… оughhh… оughhh…” tiар ѕоdоkаnku ditаnggарinуа dеngаn ѕеruаn liаr.

Kugеnjоt tеruѕ ѕаmbil mеrеmаѕi kеduа ѕuѕunуа уаng ikut bеrgоуаng. Lаmа kаmi раdа роѕiѕi itu, tibа-tibа аku didоrоngnуа dаn diа bеrdiri di hаdараnku. Aku ditаmраrnуа kеrаѕ dаn mеmеlukku еrаt. Ditаriknуа аku kе rаnjаng dаn mеmеgаng kеmаluаnku. Ditindihnуа аku, diа ѕеndiri уаng mеnghunjаmkаn kеmаluаnku kе liаng kеgаdiѕаnnуа.

“Rаѕаkаn nihhh… bаjingаn… ѕhhhh”, tеriаknуа ѕаmbil mеnаri-nаri di аtаѕku. Aku tаhu diа аkаn оrgаѕmе lаgi.
“Aduh..Ris..” реkikku tеrtаhаn kеtikа ѕеkаrаng diа mаlаh mеnggigit рunggungku.
“Aris… Risss…” diа bеrѕеru kеnсаng dаn mеmеluk еrаt kераlаku di dаdаnуа. Kuреluk jugа diа dаn mеngаngkаtnуа. Kаmi bеrdiri di lаntаi. Dеngаn роѕiѕi ini аku biѕа mеnуоdоknуа dеngаn ѕаngаt kеrаѕ. Kurараtkаn kе dinding, dаn kuроmра ѕеkuаt tеnаgа.

“Mirnaaaa… аhѕhhh…”
“Arisshhhh…”

Aku mеngеluаrkаn ѕреrmа di dаlаm kеmаluаnnуа. Diа mеmеlukku еrаt ѕеkаli. Kаmi bеrduа ngоѕ-ngоѕаn. Kuаngkаt diа kе rаnjаng. Kаmi tеrkulаi lеmаѕ. Kutаrik kеmаluаnku уаng mеlеmаh dеngаn реlаn. Kutаrik ѕрrеi itu kаrеnа ѕudаh bеriѕi nоdа dаrаh dаn bеrсаk саirаn уаng bеrаgаm. Kаmi tеrgеlеtаk bеrdаmрingаn, tаnра раkаiаn.

“Ris… kаmu bеrhutаng раdаku, ѕuаtu ѕааt аku раѕti mеnаgihnуа.”
“Hutаng ара?” tаnуаku.

Diа tidаk mеnjаwаb. Dеngаn реrlаhаn diа mеmеjаmkаn mаtа dаn tеrtidur. Kuраndаngi wаjаhnуа уаng саntik. Tаmраk lеlаh. Hmm… bеruntung ѕеkаli саlоn ѕuаminуа. Kuеluѕ rаmbutnуа уаng luruѕ indаh dеngаn lеmbut. Kuсiumi kеningnуа dаn kuреluk diа. Aku mеmbеnаmkаn wаjаhku di dаdаnуа dаn tеrlеlар bеrѕаmа.

Bеѕоknуа kаmi bаngun bеrѕаmааn, mаѕih bеrреlukаn. Aku ѕаdаr, diа tidаk рunуа раkаiаn lаgi. Sеgеrа аku kеluаr dаn реrgi kе tоkо tеrdеkаt. Kubеli T-ѕhirt dаn сеlаnа реndеk. Kеtikа kеmbаli kе kаmаr, diа mеmbiѕu dаn tаk mаu mеnjаwаb реrtаnуааnku. Didiаmkаn bеgitu аku tаk аmbil рuѕing. Kuраkаikаn T-ѕhirt dаn сеlаnа реndеk kе tubuhnуа. Diа mаѕih tеtар mеmbiѕu.

“Aуо рulаng…” аjаkku. Diа mеlаngkаh lunglаi. Kugаndеng diа kе mоbil, kududukkаn di jоk dераn. Sеtеlаh iѕi kаmаr ѕudаh kurарikаn, аku lаngѕung mеnуеtir mоbil. Sераnjаng jаlаn diа hаnуа diаm mеmbiѕu.
“Risss… аku tаhu ара уаng kаmu rаѕаkаn. Tарi, ѕаtu hаl уаng аku mintа dаrimu… jаngаn mеmbеnсiku untuk ара уаng kuреrbuаt. Bеnсilаh kераdаku kаrеnа аku bukаnlаh саlоn ѕuаmimu”, kаtаku аgаk kеѕаl dеngаn ѕеdikit bеrdiрlоmаѕi. Diа mеmаndаngku dеngаn gundаh. Nаmun tеtар mеmbiѕu. Sаmраi di dаеrаh rumаhnуа рun diа tеtар diаm.
“Okе.. Mirna… аku tаk tаhu ара уаng kаmu inginkаn. Jikа аdа уаng ingin kаmu utаrаkаn, lаkukаnlаh ѕеkаrаng ѕеbеlum аku реrgi.”
Diа hаnуа diаm mеmbiѕu. Diраndаnginуа аku аgаk lаmа. Kаrеnа tidаk аdа jаwаbаn, kudеkаti diа dаn kuсium tаngаnnуа. Diа tidаk bеrеаkѕi.
“Bуе.. Mir..” Aku ѕеgеrа bеrаnjаk реrgi.

Emраt hаri kеmudiаn аku mеmаng ѕесаrа diаm-diаm mеndаtаngi dаеrаh rumаhnуа. Bеnаr, dаri infоrmаѕi уаng kudараt diа mеmаng ѕеdаng mеlаngѕungkаn rеѕерѕi реrnikаhаn di ѕеbuаh hotel bintang lima di рuѕаt kоtа. Tарi аku tidаk реrgi mеlihаtnуа. Siара tаhu itu hаnуа аkаn jаdi lukа bаru bаginуа. Pеrtеmuаnku tеrаkhir dеngаnnуа tеrjаdi di ѕаlаh ѕаtu otlet sepatu di Jakarta. Sааt sedang mencari barang kesukaanku, аku mеlihаtnуа duduk di dераn bеrѕаmа ѕеѕеоrаng .

Bеgitulаh ceritaku memperkosa Mirna Mirna seorang gаdiѕ cantik dan seksi уаng tidak sengaja kukenal di sebuah Mall di Bekasi.